Link Download

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Cak Nun dan Pancasila



 Emha Ainun Najib atau Cak Nun mengatakan sila pertama Pancasila, yang menjadi dasar NKRI tidak layak bagi ummat beragama. Menurutnya, redaksi 'ketuhanan' itu bukanlah ajaran yang mengajarkan untuk taat kepada Tuhan tetapi kepada sifatNya saja.
 Dia menjelaskan, ketuhanan yang diajarkan Pancasila sama seperti sifat kepanasan, tetapi tidak menawarkan api. Dan sama seperti manisnya saja tetapi tidak menawarkan gula. Kesimpulan dia, Pancasila itu bukan menawarkan Tuhan tetapi sifatnya saja.
 Pernyataan Cak Nun ini membingungkan. Sebab pernyataan demikian, secara logika menuntut zat. Jadi kalau zat yang dia tuntut, bagaimana yang seharusnya bila Zat Tuhan yang dituntut?
 Bila menuntut ZatNya, berarti menuntut WujudNya. Bila WujudNya yang diaktualisasikan, maka menuscayakan kesirnaan wujud-wujud lain termasuk wujud manusia. Sebab mustahil Wujud yang tak terbatas bersanding dengan wujud terbatas karena meniscayakan yang tak terbatas menjadi terbatas.
 Pernyataan Cak Nun tentu saja berkonsekuensi pada kehadiran Wujud tak terbatas dan melenyapkan wujud-wujud lainnya. Sehingga manusia tidak memiliki wujud sama sekali. Manusia hanya boleh melaksanakan apapun yang menyatakan eksistensi diri. Hal ini berarti manusia harus mengaktualisasikan segala amal Tuhan. Tidak melempar kecuali Tuhan yang melempar. Tuhan menjadi tangan, kaki dan segala anggotanya sebab kedirian manusia harus lenyap.
 Hanya begini saja cara menafsirkan maksud Cak Nun. Dan cara ini berarti adalah mengaktualisasi segala Sifat Tuhan. Dengan demikian, redaksi 'Ketuhanan' tidak keliru. Karena segala amal yang dilakukan manusia adalah amal Tuhan Yang Maha Esa. Rupanya hanya terjadi perbedaan redaksi saja.
 Jadi kritik Cak Nun adalah kritik sindiran. Dan biasanya beginilah cara dia menggugah orang-orang.
 Wallahu'alam.

Jumat, 06 Maret 2015

Acehnologi KBA

Acehnologi adalah studi yang dibutuhkan oleh siapapun yang ingin meneliti tentang apapun yang berkaitan dengan Aceh. Seseorang akan merasakan kekurangan dalam kajiannya tentang Aceh bila tiada melihat dalam perspektif Acehnologi. 
Kajian tentang pemikiran tentang tokoh yang berkaitan dengan Aceh akan tampak seperti simsalabin tanpa melakukannya dalam perspekti Acehnologi. Betapa tidak, suatu gagasan yang muncul pasti tidak lepas dari latarbelakang sosiokultural masyarakatnya.
Setiap masyarakat memiliki watak dan pola pikir yang unik. Inilah bagian dari alasan KBA menawarkan supaya Acehnologi "dipatenkan " sebagai sebuah disiplin keilmuan tersendiri. Hal ini dianggap penting karena masyarakat Aceh memiliki watak dan pola pikir spesifik di antara masyarakat Melayu, apalagi Asia Tenggara. Sekarang ini, kajian tentang Aceh selalu digenaralkan sebagai kajian tentang masyarakat Melayu. Para ilmuan menggunakan pola studi karakter dan polapiki kemelayuan dalam mengkaji Aceh. Pola tersebut dianggap oleh KBA kurang tepat. Setiap kajian tentang dunia Melayu dan Asia Tenggara, terutama tentang tema sufistik dan kesustraan, Aceh diakui sebagai pelopor. Hal ini menjadi alasan lain KBA menawarkan Acehnologi. Dia berargumentasi, beberap studi tentang masyarakat Asia Tenggara sering dimulai dari studi tentangbkelompok kelompok kecil suatu masyarakat lalu digeneralisir. Kalau Aceh adalah pendahulu bagi banyak aspek sosiokultur dan keilmuan Melayu dan Asia Tenggara, maka Acehnologi adalah sebuah disiplin wajib bagi peneliti dunia Melayu dan Asia Tenggara.

Sabtu, 30 Juni 2012

Kebablasan Pers

Kebebasan pers memang diperlukan. Tapi yang tampak pada kita hari ini adalah kebablasan pers. Negara punya suatu otoritas yang perlu menjamin eksistensinya dalam menjaga rakyatnya. Rakyat memang perlu informasi yang tepat dan akurat, tapi bila kebebasan pers justru menjadi sarana provokasi masyarakat ini justru merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.
Kalau saja Karl Marx masih hidup, dia... akan menambahkan jurnalisme atau media massa sebagai penopang kapitalisme di samping hukum dan politik. Ya, informasi memang telah menjadi sarana ampuh untuk menopang pundi-pundi harta yang dimiliki segelintir orang di negara ini. Mereka memiliki sarana penunjang baru untuk terus memperbanyak pundi-pundi uang mereka.
Suara-suara mereka bukanlah suara rakyat. Suara-suara media massa adalah suara uang, suara kekayaan, suara hasrat menguasai. Rakyat sendiri tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersuara. Kalaupun ada ruang untuk rakyat bersuaram maka itu hanya diapresiasi sejauh kepentingan besar mereka itu mendapat keuntungan.
Melalui media mereka melakan provokasi sesuka hati. Bayangkan bila beberapa orang ini bersepakat untuk merekayasa sesuatu dan menampilkannya sebagai kebenaran, maka seluruh masyarakat akan teroengaruh oleh provokasi itu. Apa mungkin mereka bersepakat? Tentunya mereka akan bersepakat dan sedang bekerja sama. Mereka tidak akan saling menjatuhkan satu sama lain. Mereka punya tujuan dan cita-cita yang sama: kapital.
Kebebasan yang diperjuangkan rakyat mereka manfaatkan untuk mengibuli rakyat sendiri. Mereka selalu membawa nama rakyat untuk kepentungan sendiri. Mereka bukan bertujuan untuk menjadi penyambung lidah rakyat, mereka adalah mulut besar yang menyumbat telinga nurani rakyat dengan jeritan-jeritan kapital mereka.

Jumat, 11 Mei 2012

Syiah, Wahabi: Rumah Indonesia


Perdebatan Sunni Syiah juga adalah metamarfosis daripada perdabatan teolog dan filsuf. Bagi masyarakat Indonesia, karakter keberagamaan teologis memang lebih disukai sebab tradisi masyarakat kita adalah perbudakan dan pentaklidan. Karakter masyarakat Indonesia sejak dulu memang sukanya pada hal-hal yang bersifat praktis. Oleh sebab itu, gaya filosofis memang cenderung ditinggalkan. Penolakan terhadap syiah oleh masyarakat Indonesia secara empiris berangkat dari pencitraan-pencitraan yang buruk atas syiah melalui berbagai media. Tetapi secara apriori, masyarakat kita memang tidak menyukai hal-hal yang bersifat rasional seperti tradisi filsafat yang berkembang di dalam masyarakat syiah.
     Saya ingin menegaskan kembali bahwa syiah yang berkembang di Nusantara oleh pribumi yang semakin menggeliat ini tidaklah sama dengan syiah yang kita kenal buruk citranya. Masyarakat Indonesia bisa mengadopsi tradisi intelektual dan rasional yang memang menjadi ciri syiah. Aceh dapat dijadikan contoh daripada jejak waris daripada Muslim Persia yang memang gaya beragama dan kebudayaan nya bercirikan ''Syaiah''. Tapi istilah 'Syiah' barulah belakangan dipopulerkan.
    Bila ditinjau dari kesukuan, syiah memang mudah diterima masyarakat Iran yang memang sudah punya karakter rasional-intelektual sejak zaman kuno. Zarathusta yang sangat terkenal itu dapat dijadikan perwakilan dari sejarah ini.
    Karakter Persian ini berbeda jauh dengan karakter masyarakat Arab yang cenderung menyukai hal praktis dan pragmatis. Karakter bawaan seperti ini yang membuat mereka gemar menjadi pedagang. karakter demikian juga secara bawah sadar membentuk cara masyarakat Arab dalam beragama. Kita dapat mengambil contoh kecil perbandingan antara Umar dengan Salman. Untuk menemukan agama Islam, Umar cukup dengan satu irama nyanyian, sementara Salman harus melalui proses petualangan, kontemplasi serta pengorbanan. Pengorbanan ini dia lakukan supaya dia dapat membuktikan sendiri Kebenaran itu tanpa melalui estimasi tetapi melalui rasionalitas dan empiris. Karakter orang Persia memang tidak begitu saja menerima sesuatu kecuali rasional dan dapat diuji.
    Pribumi Nusantara yang menganut karakter lembut dan praktis tidak suka dengan hal-hal yang memeras energi untuk banyak berfikir. Taklid dan dogmatik memang sudah lumrah di sini. Sikap seperti ini menjadikan Nusantara kita menjadi komunitas paling unik di seluruh dunia.
    Hal-hal yang menjadi pertentangan, perdebatan dan bahkan pertentangan yang sampai menimbulkan pertumpahan darah bagi bangsa lain, menjadi hal biasa, dan bahkan dipersandingkan bersama di sini. Bayangkan, ketegangan antara filsuf dan mutakallim yang melahirkan dendam kesumat di negeri orang, di negeri kita tidak dianggap hal besar. Kitab  'Bidayatul Mujtahid' dan 'Ihya' Ulumuddin' dijadikan pedoman secara persama di lembaga pendidikan kita, dikaji dan dipelajari secara bersamaan. Padahal di negeri orang sana, pecinta Al-Ghazali membakar kitab-kitab karya filsuf dan sebaliknya.
    Pengalaman serupa pernah juga terjadi di Nusantara kita. Kitab-kitab Hamzah Fansury banyak dibakar atau dimusnahkan. Tetapi hal ini lebih diakibatkan karena hasrat kekuasaan seorang provokator asing bernama Nuruddin Arraniry. Padahal, di tengah masyarakat saat itu, iklim filosofis jauh lebih mengakar dan berkembang. Salah satu alasannya karena di Aceh Darussalam, spirit Persia masih tetap ada, bahkan hingga kini.
       Saya kira kita tidak perlu terlalu reaksioner terhadap Syiah dan Wahabi atau aliran-aliran lain yang berkembang di tengah masyarakat kita. Semua mazhab, semua aliran pastinya akan berproses, berasimilasi dengan Kebudayaan kita sehingga secara perlahan semua aliran itu dapat bersanding, bersama saling menguatkan sebagai Rumah Indonesia Raya.

Selasa, 01 Mei 2012

Syiah, Wahabi: Menjaga Indonesia


Kalangan muslim Indonesia belakangan gencar melakukan ta'lim dan bentuk-bentuk kajian lain membahas sifat buruk aliran Islam Syiah. Berbagai video, artikel dan data-data lain yang menyudutkan Syia'ah gencar dilakukan sekalipun pertanggungjawaban akan data-data itu lemah dan cenderung provokatif. Kaum Muslim Indonesia sedang dan akan semakin menderita Syiah-phobia yang saya kira malah merugikan kita sendiri, merugikan Indonesia kita.
   Kalangan pendakwah atau pembicara sosialisasi anti Syiah memang tidak lupa menyelipkan kalimat ''Tidak semua Syiah itu berbahaya'' atau ''Tidak semua Syiah itu radikal''. Tapi kalimat ini tidak dijelaskan lebih terperinci sehingga para jamaah hanya bisa mengaku: Syiah itu memang sesat.
   Beberapa argumen utama yang menyudutkan Syi'ah antara lain (1) menuduh mereka identik dengan Yahudi; (2) menjadi sekutu Barat, (3) tradisi menyiksa diri dan anak kecil sampai berdarah diakui ''provokator'' Sunni sebagai cara mewariskan dendam pada Sunni tentang Peristiwa Karbala, dan; (5) menghina Sahabat Nabi Saw. seperti Umar, Usman dan Abu Bakar (radi Allahu anhum). Kata mereka, tiga sahabat itu merampas kursi kedudukan Ali ra. Sebagai Khalifah.
   Provokasi-provokasi itu sudah saatnya ditengarai oleh Negara (pemerintah) bila tidak ingin terjadi perpecahan di Bumi Nusantara. Kita perlu tahu bahwa bahwa 'Syiah' membonceng  kepentingan Persia. Jadi persoalan ini bukan masalah keagamaan seperti yang kita kira. Lagi pula, ajaran-ajaran yang nyeleneh dalam aliran Syiah tidak diamini mayoritas kalangan Syiah sendiri. Konon, sama seperti ajaran Sunni, ajaran Syiah juga terpecah menjadi banyak golongan dan beberapa diantaranya memang jauh menyimpang dari Al-Qur'an dan Hadits.

Kita perlu tahu bahwa di Timur Tengah sejak dulu dihuni empat suku yakni Persia, Arab, Turki dan Bani Israil. Sejak dulu pula konfik antar suku ini terus berlangsung. Sangat sering mereka melibatkan agama dalam persoalan ini.
   Kita musti ingat bahwa Bangsa Persia tidak pernah ditaklukkan oleh bangsa manapun, hatta Alexandre The Great sekalipun. Tapi mereka takluk oleh Umar Bin Khattab. Inilah yang membuat Persia marah pada Umar yang bangsa Arab; yang memang Persia tidak pernah suka pada Arab, yang memang satu sama lain keempat suku itu tidak saling menyukai dan saling memusuhi.
   Kita juga perlu ingat bahwa runtuhnya kekhalifahan Islam terakhir, Usmani (Ottaman Empire) adalah berkan konspirasi Barat dengan bangsa Arab. Lebih jauh ke belakang, Bani Israil dendan pada Bangsa Arab yang pernah memperbudak mereka zaman Fir'aun.
   ''Provokator'' mengatakan Iran banyak memberi kontribusi pada AS untuk menaklukkan Irak dan Afghanistan. Alasan karena di Irak dan Afghanistan ramai orang Syi'ah adalah pembenaran mereka. Kita tahu bahwa Turki sangat banyak membantu AS dalam memerangi Irak, termasuk menyediakan landasan peralatan militer, penempatan prajurit dan lokasi penyerangan. Arab Saudi malah menyediakan pangkalan militer buat AS hingga hari ini. Negara-negara dan konglomerat Arab banyak menabung uang mereka di negara-negara Barat. Dari mana lagi bahan bakar mesin-mesin perang Barat dan Israel kalau bukan negara-negara Arab.
     Kenapa kita lupa bahwa hingga hari ini Iran masih terus sudi memberi makan orang Palestina yang terus dilanda perang. Orang Indonesia harus berhenti berbicara aliran Sunni-Syiah. Kita tidak boleh terseret oleh fanatisme Timur Tengah. Bangsa kita tidak seperti mereka, kita tidak memelihara chauvanisme seperti mereka. Jawa, Sunda, Minang dan Dayak dal lainnya dapat hidup berdampingan tanpa dendam dalam Rumah Indonesia. Tapi Arab, Persia dan Turki tidak bisa hidup bersama dalam Rumah Islam. Ini bukti betapa sombongnya bangsa-bangsa Timur tengah.
    Mari berhenti memprovokasi rakyat Indonesia. Manusia Nusantara adalah manusia yang lembut, toleran, tidak fanatik apalagi fanatisme kesukuan. Mari terus hidup damai dalam Rumah Indonesia; berhenti melibatkan diri ''kekeraskepalaan'' bangsa Timur Tengah yang jauh itu. Mari berhenti berbicara 'Syiah', 'Wahabi' dan lainnya, mari selamatkan Nusantara, mari menjaga Indonesia.  

Sabtu, 04 Juni 2011

Reinterpretasi Pancasila dan Reposisi Islam

Segala potensi manusia adalah manifestasi Tuhan yang Maha Mengetahui dan Maha Pencipta. Sifat Tuhan yang pertama itu ditemukan manusia dalam bentuk bahasa. Bahasa adalah sarana komunikasi. Sarana komunikasi melalui puisi adalah manifestasi tertinggi dari kecerdasan manusia di bidang bahasa. Masa selanjutnya dirasa puisi terlalu simbolis sehingga perlu dijabarkan. Maka dijabarkanlah dia secara filosofis. Selanjutnya filsafat itu dirasakan terlalu subjektif sehingga perlu dirumuskan kesepakatan bersama. Maka lahirlah disiplin ilmiah.

Manifestasi Tuhan yang Maha Pencipta ke dalam diri manusia menjadikannya mampu menghasilkan karya dalam wujud fisik. Sebab itulah pada masa lalu manusia menghasilkan seni ukir yang luar biasa. Hasrat akan karya terus mengalami perkembangan dan modivikasi sehingga manusia mampu menghasilkan kapal, mobil, pesawat, tv, ponsel dan lainnya.

Pada masa lalu, manusia menyembah karyanya sendiri yang disebut berhala. Manusia modern saat ini menyembah tv, ponsel dan sebagainya. Untuk ranah karya ide, manusia masa lalu menjadikan puisi, hikayat, modivikasi kitab suci sebagai pedoman hidup. Manusia modern menjadikan ideologi sebagai agama dan sains sebagai pedoman dan tumpuan hidup.

Menyembah berhala dan menjadikan ideologi sebagai pedoman hidup adalah menyembah selain Tuhan. Melalui jalan pikiran seperti ini, maka Pancasila yang merupakan ideologi, hasil produk ide manusia bila dijadikan asas dan pedoman hidup, adalah sama halnya dengan syirik. Bila demikian, tidak layakkah Pancasila menjadi dasar negara yang dihuni rakyat yang beragama?

Alasan di atas menyebabkan polemik yang berkepanjangan sehingga orang selalu memperbandingkan Islam dengan Pancasila.

Sunano mengatakan gerakan Islam muncul karena dua hal. Pertama interpretasi ummat terhadap teks, kedua adalah reaksi terhadap realitas. Saya kira ini berlaku bagi setiap agama. Pancasila adala reaksi atas realitas masyarakat muslim di Indonesia.

Pancasila memberi ruang agar semua produk hukum dan mobilisasi segala sistem bersesuaian dengan Islam. Namun, merujuk pada kisah negosiasi yang ditawarkan Quraish kepada Muhammad Saw untuk agar Nabi mengizinkan Quraish menyembah Allah juga namun dengan menggunakan perantara berhara. Nabi menolaknya mentah-mentah. Ada yang menyamakankan tawaran Quraish dengan model penerapan nilai-nilai Islam namun dengan berlambangkan Garuda, melalui Pancasila. Dengan analogi ini maka Pancasila adalah musuh mutlak Islam.

Pancasila harus dilihat sebagai hasil kesepakatan rakyat Indonesia yang juga setiap mereka membawa nilai-nilai agamanya untuk dirumuskan menjadi pancasila. Nilai mayoritasnya adalah Islam. Pancasila adalah sebuah usaha membumikan ajaran-ajaran Islam. Tema besar yang diusung Pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Tema-tema ini adalah esensi pokok dalam Islam. Melalui Pancasila, Islam telah menjadi konsepsi praktis sehingga sangat dekat dengan keseharian kita.

Mengenai alasan Pancasila tidak layak menjadi sebuah sistem karena tidak mengandung panduan atau pedoman yang lengkap seperti layaknya Islam yang mengatur mulai dari tata cara bersuci hingga politik luar negeri. Maka lima tema pokok tadi dapat dikembangkan kedalam aturan hukum yang detail dan holistik. Pancasila adalah asas yang mengatur tata kehidupan majemuk, tentang sistem interaksi, sistem untuk kelompok masyarakat bernama negara, jadi dia tidak mengatur urusan individu seperti ibadah, bersuci dan sebagainya. Ada muslim yang menolak Pancasila karena tidak mengatur mu'amalah (ekonomi) dan jinayah (hukum) sepeti aturan dalam Al-Qur'an. Saya kira persoalan itu terletak pada undang-undang (UU) yang dibuat, sama sekali bukan Pancasila. Malah Pancasila memaksakan agar ekonomi harus berlandaskan kemanusiaan dan kerakyatan serta hukum harus berlandaskan keadilan.

Melihat dari sejarah peradaban Islam, maka setiap rezim dirumuskan aturan untuk patuh pada aliran dan mazhab tertentu. Bahkan masa monarki aturan dan aliran dipaksakan pada rakyat yang berbeda mazhab dan aliran. Namun Pancasila sangat representatif bagi masyarakat Indonesia.

Setiap manusia punya subjektivitas. Subjektifitas ini memerlukan objektivitas agar terjadi integrasi antar manusia. Pancasila adalah sagana objektif masyarakat Indonesia.

Ada yang mengatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi untuk masyarakat indonesia. Ini pernyataan yang aneh. Karena selama manusia masih ada, maka rumusan mengenai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan (berbeda dan tidak sama dengan penyeragaman), kerakyatan dan keadilan akan selalu dibutuhkan.

Ada yang mengatakan Pancasila sebagai alat kepentingan politik elit kekuasaan. Saya katakan Pancasila adalah memang alat. Dianya adalah produk akal manusia. Jadi selamanya harus sebagai alat, sebuah alat yang ditetapkan sebagai asas sekelompok masyarakat yang menamakan diri Indonesia. Jadi jangan salahkan politikus yang menggunakan Pancasila sebagai alat politik, tanyakan pada diri kita masing-masing kenapa tidak menggunakan Pancasila sebagai alat profesi kita. Bila kita mahasiswa, kenapa tidak menggunakan nilai-nilai pancasila sebagai alat untuk sukses study. Seorang wirausahawan harus menjadikan Pancasila sebagai alat yang menyemangati keadilan dan kesejahteraan sosial. Umpamakan sebuah pisau, seorang tukang rajang bawang marah pisau digunakan oleh tukang potong lembu untuk potong lembu. Padahal, bila dia mau pisau itu dapat juga digunakan untuk rajang bawang.

Islam memiliki cita-cita yang besar dan sangat universal. Sementara Pancasila adalah semacam sebuah visi yang diusung masyarakat Indonesia yang hampir semuanya muslim. Dalam kacamata Islam yang universal itu, Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengusung lima visi yaitu kelima butir Pancasila dan misinya adalah UUD 1945 serta semboyannya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Jadi tidak ada yang layak disebut bertentangan dengan Islam. Memperbandingkan Islam dengan Pancasila hampir sama seperti memperbandingkan Islam dengan organisasi Muhammadiyah. Pancasila adalah sikap masyarakat atas realitas yang mereka alami dan rasakan. Seperti Ahmad Dahlan yang medirikan Muhammadiyah untuk merespon perkembangan modern yang masuk ke dunia Islam. Memperbandingkan Islam dengan Pancasila adalah pendegradasian terhadap Islam.

Cara berfikir dengan memperbandingkan Islam dengan Pancasila mengingatkan kita akan paham Hegelian berupa tesis, anti tesil lalu membentuk sintesis. Umumnya manusia menganggap tesis adalah kontradiksi dengan sintesis. Padahal Hegel membangun konsep ini berdasarkan inspirasi hukum garak yang niscaya. Untuk menghasilkan sebuah gerak diperlukan keseimbangan tertentu. Misalnya keseimbangan energi proton dengan elektron menyebabkan elektron mengelilingi proton. Namun gerak yang dimaksudkan di sini tidak terbatas pada gerak material. Dari tidak tahu menjadi tahu juga disebut gerak.

Muhammadiyah dapat terus bergerak menjadi lebih progresil karena ada NU. Orang menganggap Muhammadiyah kontradiksi dengan NU padahal karena keseimbangan antara keduanya, maka masing-masing saling berlomba mengembangkan diri. Pancasila tidak memiliki penyeimbang untuk terus bergerak maju dan bergerak lebih mengakar kedalam jiwa masyarakat Indonesia.

Orang mencoba menjadikan Islam sebagai antitesis. Padahal ini tidak layak, tidak seimbang. Akal manusia memang suka mencari kontadiksi lalu memverivikasi untuk memudahkan mengenal sesuatu. Namun tidak benar menghadapkan Islam dengan Pancasila apalagi menjadikan yang satu sebagai tesis dan lainnya antitesis yang dipahami sebagai kontradiksi. Sebagai penyeimbangpun tak layak. Sehingga ada kalangan yang berusaha memunculkan isu adanya gerakan Islam sebagai asas negara sebagai alat menentang Pancasila dengan tujuan sebenarnya ingin menggerakkannya, ingin mengembangkan. Ini jalan yang keliru.

Masalah kompleks yang dialami bangsa Indonesia adalah karena Pancasila tidak dijiwai masyarakat. Pancasila hanya dilihat sebagai sistem. Sistem kesannya selalu sebagai tangan besi yang mengatur manusia dengan paksa. Jadi Pancasila selalu dilihat sebagai pengekang. Agar nilai-nilai Pancasila selalu tertanam dalam jiwa, diperlukan cara pendekatan pembelajaran yang baru kapada anak-anak Indonesia, bukan sekedar sebagai bagian mata pelajaran yang diajarkan dua kali 45 menit seminggu. 

Mentra 58, 04/06/2011

Jumat, 27 Mei 2011

Sains dan Agama: Kritik atas Buku "Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporar dan Agama"

Tujuan pokok dalam buku  "Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporar dan Agama" karya Ian G. Barbour tidak dapat diterima dalam Islam. Artinya, tidak ada yang namanya 'integrasi' atau 'islamisasi' konsep-konsep dalam buku ini ke dalam ke dalam konsep -konsep Islam (atau teologi Islam). jadi percuma mengundang Armahedi Mazhar (memberi kata pengantar buku dimaksud) untuk "memasak daging babi menggunakan resep daging sapi" agar dapat dikonsumsi kaum muslim.


Kata Armahedi "Teologi hanya merupakan konstruksi intelektual manusia yang mencoba memahami pesan-pesan relijius para nabi. Dengan demikian kita harus berani menghadapkan teologi dengan sains dan membuat keduanya berkembang secara dialektis dan komplementer untuk memecahkan permasalahan ummat manusia yang ditimbulkan oleh penerapan sains yang semakin maju itu (h. 10)

Teologi Islam memang konstruksi akal kaum muslim. Sepanjang sejarah memang selalu berubah seiringperubahan kondisi pada setiap zaman. Bahkan terdapat puluhan aliran Teologi dalam Islam. Ini disebabkan pikiran manusia tidak sama.  Kaum muslim memang tidak pernah ragu menghadapkan sains dengan teologi(nya) karena konsep dasar teologi Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah yang tidak pernah bertentangan dengan sains. Bahkan kaum muslim tidak patut menghadapkan Al-Qur'an dan Sunnah dengan sains karena sains itu diinspirasikan oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Oleh sebab itu, Al-Qur'an menyemangati untuk meninjau kembali penemuan sains bila kiranya ada pertentangannya dengan Al-Qur'an sebab boleh jadi terdapat beberapa kekeliriuan penalaran saat mengkonstruksi sains.

Hal ini berbeda jauh dengan teologi Kristen.  Konteks ketakutan atau keraguan hingga melahirkan konsep 'harus berani' hanya terdapat dalam agama Kristen. Agama ini sejak awal memang telah mengandalkan dirinya pada perkembangan akal manusia (bukan teks Kitab sucinya).

Ketika agama Kristen ingin berekspansi ke Barat dari Yarussalem, agama ini harus menghadapi pemikiran-pemikiran para filsuf dari Yunani. Di sana, kitab sici Kristen harus berhadapan dengan filsafat yang merupakan hasil pemikiran manusia. Saat iti memang filsafat sedang sangat digemari. Hasilnya, agama Narrani yang murni dari Tuhan harus disesuaikan (direvisi)  agar sejalan dengan filsafat (buah pikiran manusia). Ini adalah syarat yang ditawarkan Barat dan diterima oleh Kristen supaya agama ini diterima.

Sejak itu tidak ada lagi yang namanya agama Nasrani yang murni. Kitab Injil telah dimodivikasi mengikuti akal pikiran manusia. Karena akal manusia sifatnya terus berubah, maka kitab Injil tidak dapat lagi diterima manusia karena kontradiksi denga realita aktual.

Ian G. Barbour yang merupakan ahli Fisika dan Teologi Kristen mencoba mencari kesamaan kembali antara agamanya dengan sains modern. Ini tidak lepas dari fanatisme agama, karis dan popularitas. Wajar, tidak ada orang yang ingin dikatakan agamanya sesat.

Agama Kristen terlambat menyadari bahwa akal manusia bersifat progresif, sementara wahyu itu tetap. Lihatlah agama-agama Timur seperti Budha, Hindu dan aliran Taoisme, mereka tidak terlalu sibuk dengan perkembangan akal sehingga tidak perlu menghadapai persoalanyang diterima Kristen sejak era Galileo Galileu, kini dan hingga kiamat dunia.

Bahkan nampak jelas kesesatannya ketika Armahedi merumuskan empat varian hubungan sains-agama yakni: konflik, independensi, dialog, dan integritas. Padahal konflok antara sains dan agama hanya dihadapai agama Kristen saja, alasannya seperti yang telah disebut di belakang. Masalah independensi adalah masalah yang lahir karena adanya konfik, dianya adalah bukti tidak adanya integrasi. Sementara islam dan sains salang membenarkan karena memang sain adalah manifestasi dari konsep agama.

Bila didialogkan, maka air dan minyakpun dapat ditemukan titik persamaan. Misalnya: minya dan air sama-sama kebutuhan manusia. Jadi apa yang dilakukan  Ian G Barber adalah akal-akalan.

Mizan Hendaknya mencerahkan ummat, bukan sebaliknya. Bayangkan bila yang mengkonsumsi buku ini adalah orang awam yang belum kritis pemikirannya. Siapa yang akan menanggung dosa akibat rusaknya akidang orang-orang? Jawabanny adalah siapa yang berkaitan dengan penerbitan buku ini. Sekian. Wassalam.

Senin, 18 April 2011

Apakah Kita Butuh Militer?

Martin Wolf, orang Yahudi penulis Globalisasi, mengatakan dalam sistem globalisasi, militer tidak boleh mengurusi bisnis. Militer harus konsenterasi pada pengamanan korporasi dan negara yang memperoleh pajak dari korporasi harus meningkatkan kelengkapan fasilitas serta kesejahteraan militer.

Militer kita seolah-olah makhluk asing yang tiba-tiba berhadapan dengan masyarakat lalu bentrok. Persis seperti "bentrok" antara harimau dengan manusia yang suka terjadi di pedalaman Sumatera.

Militer melupakan peran dan fungsinya untuk melindungi kadaulatan bangsa. Kedaulatan bangsa itu sendiri adalah rakyatnya. Selanjutnya adalah air dan tanahnya. Sekarang militer tidak melindungi apapun dari elemen kadaulatan bangsa. Demi melindungi korporasi mereka rela menembaki rakyat yang seharusnya mereka lindungi. Air dan tanah digerogoti asing mereka diami. Ada warga yang disandera perompak di negeri orang, mereka tidak berani berbuat apa-apa.

Akibat pengaruh konsep globalisasi Martin Wolf si Yahudi, hak militer untuk mengelola usaha perlahan dilucuti. Ini membuat mereka semakin terkesan asing sebagai bagian dari warga negara. Di samping itu penaikan anggaran dana pertahanan tidak membuat militer kita semakin kuta dan berani melindungi kadauatan bangsa. Mereka hanya semakin berani kepada rakyat sipil biasa yang tidak punya apa-apa. Kenaikan anggaran hanya membuat mereka terlihat semakin jagoan di mata anak-anak saja.

Kalau denmikian adanya, kita semua, rakyat Indonesia, perlu bertanya: apakah kehadian militer di tengah-tengah kita telah membuat kita merasa aman. Atau sebaliknya? Bila yang terjadi sebaliknya, apakah kita butuh militer?

Mentra 58, 19 April 2011

Rabu, 23 Maret 2011

Pelajar Pemimpin

Pendidikan merupakan penentu kebudayaan. Untuk menciptakan budaya tangguh, dinamis, produktif dan kreatif, dalam sistem pendidikan haruslah diterapkan sistem yang partisipatif, demokratis, inklusif, kritis dan objektif. Peserta didik tidak boleh dijadikan semacam kelinci percobaan, domba gembalaan dan budak. Peserta didik harus dianggap dan diposisikan sebagai subjek, agen serta pemeran utama sistem pendidikan. Pelajar harus dilibatkan secara langsung dalam menetukan konsep penerapan sistem pendidikan. 

Runtuhnya budaya Indonesia saat ini adalah karena kita sangat lamban dan setengah hati dalam memikirkan dinamisasi sistem pandidikan. Semboyan "Pelajar hari ini adalah pemimpin masa depan" telah hilang dari dalam benak kita. Pada sisi aplikasi, pelajar telah diposisikan sebagai mangsa dari kurikulum pendidikan yang coba-coba ini dan hanya akan menjadikan siswa sebagai bagian daripada mesin untuk ilmu teknologi dan bagian dari peralatan kantor untuk ilmu administrasi, manajemen dan akuntansi.

Pada ranah ilmu sosial, pelajar dipersiapkan untuk pandai melihat potensi dan peluang untuk tercapainya kepentingan pribadi. Perkara ini telah menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan idealitas dan moralitas . Imbas kolektif dari persoalan ini adalah hilangnya karakter pemimpin dari dalam diri setiap anak bangsa. 

Meskipun pesta pemilihan penguasa sangat seriing dilakukan dan semakin hari semakin banyak saja orang-orang yang berhasrat menjadi penguasa, namun kita kehilangan seorang pemimpin.

Krisis kepemimpinan dan mewabahnya penguasa akan mengakibatkan penyakit bangsa semakin parah. Oleh karena itu, keselarasan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualitas merupakan syarat muntaik menciptakan calon pemimpin yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi, mampu membangun relasi yang sehat dan memberi keuntungan bersama bukan individu dan kelompok tertentu dan memiliki nilai-nilai murni di dalam jiwa.

Selasa, 22 Maret 2011

Bank sebagai Penyebab Pembunuha

"Hanya karena korban menolak diajak berhubungan intim" kata pembaca berita. Begitu sepelenya perkara itu dalam kesan yang disampaikan media massa. "Karena enggak dikasih itu" diikuti "hahaha" tertawa lapas oleh seorang warga tetanga bersama beberapa lainnya. 

Begitu remehnya anggapan mereka itu. Mereka mengggap suami yang membunuh istri dengan tikaman benda tajam bertubi-tubi karena menolak berhubungan intim adalah sebab pembunuhan sepele. Padahal ini adalah perkara besar. Untuk apa diberi makan setiap hari, bekerja dari pagi untuk menutup tubuh isri biar tidak telanjang, diberi rumah biar tidak kena hujan, kalau satu kewajiban utamanya tidak dilakukannya. 

Apa jadinya kalau suami keluar mencari penjaja seks komersial lalu membawa pulang virus untuknya. Bagaimana kalau dia pergi berselingkuh hingga punya anak tidak punya ayah, menambah manusia menderita psikologis, merusak tatanan sosial. Bagaimana bisa seorang istri menolak kewajiban utama buat suami. Mereka kataka alasan pembunuhan ini sepela, sementara Allah Sang Pencipta memerintahkan para malaikat-Nya mengutuk wanita itu sampai pagi tiba. 

Semuanya karena akumulasi kekecewaan kepada istri. Kemungkinan besar sebab pertama dan terbesar karena mendapatkan istri tidak utuh lagi. Masalah-masalah lainnya sepanjang perjalanan rumah tangga yang selalu muncul adalah karena persoalan ekonomi. Persoalan ekonomi yang menjadikan mereka sebagai salahsatu dari jutaan rakyat negara miskin terlindas kapitalisme liberal. Bank-bank adalah penyebab kejadian itu terjadi. Terkesan mustahil, namun diba diterawang secara sistematis baru dipercaya.

Sistem Pengelolaan Negara: Muhammad Ridha dalam Rapimna PB PII 2010-2012

Menurut Muhammad Ridha, Ketua Umum PB PII periode 2010-2011, negara yang dikelola tanpa didasari nilai-nilai spiritual akan kehilangan integritas antara spirit kejiwaan dengan kerja aktif pengelolaan negara.Katanya, Pancasila tidak pernah menjadi motif moral dan landasan moral dalam mengisi dan mengelola bangsa.

Bila Pancasila dilepaskan dari Indonesia, maka bangsa ini akan kehilangan ruhnya.Ridha mengatakan, Pancasila bukanlah sebuah agama, namun sebuah ideologi. Ideologi merupakan cita-cita yang diletimasi dengan ilmu. Ini berarti, Pancasila bukanlah sesuatu yang sakral.

Pancasila harus selalu berubah dan dinamis sesuai kondisi dan perkembangan zaman. Saya melihat, sebab orang Indonesia tidak jujur menjalankan Pancasila sehingga terjadi jutaan persoalan bangsa adalah karena prinsip hidup masyarakat yang mayoritas muslim tidak sesuai dengan landasan negar

Membangun Karakter Bangsa: Akbar Tanjung dalam Rapimnas PB PII 2010-2012

Pada 22 Juni '45 disepakati sila pertama: "Menjalankan Syariat Islam bagi pengikut-pengikutnya". Para pemimpin kawasan timur notabene Kristen menganggap sila itu deskrominatif dan menolak ikut RI bila sila itu diterapkan. Wahid Hasyim menyarankan penggantian redaksi: "Ketuhanan Yang Maha Esa". Ini dasar Islam, Tauhid, yang hanya dipahami Muslim saja. Ini bukti negara ini berlandaskan Tauhid.

Setelah merdeka, 3 Nov. 1945, keluar maklumat Wapres agar rakyat mendirikan parpol-parpol. Berdirilah 26 parpol untuk memilih anggota perwakilan rakyat dan anggota konstituante. Anggota Konstituante untuk menetapkan UUD '45. Terdapat 4 parpol: PNI 22%, Masyumi 20% NU 18% PKI 16%, yang menjadi kampium. Nasionalis, Islam Modern, Islam Tradionalis, Marxisme. Dekrit presiden 5 Juli menetapkan kembali ke UU '45 atas dukungan TNI adalah sebab karena tidak ditemukan keputusan mengenai dasar negara, antara Nasionalisme dan Islam.Orde Baru meleburkan aliran-aliran partai menjadi tiga ke dalam Golkar, PPP dan PDI. Militer dan birokrasi adalah pendukung utama Golkar.

Bung Karno mengaku UUD '45 adalah UUD kilat. Dia mengamanahkan kalau sewaktu-waktu sebaiknya UUD dirumuskan kembali sesuai dinamikan dan tintutan zaman.Tahun 99 ada 150 parpol. Di ferifikasi kembali oleh KPU, tersisa 84. PDIP juara. PDI memang selalu ditekan waktu Orba. 21 Parpol menduduki kursi DPR. 2004 Golkar kembali juara, PDIP runner up. 38 Parpol pemilu 2009 (6 partai lokal) Demokrat juara satu.

Karakter bangsa sangat liberal dalam dunia politik dalam era reformasi. Tapi bagaimana dengan ekonomi, pendidikan, kebudayaan terutama sumberdaya alam?Kepala daerah tanpa parpol (independen) akan sangat kesulitan menghadapi badai serangan DPR. karena itu kepala daerah perlu pelindung (parpol).Saya kira kebebasan berpolitik harus sejalan dengan kebebasan berfikir, ekonomi dan pendidikan sehingga berimbanganlah antara kondisi lingkungan dan suasana politik. Bila tidak, penipuan oleh pengusa atas masyarakat yang masih awam.Pendidikan politik harus lebih sering dan secara terus menerus dilaksanakan oleh OKP seperti PII dan HMI karena Parpol hanya akan melaksanakan itu pada saat-saat tertentu dan untuk kepentingan tertentu yang malah akan semakin membodohkan.

Otonomi Khusus di beberapa wilayah telah memeluhi segala aspirasi dan kearifan daerah. Federasi dikhawatirkan Akbar, akan melahirkan disintegrasi nasional. Namun saya kira kekhawatiran itu tidak diperlukan lagi saat ini. Sebab, berbeda dengan 1950-an, sekarang informasi dan edukasi sangat mudah diakses. Negara pusat dapat lebih mudah melalukan integrasi dan persatuan negara-negara bagian. Meski demikian, Akbar memberi ruang diskusi lebih mendalam dalam usaha menjadikan Indonesia sebagai negara federasi. Karena menurutnya pemikiran-pemikiran baru mengenai masa depan bangsa patut dipertimbangkan.Bandung,

Kaderisasi Bangsa: Dadan Dania dalam Rapimnas PB PII Periode 2010-2012

Terbukti kaderisasi bangsa masih dipegang oleh organisasi-organisasi (kepemudaan). Ini artinya uang yang digelontorkan pemerintah untuk dunia pendidikan formal mereka tidak ada gunanya dalam upaya kaderisasi pemimpin.Sistem kaderisasi bangsa bisa dipelajari dari pabrik pembuatan dodol di Garut, Jawa Barat. Seorang pekerja pembuat dodol dalam setahun bisa membuka pabrik dodol. Usaha sablon di Cicalengka juga melakukan hal yang sama.

Setelah beberapa bulan menjadi karyawan, mereka mampu membuka usaha sendiri dengan merekrut beberapa karyawan lain, menciptakan orang-orang yang memiliki keahlian manajemen dan pengelolaan badan usaha sablon, demikian seterusnya.Demikianlah karena mereka bekerja untuk dikaderisasikan, bukan dijadikan sebagai budak.

Saya jadi teringat dengan sebuah kisah di kota Banda Aceh. Di Aceh kita mengenal orang Pidie memiliki jiwa heriok sebagai pengembara. Mereka dikenal gesit dalam perantauan. Bahkan ada seorang pemilik usaha foto kopi dari Pidie yang mempekerjakan seorang pemuda dari daerah asalnya. Dia hanya memberi makan dan beberapa keperluan dari pemuda itu. Saat waktu menikahnya tiba, dia dinikahkan dan difasilitasi semua kebutuhannya. Hingga pada suatu waktu tiba, maka ketika gajinya hendak dibayar, setelah dihitung-hitung, ternyata toko dan segala isinya menjadi milik pemuda yang telah bekerja bertahun-tahun untuknya. Hal ini memang rencana orang yang mempekerjakan pemuda itu. Dia tidak mengharapkan terimakasih si pemuda, yang dia inginkan adalah pemuda itu mampu mewarisi tekniknya itu untuk pemuda perantauan yang akan datang. Baginya ini adalah sangat layak.

Bukankah karena kesetiaan dan kejujuran pemuda itu, dia telah berhasil mengumpulkan banyak kekayaan.Mental kaderisasi ini juga sangat ketara terlihat dari perantauan Minang, Batak dan Madura. Amati saja angkutan kota Kopaja dan Metromini di Jakarta bagi orang Batak, Usaha jualan kopi keliling orang Madura dan usaha perdagangan orang Minang. Ini semua bukan chauvanisme, tapi Nabi menyuruh memberi bantuan pada saudara terdekat terlebih dahulu.

Demikian pula kaderisasi di organisasi-organisasi pemuda. Mereka memimpin untuk melepaskan. Sembari memimpin, mereka mempersiapkan generasi sejanjutnya yang lebihtangguh dari dirinya. Uniknya di organisasi pemuda adalah, keberhasilan periodesaat ini adalah keberhasilan periode yang lalu. "Memimpin untuk melepaskan" adalah motto kepemimpinan PII. Bukan: memimpin untuk menguasai, seperti yang diterapkan para penguasa Republik Indonesia.

Korporasi dan Negara Demokrasi

Apakah keberadaan sebuah negara untuk melindungi rakyatnya dari apapun, tetapi tidak dari korporasi? Bukankan keberadaan sebuah negara, terutama yang menganut sistem demokrasi, adalah untuk memudah dan mengindahkan korporasi membunuh rakyat?

Membaca buku "Globalisasi:Jalan Menuju Kesejahteraan", karya Wolf saya melihat negara yang menganut sistem domokrasi adalah untuk memudahkan jalan perusahaan-perusahaan raksasa untuk menguasai dan seterusnya membinasakan perekonomian rakyat.

Sistem demokrasi adalah sistem yang lebih mudah dipengaruhi untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang melanggengkan penguasaan oleh korporasi. Dalam sistem ini, pengambil kebijakannya adalah lebih ramai dan dengan cara demikian debat retorika akan lebih alot dan pastinya hanya akan memenangkan mereka yang punya rasionalisasi yang lebih tinggi. Menyuap sebagan pengambil kebijakan dapat lebih mudah karena bagian-bagian tertentunya tidak saling berkaitan langsung. Dengan ini, negara demokrasi tidak punya satu kontrol yang paling berkuasa sehingga mekanisme evaluasi (dan pengambilan keputusan) menjadi tidak jelas.

Negara yang menggunakan sistem demokrasi berkata bahwa segalanya ditentukan rakyat. Namun pada kenyataanya segalanya dikendalikan perusahaan. Film "Tekken" mengilustrasikan sebuah dunia yang tidak lagi ada negara. Rakyat, militer dan segalanya dikuasai dan dikendalikan korporasi-korporasi. Korporasi-korperasi kecil akan dimakan korporasi besar sehingga yang tersisa hanyalah beberapa korporasi besar yang setiap saat selalu bertarung untuk saling menguasai dan menjatuhkan.Film ini mengisahkan bagamana hasrat akan kekuasaan dan kekayaan akan membuat mudah saja seorang anak membunuh ayahnya dan seorang ayah tega membunuh anaknya.

Dalam dunia yang dikuasai korporasi, rakyat tidak lebih sebagai bagian dari mesin yang tenaganya dipakai untuk terus menimbun kekayaan bagi para pemilik kekuasaan. Dalam dunia seperti ini, beladiri yang merupakan bagian daripada seni dipakai untuk menjadi sarana komersil. Para pegiat seni dijadikan tidak ada bedanya dengan sapi perah dimana bila tenaga dan kreativitasnya tidak dibutuhkan lagi, mereka akan dibuang begitu saja.Sistem seperti ini sebenarnya sudah lama berlaku di dunia terutama negara-negara demokrasi.

Sekarang kita dapat melihat bagaimana negara dan sistem negara tidak berdaya di hadapan korporasi. Lebih dari itu eksistensi sebuah negara demokrasi bertopang pada korporasi. Pemasukan negara sebagian besar dari pajak korporasi dan direktur-direktur korporasi menjadi penyokong penguasa. Selanjutnya, dengan sangat mudah penguasa menuruti keinginan korporat.

Banjir Penguasa, Krisis Pemimpin

Pendidikan merupakan penentu kebudayaan. Untuk menciptakan budaya tangguh, dinamis, produktif dan kreatif, dalam sistem pendidikan haruslah diterapkan sistem yang partisipatif, demokratis, inklusif, kritis dan objektif. Peserta didik tidak boleh dijadikan semacam kelinci percobaan, domba gembalaan dan budak. Peserta didik harus dianggap dan diposisikan sebagai subjek, agen serta pemeran utama sistem pendidikan. Pelajar harus dilibatkan secara langsung dalam menetukan konsep penerapan sistem pendidikan. 

Runtuhnya budaya Indonesia saat ini adalah karena kita sangat lamban dan setengah hati dalam memikirkan dinamisasi sistem pandidikan. Semboyan "Pelajar hari ini adalah pemimpin masa depan" telah hilang dari dalam benak kita. Pada sisi aplikasi, pelajar telah diposisikan sebagai mangsa dari kurikulum pendidikan yang coba-coba ini dan hanya akan menjadikan siswa sebagai bagian daripada mesin untuk ilmu teknologi dan bagian dari peralatan kantor untuk ilmu administrasi, manajemen dan akuntansi.

Pada ranah ilmu sosial, pelajar dipersiapkan untuk pandai melihat potensi dan peluang untuk tercapainya kepentingan pribadi. Perkara ini telah menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan idealitas dan moralitas. Imbas kolektif dari persoalan ini adalah hilangnya karakter pemimpin dari dalam diri setiap anak bangsa. 

Meskipun pesta pemilihan penguasa sangat sering dilakukan dan semakin hari semakin banyak saja orang-orang yang berhasrat menjadi penguasa, namun kita kehilangan seorang pemimpin.


Bukan Hanya Salah Pemerintah

Para pimpinan OKP/Ormas dan mahasiswa mengadakan sebuah Konferensi Pers di Aula Yakpi Mentreng Raya 58, Jakarta Pusat. Inti dari persoalan yang mereka sampaikan adalah menyatakan bahwa rezim Pemerintah telah gagal mensejahterakan masyarakat. Salah seorang dari utusan mahasiswa menceritakan bahwa di Ibu Kota sampai ada masyarakat yang terpaksa memakan nasi basi yang telah dikeringkan karena tidak mampu membeli beras.

Namun, benarkan Pemerintah yang paling bersalah atas krisis pangan yang dihadapi masyarakat?. Tahun-tahun yang akan datang adalah ancaman yang sangat besar bagi ketahanan pangan penduduk dunia. Beberapa sebabnya antara lain: Pertama, tanah yang rusak akibat pupuk yang berlebihan sehingga merusak produktivitas tanah. Tanah yang di tanami satu jenis tanaman tertentu saja di suatu area yang luas tidak hanya mengancam kesuburan tanaman, namun juga mengancam ekosistem alam. Kedua, kebutuhan air oleh pemukiman masyarakat, terutama masyarakat kota, menyebabkan kebutuhan air bagi pertanian kehilangan prioritas. Alasannya karena (1) akses air oleh pemukiman lebih mudah karena pemukiman cenderung lebih dekat dengan sungai (bukankah awal mula adanya pemukiman karena masyarakat menetap di pinggiran sungai guna memenuhi kebutuhan air?); (2) prioritas kebutuhan air untuk kebutuhan sehari-hari lebih penting daripada untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertanian dan; (3) masyarakat yang tinggal di area dekat aliran sungai sungai lebih mampu membeli/mengakses air daripada masyarakay petani.

Ketiga, peningkatan pesat jumlah penduduk menyebabkan masyarakat sering membangun perumahan di atas lahan pertanian sehingga menyebabkan lahan pertanian semakin menyempit. Keempat, Pertumbuhan jumlah kendaraan yang sangat pesat harus disesuaikan dengan pembangunan jalan yang akan semakin menyempitkan lahan pertanian. Kompas (16/01) melaporkan, di China penjualan mobil di tahun ini diperkirakan mencapai 20 juta unit dan AS 5 juta unit. Semuai ini membutuhkan pembangunan jalan yang akan mengapuskan jutaan hektara lahan. Kelima, tidak adanya kenaikan produktivitas pertanian Fritjof Chapra (2005) menyatakan negara-negara penghasil teknonologi rekayasa pertanian selama 14 tahun terakhir tidak mampu menghasilkan jenis benih baru bagi tumbuhan sumber  pangan. Selain itu, kenaikan suhu global juga menekan produksi pertanian.

Melihat fenomena yang luar biasa di atas, saya kira tidak rasionel menuduh SBY-Boediono adalah penyebab krisis pangan. Meskipun demikian saya juga sepakat dengan pernyataan Rizal Ramli di sala-sela peluncuran buku tentang kisah Malari di TIM pada sabtu malam (15/01). Rizal menyatakan, terdapat banyak kebohongan dan pembohongan dalam survey pertumbuhan ekonomi kita. “Pemerintah baru melakukan survey pertumbuhan ekonomi rakyat ketika masa panen, ya, pasti lagi tumbuh dongekonominya.” Kata Rizal disambut gelak tawa hadirin.

Selaku pedagang keliling yang sangat dekat dengan pasar tradisional dan masyarakat, saya melihat persoalan utama kemiskinan masyarakat adalah karena sistem perkreditan yang sangat membebani masyarakat terutama padagang, baik itu dari bank maupun rentenir. Tidak jarang dari mereka yang harus membayar bunga yang mencapai setengah dari jumlah pinjaman. Selain itu, budaya konsumtif masyarakat sangat tinggi sehingga mereka tidak lagi mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mana yang harus di prioritaskan, mana yang tidak.

Celakalah bangsa yang memakan dari apa yang tidak mereka tanam dan memakai tidak dari yang mereka pintal.” Penggalan Puisi Kahlil Gibran ini hendanya menjadi semangat seluruh elemen bangsa, terutama elit pengambil kebijakan untuk meningkatkan segala jenis produksi kebutuhan masyarakat dan tidak dengan mudah mengimpor barang apa saja yang nantinya semakin tidak mendidik masyarakat untuk cerdas dan meruntuhkan sektor ekonomi mikro.

Di zaman reformasi seperti sekarang, kita memang dapat dengan mudah mengkritik pemerintah dan para elit pengambil kebijakan lain. Namun, OKP/Ormas dan mahasiswa jangan melupakan inti dari permasalahan. Saya melihat faktor utama dari kemiskin dan krisis pangan adalah sistem perbankan yang kejam dan  kesadaran masyarakat dalam pengelolaan tanah pertanian.

Solisi terhadap persoalan ini adalah mendesak pemerintah lebih giat mengucurkan kredit bebas bunga bagi masyarakat. Selanjutnya masyarakat perlu disadarkan akan bahaya berhubungan dengan segala macam dan sumber perkreditan berbunga. Masyarakat juga harus diberikan pencerahan agar tidak terus-menerus menjadi masyarakat konsumtif; kesadaran produksi harus ditanamkan. Juga, pencerahan ilmu tanah dan pertanian bagi para petani.

Sah-sah saja OKP/Ormas dan mahasiswa turun ke jalan untuk mengkritik pemerintah. Ini adalah salah satu wujud negara kita sangat demokratis. Namun, OKP/Ormas dan mahasiswa harus sadar bahwa mereka saat ini hampir tidak lagi memiliki tempat di hati masyarakat meski suara merekalah yang di perjuangkan. OKP/Ormas dan mahasiswa kehilangan kedekatan dengan masyarakat akibat sering menciptakan huru-hara dan kerusuhan setiap turun aksi.

Kesan mahasiswa sebagai masyarakat intelektual akan lebih terasa ketika mereka mampu mencuri hati, merangkul, serta memberikan pencerahan, bimbingan dan penyuluhan bagi masyarakat; bukan dengan menjerit-jerit di jalanan.

Filsafat Ilmu: Islam

Kalau ada organisasi yang mengusung tema "kesempurnaan" maka itu patut diapresiasi. Ini artinya mereka mengerti "kesempurnaan adalah sesuatu yang mustahil dicapai bagi kapasitas kemanusiaan dan semua yang termasuk makhluk. Tema ini dapat terus memotifasi mereka untuk terus berusaha dan berjuang kerena tidak memiliki indikator pasti dan pencapaian konkrit yang dapat menjadi alasan organisasi ini harus bubar karena capaian telah sampai.Visi seperti ini sejalan pula dengan amanah yang diemban manusia selaku abdi Allah.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk berjuang dan berusaha, sementara ganjaran bagi kita tidak dihitung berdasarkan pencapaian, melainkan dinilai dari proses dan usaha. Sejalan pula makna "filsafat" ditinjau dari segi asal katanya atau etimologi. Kata "filsafat" besasal dari gabungan dua kata dalam bahasa yunani: "pliho" dan "sophia". "Philo" bermakna "cinta" dan "sophia" berarti "kebijaksanaan". Jadi "filsafat" berarti "cinta kebijaksanan". Menurut saya, kata "cinta" yang dimaksudkan disini tidak identik dengan makna cinta yang sering digunakan sebagai hubungan kasih antara dua belah pihak. Tapi makna "cinta" dalam hal ini berarti sebuah hasrat, sebuah keinginan. Sebuah cita. Jadi "cinta kebijaksanaan" dalam makna "filsafat" berarti sebuah hasrat terus-menurus untuk menemukan kebijaksanaan.Makna ini sejalan dengan makna "kebijaksanaan" itu sendiri yang dianya tidak memiliki indikator maupun ciri-ciri yang pasti. Menjadi orang yang bijaksana adalah proses terus menerus yang tiada henti. Mencari kebijaksanaan itu sendiri juga sebuah upaya yang tiada kata berhenti. Jadi seorang filsuf adalah orang yang senantiasa menjacari kebijaksanaan tiada henti.Apapun daripada objek pengkajian disebut Ontologi.

Pada awal mula, objek utama kalian filsafat adalah alam semesta. Mengamati alam manusia melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dicari jawabannya dari alam juga. Bila manusia menemukan jawaban atas pertanyaannya, maka jawaban yang ditemukan itu malah melahirkan beberapa pertanyaan lagi.

Sering pertanyaan pertanyaan awal tak sempat dicari lagi jawabannya karena kesibukannya berfokus pada pencarian jawaban yang datang dari jawaban yang telah ditemukan.Lama manusia dibuat bingung oleh persoalan ini. Hingga ada yang mencoba merumuskan secara teratur pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang ditemukan. Dari itu pula lahir yang namanya Ilmu Logika.

Jawaban yang ditemukan itu dikodifikasi. Kodifikasi itu termasuk Ontologi. Kodigikasi itu diuji kembali keabsahannya. Jawaban-jawaban itu diuji melalui Epistimologi. Hasil dari kodifikasi yang telah diuji disebut ilmu. Ilmu itu adalah sesuatu yang tidak pernah sekaligus tidak boleh pasti. Setiap ilmu harus dapat diuji keabsahannya kapan saja dan meggunakan metodologi apapun atau disebut: bebas nilai. Karl Popper (2008) bahkan menekankan diuji saja tidak cukup, dianya haris dapat dibuktikan.

Lima belas abad sebelum Popper melahirkan gagasannya, Al-Qur'an telah menyadarkan manusia untuk menguji keabsahannya dengan berkonspirasi dan mengunakan berbagai strategi. Menyangkut ilmu itu bebas nilai, Al-Qur'an menganjuran kepada manusia untuk tidak salah ambil sikap bila menemukan pertentangan antara ilmu dengan Al-Qur'an. Al-Qur'an memerintahkan agar ilmu itu sendiri yang perlu diuji kembali. Makna adri perinta ini adalah tantanga n dari Al-Qur'an dan menyatakan dirinya sangat absah. Contohnya, pada awal mula Teori Evolusi ditemukan. Terdapat pertentangan antara Al-Qur'an dengan teori yang digagas oleh Charles Darwin ini. Namun setelah teori itu diuji kembali belakangan ini, terbukti teori Evolusi itu memang keliru. (Harun Yahya, 2001) Bila yang diuji itu Kitab Suci sebagaimana yang dilakukan Yunani beberapa generasi setelah Al-Masih, maka Kitab Suci itu akan menuai pertentangan yang sangat mencolok untuk setiap generasi karena penemuan dan pemikiran manusia itu sifanya terus berubah.

Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran Islam, saya menemukan tiga aktor yang berhasil menggerakkan muslim untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan dinamika zaman. Yusuf Al-Kindi berhasil menyadarkan ummat akan pentingnya "naturalisasi" filsafat Yunani kedalam wilayah keilmuan Islam sehingga dengan itu keilmuan Islam memiliki Epistemologi yang tajam sehingga melahirkan konsep keilmuan yang tangguh.

Saat itu kaum muslim punya daya analisa yang tajam terhadap segala persoalan sehingga setiap problem yang dihadapi mudah saja didapat solusi. Namun seiring waktu, masyarakat menjadi terlalu larut dalam budaya berfikir filosofis sehingga lama-kelamaan jadi banyak diantara mereka yang setiap menuai persoalan, mereka mencari solusia dari konsep filosofis. Padahal awalnya, mereka menggunakan filsafat sebagai metodologi dalam mengkaji Al-Qur'an dan Sunnah untuk mencari jawaban atas setiap soalan kehidupan.Karenanya, waktu itu, masyarakat dilanda krisis identitas dan karakter. Mereka telah jauh dari jalan Islam yang murni. Pada masa genting itulah Hamid Al- Ghazali muncul dan mengajak kaum muslim masa itu untuk kembali pada Islam yang murni dan menghidupkan kembali pembelajaran agama Islam.Akibat dari pengaruh Al-Ghazali sangat terasa. Setelahnya, secara perlahan-lahan masyarakat meninggalkan semua kajian-kajian filosofis. Mereka semua mulai disibukkan denga proses penyucian diri dan menolak untuk meningkatkan progresifitas pemikiran. Sehingga, imperialisme dari luar negara Islam tidak dapat dibendung oleh kaum muslim kerena mereka tidak peduli dengan persoalan dunia dan sibuk mempersiapkan diri menghadapi mati.

Ketika Imperialisme sudah menguasai seluruh bagian bumi yang dihuni kaum muslim dan pengaruh cara pandang imperialis telah berhasil ditanamkan kedalam jiwa kaum muslim, seorang yang sadar akan kondisi kaum muslim dan mengetahui bahwa akar keterpurukannya adalah karena pemikirannya telah berhenti, oleh karena itu dia, Sir Muhammad Iqbal berusaha menghidupkan kembali pemikiran agama dalam Islam yang telah lama ditinggalkan sehingga membuat kaum muslim tidur lelap selama sepuluh abad.

Dari Al-Kindi hingga Al-Ghazali adalah masa-masa dimana kaum muslim berada dalam puncak kejayaan dan kegemilangan. Sebab dari kegemilangan ini adalah karena ketika itu kaum Muslim menyatu dengan Al-Qur'an dan Hadits. Selain itu, filsafat mereka dicurahkan untuk mengkaji ilmu-ilmu sesuai petunjuk Al-Qur'an dan Hadits.

Dari Al-Ghazali hingga Iqbal, meskipun masyarakat muslim trlalu peduli dengan alam akhirat dan selalu sibuk berzikir, mereka terpuruk dan bahkan dijajah lebih lima abad oleh kafir karena mereka melupakan sebagian kandungan Al-Qur'an dan Hadits serta mengabaikan amanah Allah untuk manusia yakni akal pikiran.

Pasca Iqbal, perkembangan pemikiran sudah mulai tumbuh di kalangan kaum Muslim. Saya perkerakan di masa depan perkembangan ini akan semakin pesat. Namun saya yakin perkembangan pemikiran ini tidak akan mampu mengulang kembali kejayaan dunia Islam. Karena, kaum muslim di masa depan hanya akan sibuk denga perkembangan dan pengembangan pemikiran sementara mereka jauh dari agamanya.

Perkembangan pemikiran dan ilmu yang jauh dari agama hanya akan membuat kaum muslim tidak jauh beda dari Barat masa kini. Seperti di Barat saat ini, perkembangan ilmu-ilmu sosial hanya akan membuat manusia berpedoman pada gaya hidup yang sesat lagi rapuh: komunisme, materrialisme, hedonisme, pragmatisme, kapitalisme dan banyak lagi, adalah bukti dimana sebenarnya produk-produk pemikiran manusia tidak boleh dijadikan sebagai pedoman hidup. Hal ini sama-saja seperti menyembah berhala yang juga merupakan karya manusia.

Teknologi Barat yang kelihatannya memudahkan kehidupan manusia nyatanya hanya menghancurkan segenap ekosistem dan mempercepat kematian dengan asupan bahan kimia melalui makanan dan radiasi.

Islam melihat segala objek kajian filsafat berbeda dengan cara pandang agama dan aliran filsafat manapun.

Tuhan, manusia dan alam, yang menjadi objek utama kajian filsafat, dilihat dari bagaimana Al-Qur'an dan Hadits memposisikannya. Lalu dari sanalah segala sesuatunya dimulai.

Mengenai Filsafat Ilmu, melalui Al-Qur'an, Allah memerintahkan pada kaum muslim untuk meneliti segala berita yang datang dari sumber yang diragukan. Bertaitan ini, kita wajib menguji segala teori ilmu. Kita tidak boleh serta merta percaya pada segala teori, apalagi menjadikannya sebaga pedoman dan pandangan hidup.

Manjadikan segala teori hasil ciptaan manusia sebagai pedoman hidup seperti pancasila, demokrasi, libralisme, sosialisme dan sebagainya adalah sama seperti menyembah berhala. Berhala dan teori-teori itu adalah sama-sama hasil produksi manusia, bedanya, kalau teori-teori itu adalah karya manusia melalui kreatifitas teori; berhala adalah kreatifitas melalui seni ukiran.Karena kedua hal itu adalah karya manusia, maka menyembah atau menjadikannya sebagai pedoman hidup, lebih hina dari menyembah manusia.

Dr. Muhsin Labib dari The Islamic College Jakarta mengatakan, filsafat adalah upaya mencari kebenaran secara murni dan transparan. Oleh karena itu, dia menyepakati tidak ada yang namanya filsafat Islam. Sebab, tidak ada seorang filsuf muslim-pun yang berangkat dari ontologi murni. Semua mereka berangkat dari keyakinan atas objek-objek kajian filsafat berdasarkan informasi teks (Al-Qur'an dan Hadits).

Pada sisi yang lain, jalan yang ditempuh filsuf muslim dapat diterima bila digolongkan dalam Filsafat Ilmu. Sebab, bila mau merujuk pada makna asli filsafat, maka Aristoteles sendiri boleh jadi seorang Nabi yang diberi wahyu dan dia berangkat dari informasi Tuhan. Dan itu, bukan kajian murni.

Bahkan, para filosof modern selalu berangkat dari analisa mereka atas teks-teks yang ditinggalkan para pendahuli mereka. Dalam hal ini, Albert Einstein lebih layak disebut filsuf sebab dia menemukan teori-teorinya berdasarkan analisa murni.

Tapi saya kira pendapat Dr. Labib tidak sepenuhnya benar, sebab, Ontologi, yang menjadi basis analisa filsafat tidak mengklaim objeknya harus murni diluar teks.

Dr. Umar Shahab, mengatakan, setidaknya ada dua basis Ontologi yakni Matefisika dan Teologi. Teologi merupakan teori ketuhanan yang telah dikodifikasi kedalam teks.

Jadi saya kira, objek kajian para filsuf tidak serta-merta dari realitas. Namun, saya kira, yang paling penting dalam filsafat adalah kebaruan teori yang dihasilkan. Terlepas darimana dan bagaimana-pun basis ontoligisnya.

Belakangan timbul gagasan dari kalangan tertentu untuk membatasi pengistilahan gagasan filosofis yang dihasilkan oleh para filosof. Gagasan ini muncul karena mereka "gerah" melihat para filosof yang selalu menggunakan istilah sangat private dan sangat subjektif. Gagasan ini mereka beri nama Filsafat Analitik.

Saya kira para penggagas Filsafat Analitik benar-benar bukan filsuf; meskipun boleh jadi mereka ahli Filsafat. Pembatasan pengistilahan-pengistilahan subjektif hanya akan menghambat lahirnya pemikiran-pemikiran cemerlang. Jadi, saya kira ini tidak diperlukan. Saya kira tugas pengenalan istilah yang subjektif dari filsuf agar dipahami awan berikan saja pada para ahli Filsafat Analitik.

Kalau saja basis Ontilogi Filsafat hanya dibatasi pada ruang realitas, maka filsafat diharamkan dalam Islam. Sebab, Al-Qur'an dan Hadits yang menjadi pedoman utama kaum muslim diabaikan. Bukankah segala aktivitas Muslim, termasuk berfikir, harus berlandaskan dua teks itu.

Kata Machael Hart (2004), keberhasilan seorang filosof itu bukan karena kebenaran argumentasinya. Tapi sejauh mana gagasan itu mampu mempengaruhi orang.

Perbedaan substansial antara filsafat Islam dengan filsafat Barat adalah: filsafat Barat menolak Matafisika sebagai basis ontologisnya. Sebab, Barat menganut aliran pemikiran Materialisme. Segala hal dalam Filsafat Barat harus dapat dikaji dan diamati oleh indra.

"Tuhan" dalam kacamata "filsafat murni" harus yang benar-benar berasal dari akal murni. Karena Tuhan dalam Kitab Suci tidak dapat ditinjau melalui pengamatan indra, maka Teologi juga tidak sesuai bagi Ontologi filsafat murni.

Epistemologi Islam haruslah berangkat dari penggunaaan Ontologi dari tema-tema yang dikandung Al-Qur'an dan Hadits. Pengkajian atas Tuhan, manusia, alam dan tema-tema lain harus berangkat dari bagaimana kedua teks Islam tadi mengkesankannya.

Yang memberikan perbedaan radikal antara Filsafat dan Filsafat Ilmu Islam dengan Filsafat Barat dan Filsafat Ilmu Barat adalah pada basis ontologisnya.
Filsafat Barat berangkat dari keraguan sementara Filsafat Islam berangkat dari keyakinan.

Pertanyaan Muhammad Ridha, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) sangat layak dipertimbangkan:

Kita beriman makanya kita bertanya. Atau kita bertanya makanya kita beriman?


Daftar Pustaka:

Hart, Michael, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh, Bandung: Mizan, 2004

Popper, Karl R, Logika Penemuan Ilmiah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008

Yahya, Harun, Keruntuhan Teori Evolusi, Bandung: Dzikra, 2001