Link Download

Tampilkan postingan dengan label pii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pii. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Sepuluh Tahun Bersama PII

Sepuluh tahun yang lalu, kami bermain bersama. Remaja. Usia labil, segala yang kami suka, itu artinya kami anggap baik. Jam malam diberlakukan. TNI berpatroli, GAM kesana kemari; kedua kelompok itu sulit dibedakan, kaduanya berpakaian loreng, kadua kelompok itu menyeramkan. Kami tak peduli. Kami bermain-main diantara peluru-peluru mereka yang beterbangan.
Sepuluh tahun yang lalu beberapa teman mengajak untuk ikut acara ''pesantren kilat''. Yang membuat saya tertarik adalah cuma membayar lima ribu rupiah saja dapat makan sahur dan dan menu buka puasa selama seminggu, sepanjang acara. Itu artinya cuma bayar satu kali, dapat gratis tiga belas kali. Harga nasi waktu itu adalah lima ribu rupiah. Itu luar biasa sekali. Kapan lagi dapat kesempatan hebat begitu. Kapan lagi? Maka training itupun saya ikuti. Hari pertama dan kedua tampak membosankan. Hanya gadis-gadis peserta lain yang cantik-cantik yang membuat saya bertahan, tak ada yang lain. Sore hari ke tiga semuanya tampak lain, begitu berbeda. Ada rasa yang tak terangkum kata. Sejak hari ketiga itulah, daya magis PII terus membuat saya selalu ingin dekat dengannya. PII telah mengantarkan saya keliling Indonesia, hampir saja ke liling dunia, tapi belum memiliki paspor dan sedikit alergi naik pesawat adalah alasan lain keliling dunia tertunda.
Kini telah sepuluh tahun bersama PII. Segala yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, sudah saya raih. Esok, entah pengalaman dan pengetahuan apalagi yang akan diberikan Allah Swt melalui PII, saya tidak bisa berandai-andai. Bukankan khayalan tertinggi, imajinasi terliar, dilampaui pengalaman, itulah bersama PII.
Kadang saya pikir PII adalah kutukan, begitu sulit dilepaskan. Tapi kalau ada kutukan dalam kebaikan, hanya PII.

Antara Pulai Jawa dan Pulau Sumatera, Rabu 18 Juli 2012 pkl. 02.00

Minggu, 01 Mei 2011

Podato Harba ke 64 PII oleh Ketum PB PII

Revitalisasi Peran PII di Tengah Persoalan Bangsa: Pidato Harba Ke-64
Oleh: Muhammad Ridha
Ketua Umum PB PII
Bismillahirrahmanirrahim
Ba’da Muqaddimah..
Satu hal yang tidak boleh kita lepaskan dari perspektif kita dalam membangun, mengembangkan dan menjaga eksistensi PII di tengah-tengah ummat adalah  rujukan pada niatan awal para pendiri PII. Hal ini penting karena kita sebagai generasi penerus dari para pendahulu. Dalam tafsir azasi yang disusun oleh Bapak Anton Timur Djailani dan di tetapkan pada Kongres PII di kediri pada tahun 1953, terterangkan orientasi pergerakan PII. Bahwa PII ada dalam rangka menjaga dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Di awal berdirinya PII, persoalan internal dan eksternal bangsa saat itu mendesak para pemimpin, khususnya para aktivis gerakan untuk secepatnya menata dan merespon berbagai permasalahan yang mengancam kemerdekaan.  Secara internal, Indonesia yang notabene terdiri dari berbagai kelompok agama, identitas daerah, identitas kebangsaan, identitas idiologi, saling bersaing menjadi penentu arah Indonesia merdeka. Sedangkan dari luar, ancaman agresi militer Belanda sudah didepan mata.
PII yang dilahirkan pada 4 Mei 1947 dengan tokoh pendirinyanya Joesdi Ghazali, menangkap realita yang dihadapi bangsa Indonesia. Keterancaman masa depan Indonesia yang merdeka sangat tampak dalam menghadapi perbedaan-perbedaan ideologis antara Islam, Nasionalis dan Komunis. Ummat Islam Indonesia adalah bagian terbesar dan utama dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu munculah dikalangan elit ummat Islam Indonesia upaya-upaya mempersaatukan kekuatan. Kehadiran Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), kelahiran HMI (Himpunan Mahasiswa Islam—ed.) menandakan bahwa segmentasi-segmentasi pemuda dan mahasiswa telah menemukan wadahnya dan diterima oleh publik dalam mempersatukan pemuda dan mahasiswa Islam.
Pada tanggal 4 Mei Bapak Joesdi Ghazali, Anton Timoer Jaelani, Ibrahim Zarkasyi dan Amien Sjahri dan beberapa tokoh dari berbagai organisasi pelajar yang hadir, mendeklarasikan PII di Yogyakarta. Pada hari itu juga berbagai organisasi pelajar Islam yang berada di sekitar Yogyakarta meleburkan diri dalam PII. Kehadiran PII mampu menjawab keresahan umat pada saat itu, sehingga berbagai organisasi-organisasi pelajar lain yang beranggotakan pelajar muslim memutuskan berfusi kedalam PII.
Kejelian, ketepatan, dan kemampuan untuk mentransendensikan objektivisme diri adalah poin penting yang kita perlukan. Bahwa kehadiran PII adalah jawaban keresahan ummat pada saat itu dan menjadi harapan ummat Islam Indonesia khususnya di kalangan pelajar.
Tri komitmen PII: kepelajaran, ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang berorientasi menjadi kader pelopor untuk mengawal dan mengisi kemerdekaan Indonesia telah mampu memberikan nafas gerakan sampai pada kita saat ini. Kebijaksanaan dan kedewasaan para pendiri pada saat itu dalam memandang diri, ummat dan bangsa dengan nilai - nilai prinsipil dalam Islam, patut dan harus kita pegang teguh dalam menjaga misi dan eksistensi PII. Sikap yang dewasa dalam memahami realitas keberagaman pola keberagamaan Islam di Indonesia yang terpilah-pilah kedalam berbagai organisasi - organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Perti dan sebagainya, harus dibangun. Perbedaan yang demikian dipandang bukanlah hal yang prinsipil demi kemajuan bangsa Indonesia. Kader - kader PII tidaklah elok dipilah – pilah dan dikotak - kotakan ke dalam berbagai perbedaan - perbedaan yang demikian, apatah lagi jika didikotomikan pelajar santri dan pelajar umum yang merupakan produk dari sistem kolonial. Konflik - konflik yang tidak produktif karena perbedaan atas keberagaman yang demikian, akan membawa pada krisis ummat Islam dikemudian hari.

Sahabat-sahabat PII sekalian..
Sekarang kita sudah berada dalam usia PII yang ke 64, suatu rentang usia yang cukup panjang, yang dilalui oleh gerakan Pelajar Islam Indonesia. Dalam kesejarahannya tersebut, PII selalu membina dirinya dan membina masyarakat. Proses kesejarahan tersebut telah menghasilkan kompleksitas sistem pergerakan kita. Pergesekan kita dengan realitas, yang tercatat didalam momentum - momentum sosial politik di negara kita ini pun turut membangun kompleksitas kedirian organisasi. Telah banyak karya - karya yang dibentuk oleh para aktivis PII sebelum kita. Berkembangnya sistem perjuangan, berkembangnya sistem kaderisasi serta berkembangnya alat dan perangkat organisasi.
Dan saat ini organisasi kita, PII, ini adalah produk dari sejarah, dan sekaligus pencetak sejarah. Atas dasar kesadaran akan kesejarahannya, kader – kader  PII harus mengambil hikmah dengan sikap kritis dan optimis bahwa wadah kita ini adalah wadah yang potensial untuk berbuat; membina diri sebagai pribadi muslim, wadah yang potensial untuk alat perjuangan, wadah yang potensial untuk mencapai sukses studi, wadah yang potensial untuk berlatih. Kita sangat apreciate terhadap karya - karya dan sumbangsih para pendahulu kita melalui PII sebagai wadah pembangun bangsa dan ummat ini.
Namun, kita keliru jika berfikir bahwa peran besar  yang mereka lakukan hanya akan mungkin terjadi dimasa - masa yang lalu. Kita jangan sampai keliru dalam menghikmahi dan mengambil pelajaran dari sejarah. Keliru memaknai sejarah akan membuat kita menjadi inferior dan underestimate terhadap diri kita sendiri. Kekeliruan kita dalam menelaah sejarah akan berakibat kita kehilangan daya nalar dalam menangkap realitas kekinian kita. Bahwa prinsip - perinsip yang perlu kita ambil didalam kesejarahan PII adalah ikhlas dalam artian yang sebenarnya. Para pendiri kita telah membumikan dan menerapkan makna ikhlas dalam perjuangan dengan sebenarnya. Mereka mendirikan dan membentuk PII bukan untuk membesarkan diri dan organisasi, tapi dalam rangka menjawab persoalan faktual yang dihadapi ummat dan bangsa indonesia saat itu.
Besarnya PII adalah konsekuensi, bukanlah tujuan dari pada pendiri  kita. Bahkan pada suatu waktu, Joesdi Ghazali pun heran bahwa pada tahun 90an PII masih ada di Indonesia. Niat yang ikhlas, kemudian harus diiringi dengan visi yang melampaui zamannya, tetapi tetap berpijak pada realitas dimasanya, adalah formulasi idealisme yang mampu menggerakan PII dalam melintasi zaman dengan penuh dinamika. Visi untuk menyatukan ummat Islam Indonesia dan menjayakan Islam Indonesia dengan slogan “izzul Islam wal muslimin”, tetap akan relevan sampai masa yang akan datang. Menegaskan tujuan gerakan, kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan segenap ummat manusia adalah tujuan strategis dalam upaya meletakkan fondasi peradaban.
Pada suatu ketika, jika saatnya tiba, PII akan memainkan peran melewati batas - batas negara dan bangsa. Visi ini bukanlah mustahil dan adalah sangat mungkin pada suatu ketika. Dengan perkembangan zaman yang mulai kita rasakan saat ini, tujuan mulia dari para pendiri kita itu akan menjadi kenyataan. Kedewasaan bersikap dan bijaksana dalam memahami realitas ummat Islam Indonesia adalah poin kedua yang perlu kita langgengkan dari para pendahulu kita. Tampaknya sulit untuk kita harapkan keseragamaan pola keagamaan dalam ummat Islam di dunia ini, apatah lagi jika pada saat sekarang ini, kita berada dalam zaman dimana setiap identitas saling menegaskan keberadaannya. Menjadi syarat penting memiliki sikap dewasa dan bijaksana dalam mengelola perbedaan di internal ummat Islam. Sejak dahulu di Indonesia sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, setelah kemerdekaan saat ini dan sampai masa depan haruslah dihadapi dengan sikap yang telah diteladankan oleh para pendahulu PII.
Pendidikan
Sahabat-sahabat PII setanah air...
Saat ini keresahan kita terhadap dunia pendidikan, khususnya Indonesia, menuntut kesungguhan kita untuk berperan didalam menjawab persoalan - persoalan mendasar. Kita yakin dan percaya bahwa pendidikan adalah fondasi peradaban untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang ideal. Untuk itu kita perlu belajar tentang proses bagaimana tatanan masyarakat, tentang proses bagaimana kejayaan - kejayaan pedaradaban Islam pada masa kekhalifahan yang telah lalu. Islam sebagai Addin telah mampu memerdekakan manusia dalam hal moralitas dan spiritualitas, yang sekaligus menjadi fondasi dalam membangun sebuah sistem pendidikan. Proses sekularisasi yang sedang menggejala hampir keseluruh pelosok bumi pada saat ini adalah tantangan terhadap keyakinan kita yang menempatkan Islam sebagai suatu konsep yang mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan. Sistem pendidikan, mainstream yang ada saat ini mengalami keterpisahan antara ilmu dan tujuan ilmu. Moralitas dan spiritualitas mengalami keterpisahan dalam proses mengilmui dan mengetahui ( ilmu pengetahuan ), sehingga kita mengalami suatu fenomena yang disebut Francis Fukuyama dengan great destrucsion. Amerika (USA), sebagai prototype  negara yang maju secara ilmu pengetahuan mengalami goncangan sosial yang hampir tidak bisa menemukan jalan keluar. Peradaban dunia yang lain yang mengedepankan kemajuan teknologi, mengalami absurditas ketika teknologi menjadi permasalahan terhadap kelestarian bumi. Ilmu pengetahuan akhirnya menjadi permasalahan bukan menjadi jawaban atas permasalahan manusia dan kemanusiaan serta alam
Islam mempunyai pandangan tauhid dalam setiap aspeknya. Worldview atau cara pandang antara manusia, alam dan Penciptanya adalah satu kesatuan. Yang satu merupakan bagian dari yang lainnya. Cara pandang yang sekuleristik menyebabkan keseimbangan alam, manusia dan spiritualitasnya menjadi terganggu sehingga menjadi ancaman bagi kelangsungan kehidupan alam semesta. Dibangku - bangku sekolah para pelajar dididik berdasarkan cara pandang yang tidak utuh dan seakan terlepas dari motif-motif keberagamaan terutama prinsip-prinsip yang harusnya mendasari ilmu pengetahuan. Dari pendidikan dini sampai pendidikan tingkat tinggi, cara pandang pendidikan yang demikian terus dijajalkan sehingga semakin menjauhkan manusia - manusia terpelajar dari cara pandang tauhid. Akhirnya manusia - manusia itu menjadi manusia yang terasing dari kefitrahannya.
Dalam segi kebudayaan sedang terjadi perang hegemoni, yang sangat rumit dan berlangsung secara konsisten. Hilangnya batas - batas geografis dalam era globalisasi informasi memungkinkan persentuhan dan pertukaran budaya yang sangat intensif. Ini adalah satu hal tidak mungkin kita tolak apalagi kita hindari. Dituntut adanya kekuatan pertahanan diri yang sangat kuat untuk menjaga nilai - nilai kefitrahan yang dituntunkan oleh agama kita. Kaum pelajar adalah kaum yang potensial mengalami transisi identitas dan sekaligus kaum yang paling familiar dengan pekembangan teknologi informasi. Ini adalah tantangan kita untuk menbangun suatu fondasi akidah ( keberimanan yang kokoh ) dan argumentatif sehingga mampu menghadapi agresi budaya hedonistik, matrealistik, kapitalistik dan sebagainya, serta sekaligus mampu untuk mensyiarkan keluhuran Addin kita ( Islam ) keseluruh alam semesta ( rahmatan lil alamin ).
Kita sebagai pelajar tidak selayaknya lari apalagi mengisolasi diri dari perkembangan zaman yang ada. Kita adalah generasi yang mau tidak mau harus menaklukan perubahan zaman dan mempertanggungjawabkan keyakinan kita dan menunjukan keagungan dan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Dakwah dizaman sekarang dimana setiap identitas kebudayaan di akui keberadaannya, adalah dakwah yang kompetitif ( fastabiqul khairot ). Keagungan Islam dan keluhuran nilainya serta solutifnya ajaran- ajarannya harus terkomunikasikan sedemikian rupa, sehingga manusia - manusia berilmu di dunia ini menemukan jalan hidayahnya kedalam Islam. Bersikap tegas dan simpatik sekaligus proaktif adalah sikap yang harus kita pegang dalam melakukan dakwah fastabiqul khoirot. Dengan berjiwa besar dan berfikiran besar serta yakin akan kemuliaan Islam akan sangat membantu kita dalam menjalankan tugas - tugas kekhalifahan kita dimuka bumi.
Menyikapi kondisi terkini berkaitan dengan masa depan dakwah Islam di Indonesia, kita dihadapkan pada suatu tantangan yang datang dari dalam dan luar. Stigma tentang islam sebagai sumber terorisme, telah menguasai sebagian besar para penentu kebijakan di negara kita dan terus diturunkan ke level ummat secara massif. Kita tentu saja tidak sepakat dengan tindakan - tindakan yang brutal dan tidak menjunjung nilai - nilai kemanusiaan, tetapi kita juga tidak mau terjadi over generalisasi yang diupayakan oleh para pemegang opini publik di negara ini yang menyudutkan gerakan Islam yang terus berupaya untuk menciptakan tatanan yang islami dinegara Indonesia. Propaganda anti terorisme telah dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mendangkalkan Islam sebagai Addin yang ingin membentuk suatu tatanan peradaban Islam, sekaligus membunuh daya kritis yang konstruktif yang berdasarkan pada prinsip - prinsip Islam. Kita tidak ingin bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam didangkalkan kemudian menjadi inferior terhadap Addin-nya sendiri sehingga kehilangan identitasnya.
Selamat Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia ke 64, mari kita perbanyak kehadiran kita ditengah masyarakat.
Jakarta, 

Selasa, 22 Maret 2011

Every Member of Brigade PII a Prince

"Utuslah beberapa orang diantara kamu untuk mencari tau sesuatu berita di Tanah Kan'an yang dijanjikan; setiap mereka adalah pangeran" perintah Allah pada Musa sebagaimana tercantum dalam kitab Perjanjian Lama.

Beberapa kader PII yang tidak tau apapun tentang Brigade PII sering mengenggap anggota Brigade PII adalah satpam.Fungsi Brigade PII adalah menyokong tercapainya tujuan PII melalui fungsi-fungsi Intelijen.

Yang tau bagaimana pentingnya intelijen dan lembaga intelijen bagi sebuah negara akan mengetahui pentingnya anggota Brigade PII dan Badan Otonom Brigade PII bagi PII.

Mereka yang tidak tau apa-apa tentang Brigade PII tapi berbicara; seperti orang buta SMSan melalui HP. Orang yang mengatakan anggota Brigade PII sebagai Satpam; seperti orang kafir yang tidak tau tapi menghina Islam. Dia yang ingin Brigade PII melebur ke dalam Badan Induk (PII), belum cebok. Mereka yang minta Brigade PII dibubarkan, minta disunat.

Tuhan dalam Perjanjian Lama mengatakan setiap mata-mata adalah pangeran, every spy a prince. Jadi anggota Bridage PII bukan satpam, melainkan setiap mereka adalah pangeran, every member of Brigade PII a prince.

Selasa, 18 Januari 2011

Subang Selalu Senang (Sebuah Laporan Kursus Pemandu)

Bismillahirrahmanirrahim.
Tidak ada wanita yang paling hebat di Indonesia selain PII Wati. Di tengah kegetiran, kesulitan dan kesusahan; mereka mampu memberi manfaat untuk orang lain. Setidaknya itulah pemandangan yang kulihat di dalam gerbong kereta Api yang sangat padat, panas dan pengap dalam perjalananku menuju Subang. Dalam kepanasan yang luar biasa, mereka  masih sempat mengeluarkan sesuatu dari ransel untuk menjadikan benda itu sebagai kipas. Seorang anak yang menangis menjerit karena panas dan pengap. Ibunya yang juga dalam keadaan yang susah jadi panik. Wanita-wanita terbaik di Indonesia itu mengipasi anak itu. Anak tersebut-pun menjadi agak nyaman.

 Pemandangan PII Wati yang heroik seperti ini tidak kutemukan pada PII Wati di Aceh. Di sana, PII Wati-nya cemen, mengkek, manaja dan menyebalkan. Kehadiran mereka bukan malah membantu, sebaliknya selalu menambah beban dan merepotkan. Kukira hanya PII Wati Aceh saja yang tidak punya jiwa herok Malahayati dan Cut Nya’ Dhien. Karena hanya PII Wati Aceh saja yang demikian dan lainnya tidak: PII Wati tetaplah wanita-wanita terbaik, di Indonesia, setidaknya.

***

Allah SWT telah memberikan kelonggaran dalam shalat dengan memebenarkan menjamaknya bila dalam berperjalanan: Setidaknya menurut jarak tertentu. Setahuku 83 km atau lebih. Allah SWT tidak menghitungnya menurut waktu atau jarak tempuh. Mereka yang “terlalu pintar berijtihad” menganggap bila naik pesawat kita tidak boleh jamak shalat. Padahal naik pesawat maupun kereta api, misalnya, tidak lepas dari perlunya menjamak shalat. Sebab, proses-prosesnya juga menyita waktu, seperti menunggu pemberangkatan. Hal inilah yang dialami Musa. Dia memutuskan tidak menjamak ashar ke dalam zuhur saat kami transit di lokasi Training LBT PII di Karawang. Akibatnya, entah bagaimana caranya, dia harus bisa menyelesaikan shalat asharnya satu menit seja sebab kereta api yang akan berangkat ke arah stasiun Sadang beberapa detik lagi tiba. Melihat Musa, saya teringat dengan kebaikan Allah SWT yang tidak diindahkan makhluknya.

***

Sebelumnya kikira akulah satu satunya instruktur PII yang mengelola training sendirian. Aku pernah melakukannya pada Ramadhan 2008 di Kopelma, Darussalam.. Ternyata, Zaki, PW PII Jakarta Raya, juga melakukan hal yang sama di karawang. Sama, Intermediate Training juga. Untungnya, aku lebih beruntung dari Zaki, keterbatasanku karena seorang diri dapat kututupi dengan mengundang KB PII yang telah menjadi dosen-dosen ternama IAIN Ar-Raniry untuk mengisi materi-materi.

***

Awalnya kami tidak berencana melaksanakan Kursus Pemandu (KP), namun karena aku tidak ingin ditinggalkan sendiri di lokasi Training Sunbang oleh teman-teman yang bukan tim instruktur LBT, aku menawarkan mereka untuk kita laksanakan KP. “Bagaimana kalau kita KP: Agar tidak dianggap makan grati saja oleh PII Subang.” Tawarku. Beberapa di antara mereka menerima dengan semangat tawaran itu, yang lain ragu-ragu. Ada juga yang tidas setuju. Seorang Mu’addib tidak saja hanya melaksanakan ta’dib secara tunduk dan patuh pada “kitab keramat PII’ itu, bagiku, yang jauh lebih penting dari itu adalah semangat dan realitis dalam menerapkan konsep-konsepnya. Semangat itulah yang membuatku terus memotifasi kader-kader pasca Intra untuk mengikuti KP. Selain itu, seorang Mu’addib harus menggiring sasarannya ke arah yang diinginkan tanpa kesan pemaksaan. Ini juga yang kulakukan hingga terrlaksanalah KP itu setelah melalui proses persuasi selama dua hari.

Hari ke-3 training, KP dibuka dengan jumlah peserta enam orang. Kami melaksanakannya dengan persiapan seadanya. Modal paling penting telah terpenuhi: ada Ta’dib dan Mu’addib qualified. Sebelumnya, Zaki yang tidak istirahat setelah mengelola Intra di Karawang, langsung kembali memegang kendali LBT Subang, menawarkanku, masuk tim. Aku menolaknya bukan karena sombong. Namun aku mengatakan, kalau aku pemail bola sepak, telah gantung sepatu. “Saya memang belum gantung Ta’dib, namun saya telah gantung Silabus, Batra dan Intra. Jadi artinya aku akan mengelola KP.

Aku memutuskan tidak lagi mengelola, terutama Intra dan LBT, karena ingin memberi kesempatan pada para instruktur-instuktur baru untuk belajar dan agar mereka yang belum memenuhi kualifikasi tertentu dapat mewujudkannya dengan banyaknya kesempatan untuk itu. Aku telah menjadi Koordinator Tim (Kortim) LBT dan Intra, masing-masing sebanyak tiga kali. Bagiku, kalau aku pemain bola, sudah saatnya memundurkan diri.

Dua orang antara peserta awal terpaksa tidak mengikuti KP karena diminta membantu tim LBT menjadi observer ruangan dan obserfer materi. Karena kerja observer adalah mengawasi, maka Yazid menyebut observer sebagai “malaikat”. Namun kehilangan dua orang itu tidak membuat KP urung dilaksanakan.  Berdatangan beberapa peserta lain, diantara mereka ada yang baru saja mengikuti Intra di Karawang.  Total peserta adalah tujuh orang. Lebih banyak satu orang daripada Kursus Mu’allim (KM) yang dilaksanakan PD PII Bireuen selepas Lebaran Puasa 2010. KM tersebut adalah yang paling unik sepanjang sejarah sebab beberapa materinya, temasuk baiat peserta dilangsungkan di warung kopi Star Black, Bireuen, tepatnya di lantai dua, di tengah kerumunan manusia yang sedang online dan menikmati kopi.

Menerapkan ta’dib, menurutku sama seperti menerapkan Al-Qur’an dan Hadits. Kita harus benar-benar memahami jiwanya. Kita harus memahami dengan benar psikologi sasaran. Setiap realitas yang ada tidak boleh serta-merta dihadapi secara frontal. Kita harus benar-benar memahami kondisi psikologis individu dan sosio-kultural sasaran. Setidaknya inilah yang kuterapkan saat mengelola Intra di Lhokseumawa 2010. Di atas kertas, banyak dari peserta tidak layak diluluskan sebagai peserta Intra. Namun karena mengingat kondisi mental-psikologis peserta bila tidak diluluskan, akan berdampak pada berkurangnya semangat mereka ber-PII. Selanjutnya aku harus realistis dalam melihat kondisi PII Lhokseumawe dan Aceh Utara: Kalau mereka tidak diluluskan, PII Lhokseumawe dan Aceh Utara tidak punya pilihan lain dengan tetap harus melibatkan mereka sebagai pengurus. Jadi, pertimbanganku, Intra ini harus intensif. Harus banayak penekanan pada sistem manajemen organisasi dan pemahaman administrasi. Dengan catatan tidak melupakan fokus utama Intra yaitu kemampuan analisa sosial serta kepekaan terhadap persoalan-persoalan ummat.

Intra dilanjutkan dengan KP. Kualitas kader yang baru saja lulus Intra tidak memiliki banyak perubahan, terutama kelayakan mengikuti sebuah kursus, ditambah minat beberapa peserta menurun untuk mengikuti KP dengan alasan sekolah sudah dimulai kembali. Kuputuskan tidak membaiat seorang pun dari peserta Intra. Kukatakan tidak dianggap lulus Intra tanpa lulus KP. “Ijtihad” ini kulakukan dengan alasan karena kulihat banyak kader Batra PII Lhokseumawe dan Aceh Utara berhilangan begitu saja pasca training. Aku menduga, dan menemukan sedikit indikasi, ini disebabkan kurangnya loyalitas kader pasca Batra. Hal ini terjadi biasanya karena kader belum pahan benar tentang PII. Seorang kader akan memiliki loyalitas tinggi bila dia telah memiliki banyak kesan dengan PII. Hal ini harus diselesaikan dengan cara mem-Pra-Batra kan kader-kader. Kalau mengharapkan persoalan ini dapat diselesaikan melalui ta’lim, kukira keliru. Sebab, ta’lim bagi peserta yang lemah dalam semangat dan kendur dalam minat hanya membuat kader betah mengikuti ta’lim dua atau tiga kali pertemuan. Sebab itu, kupaksakan agar PII Lhokseumawe dan Aceh Utara punya banyak pemandu.

***

Innovasi yang membuat kader PII Aceh tercengang berawal dari permintaan Teuku Qadarisman, Kabider PII Bireuen, padaku untuk memberikan semacam kajian bagi para kader Pasca Intra anggota Brigade agar mereka dapat memiliki suatu konsep dalam menangani  sekitar 30-an anggota Brigade PII Bireuen yang baru saja LBTD pada Ramadhan 2010 di SMP 5 Bireuen. Aku berfikir satu hari untuk menjawab permintaan Risman. Inspirasi melaksanakan kursus yang dapat menciptakan para mu’allim gaul muncul saat dagangan underwear laris manis di Matangglumpangdua: Para mu’allim itu akan menangani anak-anak Brigade yang memiliki karakter berbeda dengan kader-kader PII lain. Meski seorang mu’allim itu harus menonjolkan suri tauladan serta rajin beribadah, sesuai petunjuk kitab keramat kami, ta’dib, namun mereka harus dibungkus dengan baju gaul dan semangat pantang kendur. Sekali lagi, yang akan mereka tangani adalah kader-kader PII yang barusaja lulus LBTD. Para pemateri dalam KM gaul itu adalah Khairil Anwar, Amrizal dan Putra Diansyah. Aku menyukai instruktur-instruktur yang tidak pernah berhenti belajar dan selalu meningkatkan kualitas inteletual mereka. Ini pula yang langka di Aceh. Mungkin inilah alasanku kenapa tidak pernah bisa memandang Supyan “Ali” Suri secara negatif. Minatnya akan ilmu memberi hijab bagi mataku akan tindakan-tindakannya yang negatif. Sama seperti Ali, Amrizal juga dipandang negatif, dengan alasan yang berbeda, oleh beberapa kader PII, sebab mereka tidak memakai cara berfikir: positif-kritis.

Awan terjadinya error dalam KP kami di Subang saat aku membawakan materi yang membicarakan posisi manusia dalam pandanganta’dib serta Ta’dib dalam pendidikan Islam. Saat aku sedikit membuka wacana pada filsafat manusia, peserta terlihat begitu antusias, terutama saat aku mengaitkan kajian manusia denga terori-teori ilmuah modern dan kontemporer. Dalam buku “Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquid Al-Attas”, Wan Muhammad Nur Wan Daun menerangkan bahwa menurut Al-Attas, dari tiga sistem pendidikan Islam—talim, ta’dib dan tarbityah—sistem ta’dib lebih baik sebab dia membentuk adab, moral, etika dan akhlak manusia. Dengan cara itu, adab manusia-manusia akan membentuk kebudayaan. Rasulullah sendiri diutus untuk meluruskan akhlak, adab.

Sistem tarbiyah hanyalah membentuk manusia yang memiliki karakter ketuhanan dan mendekatkan manusia pada pengabdian semata. Hal ini tidak dapat menjadikan manusia sebagai “Khalifatullah” untuk memakmurkan bumi. Amanah memakmurkan bumi membutuhkan kepekaan tingkat tinggi serta memiliki kemampuan formulasi dan pendekatan yang integral dengan realitas yang sedang berlaku. Hal ini bukan berarti menuntut manusia untuk pandai mengakal-akali amanah Allah, melainkan menggunakan akal untuk menerapkan amanah Allah dengan santun dan realistis agar target tercapai. Jalan ini tidak akan membuat manusia menjadi alien, paradoks dan melahirkan penyakit  hati serta depresi karena hanya mampu melihat realitas yang semakin bangsat tanpa mampu melakukan suatu kontribusi apapun.

Disamping itu sistem pendidikan Islam: Ta’lim (Bukan “ta’lim” yang merupakan bagian dari sistem kadersasi PII yang tertera dalam buku panduan kaderisasi PII’ “ta’dib”) hanya memberi peran dalam memberi pengetahuan yang sekedar tau saja tanpa memberi kesadaran dan motifasi untuk mengamalkan apa yang diketahui. Islam adalah agama yang mengutamakan pengamalan dari sekedar pengetahuan. Pengetahuan tidak akan mempu membentuk kebudayaan atanpa ada pengamalan.

***

“Mana laporannya” Pertanyaan itu yang selalu keluar dari mulut Musa setiap berjumpa ataupun sekedar papasan denganku. Awalnya kalimat itu membuatku risih. Lama-lama menjadi terbiasa. Kuanggap saja itu sebagai ucapan tegur sapa.

“Kan, maksimal empat belas hari” sanggahku. “Aku akan membuat laporan yang bagus untukmu. Persis seperti sebuah jurnalisme sastrawi. Deskripsi peserta akan kusajikan dengan jelas. Kualitas peserta akan kuuraikan seperti sebuah cerita hingga nilai mereka dapat diberikan langsung oleh yang membaca. Pelatih itu bukan hakim.” Kataku. Meski aku sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja kujanjikan pada Musa, aku memimpikan laporan yang tidak memberi nilai-nilai seperti menghakimi peseerta. Aku merindukan sebuah laporang yang mampu disajikan secara benar-benar deskriptif sehingga setiap pembacanya bisa memberi nilai sendiri pada masing-masing peserta.

***
Kondisi Lokasi

Setelah turun dari bis yang telah mengantarkan kami menempuh waktu lebih satu jam dari stasiun Sadang, kami berjalan kaki, mungkin sampai satu kilometer jarak yang kami tempuh dengan berjalan di tengah gelap gulita. Hanya sesekali kami menemukan cahaya dari teras rumah-rumah warga yang di pinggir jalan. Aku terseok-seok dengan sebuah koper milik Anis, seorang instruktur dari PII Jawa Tengah yang membantu PW PII Jakarta mengelola LBT.

SMK PGRI Subang adalah lokasi yang kami tuju. Tiba di sana kami disambut beberapa orang panitia. Kata Yazid, PD PII Subang haya memikili beberapa orang kader Intra. Lokasi ini sangat kondusif: agak jauh dari pemikiman warga; punya lapangan yang luas hingga peserta dan panitia bisa bermail volley dan basket bila ada waktu luang (meski ada gawang dan lapangan untuk bermain futsal—sialnya kami tak bisa main pertandingan yang Indonesia menjadi juara Asia itu karena bolanya di rung guru dan; ada sebuah masjid kecil di dalam komplek sekolah, jadi kami tidak perlu repot-repot shalat terlalu jauh atau harus menyulap salah satu ruang belajar menjadi mushalla seperti yang sering di lakukan di PII Aceh saat training.

Ruang KP tak terganggu oleh panitia, peserta LBT maupun oleh instruktur. Ruang KP berada di ujung dari seluruh ruangan. Selain tidak terganggu, tempat ini jauh lebih segar sebab udara bebas keluar masuk tanpa hambatan. Meskipun jarak antara ruang tidur peserta dan instruktur dan ruang instruktur agak jauh namun hal ini tak pernah menjadi kendala. Ingat KP Kami lima hari.

Yang agak menjadi kendala adalah rasa tidak enak dengan panitia. Kami rasa, mereka tau kami cuma makan gratis dan memberatkan mereka saja. Padahal awalnya aku mempersiapkan peserta KP dengan materi yang longgar agar bisa membantu kerja panitia. Namun setelah KP dimulai, panitia menolak peserta KP ikut memasak, entah karena takut menghambat jalannya kursus atau karena bibit sentimen itu telah ada. Yang jelas, setelah dua hari KP dimulai, panitia meminta peserta KP menyumbangkan uang guna memenuhi kebutuhan konsumsi. Katanya panitia sedang kesulitan pendanaan. Tapi mungkin tidak ada di antara peserta KP yang membayar, sebab, aku tau, tidak seorangpun di antara mereka yang punya uang lebih dari sekedar ongkos. Bahkan aku dan Yazin tidak punya uang meski seribu rupiahpun. Tumpuan kami adalah Zaki. Kalau Zaki tidak mau bawa pulang kami, mungkin kami berdua harus pulang dengan berjalan kaki ke Jakarta. Untungnya Melly dapat kiriman uang dari saudaranya. Aku dan Yazid diberi masing-masing lima ribu rupiah. Dan untunglah Zaki tidak melupakan kami.

Kondisi Ruangan
 Ada beberapa alasan kenapa pelatih atau instruktur harus mengganti-ganti posisi duduk peserta. Pertama karena masalah keaktifan peserta. Kedua, karena kedekatan peserta di mana bila yang lebih akrab duduk berdekatan mereka akan membuat forum di dalam forum. Roker posisi peserta pada KP ini kukira tidak perlu karena semua peserta aktif. Kalaupun ada yang aktifnya di bawah rata-rata, maka itu semata-mata karena sedang sariawan seperti Gugun, atau karena sedang memiliki beban pikiran seperti Pepy sebab seperangkat alat mandinya hilang.

Keberadaan kursi-kursi dan meja-meja di belakang posisi duduk peseta memang agak mengganggu. Namun, kursi-kursi dan meja-meja ini sering dimanfaatkan peserta-peserta wan untuk tidur. Hampir setiap malam peserta wan tidur di ruang belajar. Hampir setiap malam kami semalaman melewatkan malam dengan online, main game dan nonton Holywood. Saya sarankan adegan ini jangan ditiru di KP lain, bila tidak ingin KP-nya sampai lima hari seperti kami..

***

Ahmad Syair

Kawan kawan dapat melihat foto profil fb-nya dengan gambar pemuda kartun pakai kacamata. “Biasanya yang pakai foto profil gambar kartun atau bunga orangnya jelek, tidak PD” kataku pada Syair. “Enggak loh ,Bang. Saya ini ganteng, loh” Sanggahnya sambil memperlihatkan foto-foto profil lainnya. Kulihat salah satu fotonya. Dia memang lumayan (Takmungkin kusebut dia ganteng karena aku sejenis kelamin dengannya. Nanti banyak yang curuga). Foto itu adalah seorang remaja yang berperawakan mirip Cina. Lumayan.

Syair suka menanggapi dengan cepat setiap pertanyaan yang diberikan ataupun menanggapi temannya. Namun kecepatan ini tidak disertai dengan daya analisa yang memadai. Dia juga terlihat gagok dalam berbicara sebab kata-kata yang keluar dari mulutnya terlalu cepat. Mungkin karena lidahnya tak mampu mengimbangi pikirannya yang mengalir tajam.

Romadoni

“Salah satu tujuan saya mengikuti KP ini adalah untuk membangunkan saya dari tidur ini” Spontan saja kalimat yang keluar dari mulut Doni membuat teman-teman tertawa. Dia memang terlalu banyak tidur. Saat meteri berlangsung dia ketiduran. Saat istirahat dia paling cepat tidur. Selesei imam salam kepalanya langsung tertunduk dan tertidur. Aku menduga sel-sel otaknya belum benar-benar aktif. Kira-kira seperti bayi yang butuh banyak tidur. Mungkin!

Melly menggelarinya “Abu Nawm” Dai memiliki banyak kelemahan dalam berbicara. Dia gagok. Aku meragukan kemampuannya mengelola sebuah kursus, apa lagi menjadi pemandu ruangan saat Pra-Batra. Kekurangannya ini terlihat jelas saat dia Kultum. Aku menyarankannya banyak-banyak membaca. Membaca selain dapat menjadi kekuatan untuk menulis, juga memberikan kefasihan lidah dalam berbicara.

Aku heran kenapa di sini peserta LBT tidak diwajibkan kultum oleh Kortim. Setahuku hampir semua training di Aceh pesertanya wajib kultum. Apalagi dengan kondisi yang sangat mendukung seperti ini. Jadi, kuputuskan para peserta KP memberikan kultum secara bergilir pada beberapa hari menjelang training bubar.

Sayangnya Doni terlalu mudah terkena rayuan Melly. Dia bahkan di-per-alat dan dijadikan persis seorang pembantu bagi perempuan itu. Dia senang-senang saja melakukan apa yang diperintahkan Melly. Cinta memang menuntut pengorbanan. Apalagi mendapatkan kesempatan duduk semeja dengan Melly dan sering difoto oleh gadis itu. Kukira kalau lebih sering lagi difoto oleh Melly, dia bahkan akan rela menyerahkan nyawanya untuk PII Wati asal Cianjur itu.

Yazid Qubuddin

Dia memiliki pikiran-pikiran cemerlang dan orisinil. Sayangnya dia terlalu banyak main-main dan menjadi penyebab utama kenapa sebuah KP harus memakan waktu sampai lima hari. Katanya: ”Di Menteng pun mau ngapain, Bang. Makan ’aja terancam”. Kata-katanya itu memang benar. Untunglah ini tidak diutaraka di hadapan orang, kalu tidak bisa malu aku. Kepada kawan-kawannya yang mendesak agar segera saja seluruh materi diselesaikan. Dia menjawab. ”Di rumah, pun mau ngapain’. Tapi kalau alasan ini di sampaikan pada Pepi, perempuan mungil itu akan merengek-rengek dan menjerit lantang ”Pokoknya aku mau pulaaang’ setelah puas menjerit, setelah berulang kali didesak kenapa buru-buru pulang –karena kami khawatir jangan-jangan ibunya masuk rumah sakit atau kakaknya mengalami pendarahan yang membuat dia hendak buru-buru pulang—dia akan bersuara dengan irama yang sangat lembut dan membuat kucing-kucing sedang bunting bersedih ”Di sini boseen” Ah, bosan. Kupikir karena pamannya sedang di ruang ICU akibat kecelakaan lalu-lintas atau ada kepentingan apa yang mendesak. Mendengar itu Yazid menengadahkan wajahnya ke langit, memejamkan mata dan meremas rambutnya seraya berkata ”Alaaah, maak.” Kucing kurapan pencuri tahu-tempe milik panitia yang sedang memasak ikut mengelus kepala. Kalau kucing itu bisa bahasa manusia, aku sangat yakin dia akan berkata sama seperti yang diucapkan Yazid ”Alaaah, maak.”

Di antara mereka semua, Yazid adalah peserta KP yang paling dekat denganku karena  dia paling sering datang ke Menteng. Kami sering berbagi online, sharing ide dan gagasan bersama dan bersama menertawakan kegetiran yang kami hadapi. Di lokasi training Subang, kami masih melakukan hal yang sama bersama. Pikiran-pikirannya terlalu banyak dipengaruhi Korpu Brigade PII periode lalu. Katanya hanya dengan revolusi baru kita ’kan mampu menciptakan perubahan. Aku menganggap aneh ide demikian, aku yakin ini adalah buah pikir As’ari atau As’ari dkk. Ide ini sangat tidak realitis. Kondisi masyarakat, politik, dunia global dan sistem negara saat ini benar-benar tidak memberi selah sedikitpun untuk ide ini.

”Rekayasa Sosial” kata Korpus Brigade PII periode-periode lalu. Apanya yang mau di rekayasa: Merekayasa Menteng  Raya 58 saja mustahil. Lagi pula begini: Kader yang mau berbuat secara serius untuk Brigade PII adalah mereka yang telah selesai mengikuti LBTD. Mereka belum tersentuh pada kepekaan emisional maupun pemahaman sosiologi. Jadi bagaimanapun ide-ide tentang sosial takkan mampu mereka terima. Kalaupun mereka telah di-Intra-kan sehingga sedikit banyaknya mereka telah mampu memahami persoalan dan memiliki bekal tentang gerakan sosial; namun pasca Intra, komitmen ke-Brigade PII-an akan kendur, sehingga semangat gerakan akan misi-misi Brigade PII tak lagi mereka respon dengan semangat.

Ujang Gugun Gunawan

Tak kusangka dia adiknya Eka Setiawati. Kecantika Eka sama sekali tak mengalir pada adiknya ini, meskipun pemuda ini ganteng dan keren. Dia suka diam saja dan kadang-kadang tersenyum mengamati komentar-komentar temannya. Dia adalah komandan Brigade PII Karawang. Namun belum mengikuti LBTD. Tapi dia teken kontrak untuk ikut LBTD. Ini persis seperti yang dilakukan Ping, Komandan Korda Brigade PII Bireuen. Alhamdulillah Ping telah melaksanakan kewajibannya. Mudah mudahan Gugun juga.  

Tinggi, keren dan pendiam. Ini adalah karakter yang disukai cewek-cewek. Aku yakin setiap malam ada beberapa cewek yang merindukannya sekaligus dalam waktu bersamaan. Melihat kawan-kawannya yang sedang alot bertengkat, dia tetap diam dan tenang; sesekali tersenyum. Ini misteris. Kenapa dia tak terpancing untuk merespon topik yang sedang diperbincangkan, padahal sering panas, apalagi Nellya aktor utamanya: Sama sekali tidak memahami, atau tak paham sama-sekali; atau kadang-kadang paham betul dan kadang-kadang tak tahu sama sekali. Tapi yang membuat aku salit padanya adalah kemampuannya yang di atas rata-rata dalam menguasai forum saat dia berpraktik Micro Teaching. Juga sangat dewasa dan berwibawa.

Anto Suryanto

Gerak. Kehidupan ada karena gerak. Mata berfungsi: melihat, karena ada gerak. Aku yakin bila unsur-unsur atom dari setiap benda tidak bergerak, tidak akan mampu mata-mata melihat sesuatu apapu.

Mereka yang pesimis dan putus asa dalam hidup adalah orang yang malas bergerak. Allah SWT hanya menyuruh kita bergerak, lalu rezeki kita Dialah yang mengaturnya. ”Selesai shalat, maka bertebaranlah di muka bumi mencari karunia Allah SWT.” Itu adalah perintan untuk bergerak.

Demikianlah inspirasi kudapat dari kuliah yang hanya disampaikan Anto selama tujuh menit dihadapan jamaah shalat fardu Isya: Kuliah Tujuh Menit!.

Tipikalnya pendiam. Dia rajin membaca. Diamnya ini tidak lantas membuatnya kikuk maupun kaku dalam membawa materi. Seperti yang telihat saat Micro Teaching, Ketum PD PII Karawang ini begitu bersemangat dalam menyampaikan materi. Penguasaan materi dibarengi dengan keahliannya menguasai suasana ruangan. Sempurna. Inilah tanggapan yang dapat kuberikan pada pemuda tinggi, tegap berkulit cokelat ini. Kalau boleh memilih satu peserta KP terbaik, maka dialah orangnya. Dan aku berhak untuk itu.

Pepi Oktaviani

“Puulaaang. Aku mau pulaaaang.” Inilah kalimat yang selalu keluar dari mulut siswi SMA kelas XII ini. Bila sedang istirahat atau waktu luang untuk mengerjakan tugas-tugas, dia selalu menjerit dan terkadang kalau sudah lelah menjerit, dia berbisik pelan: “Puulaaang. Aku mau pulaaaang.” Seruan lembut penuh pilu itu akan membuat tikus-tikus di selokan berhenti bekerja, tertegun sebentar, lalu mengucurkaan air mata dan kemudian kembali mengais sampah untuk makan malam.

Sulit bagiku menemukan minat dan keahlian yang dimiliki PII Wati berkulit putih dan mungil ini. Hingga suatu hari aku memintanya membacakan puisi-puisiku di catatan fb. Dia begitu menghayati pekerjaannya ini. Totalitas dalam mengekspresikan untaian kata dalam sebuah puisi. Intonasi yang berirama luar biasa dipadukannya dengan gerak tubuh yang sempurna.

Kalau Melly sedang ngos-ngosan menyampaikan pemikiran filsafatnya, Pepi hanya mampu melongoh, melotot matanya namun teduh, membuka mulut lebar-lebar dan setelah Nelly selesai ”mengoceh”, selalu Pepi bertanya dengan nada minta dikasihani pada Melly ”Apa, Kak? Aku ’gak ’ngerti.”

Dua orang Wati di ruangan kami ini benar-benar bertolak belakang satu sama lain: yang satu terlalu logika-logikaan dan gila filsafat, satunya lagi berlebihan menggemari sastra terutama puisi hingga terserap ke dalamnya.

Melly M Azizah

Kehadiran Melly mengingatkanku pada pepatah; “Bila engkau tertawa, maka dunia akan tertawa bersamamu. Dan bila kau menangis, maka engkau sendiri”. Sebab itu Melly memilih untuk menjadi pribadi yang senantiasa ceria. Keceriannya ini mampu menghipnotis teman-temannya yang lain hingga membuat mereka selalu senang. Karenanya Subang selalu senang.

***

Kondisi Lokasi

Setelah turun dari bis yang telah mengantarkan kami menempuh waktu lebih satu jam dari stasiun Sadang, kami berjalan kaki, mungkin sampai satu kilometer jarak yang kami tempuh dengan berjalan di tengah gelap gulita. Hanya sesekali kami menemukan cahaya dari teras rumah-rumah warga yang di pinggir jalan. Aku terseok-seok dengan sebuah koper milik Anis, seorang instruktur dari PII Jawa Tengah yang membantu PW PII Jakarta mengelola LBT.

SMK PGRI Subang adalah lokasi yang kami tuju. Tiba di sana kami disambut beberapa orang panitia. Kata Yazid, PD PII Subang haya memikili beberapa orang kader Intra. Lokasi ini sangat kondusif: agak jauh dari pemikiman warga; punya lapangan yang luas hingga peserta dan panitia bisa bermail volley dan basket bila ada waktu luang (meski ada gawang dan lapangan untuk bermain futsal—sialnya kami tak bisa main pertandingan yang Indonesia menjadi juara Asia itu karena bolanya di rung guru dan; ada sebuah masjid kecil di dalam komplek sekolah, jadi kami tidak perlu repot-repot shalat terlalu jauh atau harus menyulap salah satu ruang belajar menjadi mushalla seperti yang sering di lakukan di PII Aceh saat training.

Ruang KP tak terganggu oleh panitia, peserta LBT maupun oleh instruktur. Ruang KP berada di ujung dari seluruh ruangan. Selain tidak terganggu, tempat ini jauh lebih segar sebab udara bebas keluar masuk tanpa hambatan. Meskipun jarak antara ruang tidur peserta dan instruktur dan ruang instruktur agak jauh namun hal ini tak pernah menjadi kendala. Ingat KP Kami lima hari.

Yang agak menjadi kendala adalah rasa tidak enak dengan panitia. Kami rasa, mereka tau kami cuma makan gratis dan memberatkan mereka saja. Padahal awalnya aku mempersiapkan peserta KP dengan materi yang longgar agar bisa membantu kerja panitia. Namun setelah KP dimulai, panitia menolak peserta KP ikut memasak, entah karena takut menghambat jalannya kursus atau karena bibit sentimen itu telah ada. Yang jelas, setelah dua hari KP dimulai, panitia meminta peserta KP menyumbangkan uang guna memenuhi kebutuhan konsumsi. Katanya panitia sedang kesulitan pendanaan. Tapi mungkin tidak ada di antara peserta KP yang membayar, sebab, aku tau, tidak seorangpun di antara mereka yang punya uang lebih dari sekedar ongkos. Bahkan aku dan Yazin tidak punya uang meski seribu rupiahpun. Tumpuan kami adalah Zaki. Kalau Zaki tidak mau bawa pulang kami, mungkin kami berdua harus pulang dengan berjalan kaki ke Jakarta. Untungnya Melly dapat kiriman uang dari saudaranya. Aku dan Yazid diberi masing-masing lima ribu rupiah. Dan untunglah Zaki tidak melupakan kami.

Kondisi Ruangan
 Ada beberapa alasan kenapa pelatih atau instruktur harus mengganti-ganti posisi duduk peserta. Pertama karena masalah keaktifan peserta. Kedua, karena kedekatan peserta di mana bila yang lebih akrab duduk berdekatan mereka akan membuat forum di dalam forum. Roker posisi peserta pada KP ini kukira tidak perlu karena semua peserta aktif. Kalaupun ada yang aktifnya di bawah rata-rata, maka itu semata-mata karena sedang sariawan seperti Gugun, atau karena sedang memiliki beban pikiran seperti Pepy sebab seperangkat alat mandinya hilang.

Keberadaan kursi-kursi dan meja-meja di belakang posisi duduk peseta memang agak mengganggu. Namun, kursi-kursi dan meja-meja ini sering dimanfaatkan peserta-peserta wan untuk tidur. Hampir setiap malam peserta wan tidur di ruang belajar. Hampir setiap malam kami semalaman melewatkan malam dengan online, main game dan nonton Holywood. Saya sarankan adegan ini jangan ditiru di KP lain, bila tidak ingin KP-nya sampai lima hari seperti kami.

Mentra 58, 12 Januari 2011


Tamat

Jumat, 14 Januari 2011

Komitmen Ke-pelajar-an Pelajar Islam Indonesia (PII)

 Seorang siswa SMP yang dalam pikirannya hanya ada masalah sekolah dan persoalan keluarga; dengan aktivitas sehari-hari yang hanya sekolah, lalu pulang sekolah membantu orang tua membersihkan rumah dam mempelototi buku-buku pada malam hari berubah sangat-sangat derastis hanya dalam waktu tujuh hari. Kalau sebelumnya siswa SMP itu pekerjaannya hanya berangkat ke sekolah dan belajar, kini dia ke sekolah tidak hanya untuk belajar, namun juga untuk mengorganisir teman-temannya supaya memiliki kesadaran kritis dalam belajar. Dia juga sering memberi saran pada guru-gurunya mengenai strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa-siswa meresa betah dan nyaman.

Oleh Pelajar Islam Indonesia (PII), seorang siswa SMP yang dulunya hanya memikirkan perkara keluarga dan teman-teman, memikirkan kondisi ummat Islam dan masyarakat dunia. Kalau sebelumnya seorang siswa kerjanya hanya mengerjakan PR dari sekolah yang lebih cocok disebut penindasan, kini mereka menjadi mitra pimpinan-pimpinan lembaga pemerintahan bahkan hingga kepala pemerintahan daerah guna menyampaikan segala macam persoalan ummat serta mengawasi kinerja mereka.

Realitas ini hanya bisa ditemukan pada siswa, yang bahkan baru, setingkat SMP yang telah tersentuh oleh training PII. Inilah komitmen PII dalam membangunkan raksasa tidur dalam diri seorang anak, yang oleh masyarakat umum menganggap mereka sebagai kacung dan oleh PII menjadikan mereka agan, agen perubahan sosial. PII memberi pelajar sebuah pandangan dunia yang luas; PII memberi sebuah prinsip idelitas yang jelas. PII menanamkan prinsip dan Iman Islam pada pelajaran, membekali mereka mental yang tangguh serta memberi dorongan kuat pada pelajar untuk senantiasa mengembangkan intelektualitas.

Karakter kader PII yang seperti ini sering sekali mengancam eksistemsi mereka di lembaga pendidikannya sebab banyak guru-guru yang tidak senang akan protes dan kritik kader PII. Guru-guru yang maunya tidak ribet dan tidak mau susah-susah dalam melakukan pekerjaannya sering mengajar sebatas mengejar target kurikulum dan silabus lalu setiap bulan mengambil segepok uang yang disebut gajii; setiap seminar pendidikan berbondong-bondong para guru mengikutinya meski tidak mendengar satu katapun dari mulut pemareti seminar: yang penting pulang seminar dapat sertifikat. Sertifikat untuk penyataraan, lalu naik pangkat. Tujuan tertinggi adalah naik gaji. Itulah yang terlintas dalam otak hampir semua guru. Inilah pola pikir mayoritas guru. Jadi wajar seja mereka sering berbenturan pemikiran dan sering terjadi pertikaian dengan kader PII, siswanya. Kalau, dan sering, pertikaian ini terjadi, dapat dipastikan selalu kader PII yang dirugikan: mendapat nilai anjlok karena dendam guru dan bahkan ada yang dipecat dari sekolah karena menyuarakan kirik pada gurunya yang sama-sekali tidak idealis itu!

II.1.a Pelajar Sebagai Sasaran

Bagi PII, pelajar adalah sebuah entitas sosial yang paling signifikan dalam membentuk sebuah peradaban ideal di masa depan. Organisasi-organisasi lain pesimis akan kemampuan pelajar sebagai sasaran kaderisasi dan rekrutmen karena menggap mereka belum mampu mengemban tugas rekayasa sosial. Namun PII yakin pelajar adalah sasaran terbaik dalam membangun sebuah peradaban yang ideal. PII adalah penentu masa depan bangsa di masa depan. Pembekalan akan nilai-nilai ideal ke dalam diri pelajar adalah modal yang sangat potensial guna perubahan yang diharapkan. Ketika organisasi-organisasi lain tak terlintas dalam pikirannya untuk melihat potensi pelajar—pelajar sebagai bagian dari massa masyarakat yang sangat besar jumlahnya—PII menjadikan pelajar sebagai satu-satunya sasaran utama rekrutmen.

II.1.b Pelajar Sebagai Subjek

Pandangan PII terhadap dunia pendidikan berseberangan dengan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia. Bagi PII, pelajar tidak boleh menjadi sasaran pengajaran semata. Dalam sitem belajar-mengajar, pelajar harus lebih aktif daripada pengajarnya. Sistem seperti ini akan menjadikan pemikiran pelajar lebih aktif serta memiliki nalar kritis dalam merespon sesuatu. Mereka diarahkan untuk tidak menerima sesuatu secara mentah apa adanya. Bagi PII, pelajar  harus kritis dan dinamis. Hal ini akan menimbulkan progresifitas dalam diri setiap pelajar. Pengajar tidak boleh menjadi sebagai majikan yang hanya menyuruh saja pada siswa atau bukan sebagai algojo yang kehadirannya membuat siswa tertekan sehingga mematuhi segala titahnya. Seorang pengajar harus menjadi sumber semangat dan motifator pada siswanya agar mereka belajar atas semangat sendiri, bukan karena desakan dan paksan dari pihak manapun. Dalam diri setiap pelajar harus ada kesadaran akan pentingnya belajar bagi masa depan pribadi dan bangsa.

Karakter pelajar dalam pandangan PII adalah sebagai pelaku sejarah, bagian dari inti kebudayaan. Pelajar adalah kutub  di mana merekalah yang menentukan arah bangsa serta visi kebudayaan. Mereka sama sekali bukan objek dari gelaja-gelala sosial yang tidak jelas Arahnya. 

II.1.c Makna Pendidikan

Pendidikan dalam kacamata PII bukanlah pendidikan yang diatur secara ketat oleh negara dan masyarakat, memiliki limit waktu tertentu dan sangat bergantung pada angka-angka. Pendidikan dalam pandangan PII adalah pendidikan versi Rasulullah Saw. Yaitu “Mulai dari ayunan hingga liang lahat”. Beda kader PII dengan pelajar kebanyakan adalah mereka tidak hanya belajar karena desakan pengajar, namun mereka belajar karena keinsyafan akan pentingnya ilmu dalam kehidupan. Kader PII, tidak seperti  pelajar kebanyakan, tidak hanya mempelajari disiplin-disiplin tertentu sesuai dengan bidang yang dibebankan lembaga pendidikan tempat mereka belajar saja. Kader PII adalah mereka yang terus senantiasa berusaha menguasai segalai macan bidang ilmu; senang mengikuti forum-forum diskusi ilmuah serta; memiliki jiwa seni yang tinggi.
 ·  · Bagikan · Hapus

Komitmen Keislaman Pelajar Islam indonesia (PII)

Pelajar Islam Indonesia (PII) ada karena Islam. PII hadir untuk mendakwahkan Islam kepada ummat. PII adalah organisasi yang mencita-citakan tegaknya Islam di muka bumi. PII tidak mengenal perbedaan mazhab dan aliran pemikiran dalam Islam. Bahkan PII lahir karena ingin menyelesaikan pertengkarang perbedaan pemikiran dalam internal Islam. Awalnya PII lahir untuk menjembatani perselisihan dan pertikaian antara pelajar sekolah dengan santri pondok pesantren. Santri pondok pesantren menuduh mereka yang sekolah adalah mereka yang kafir karena menuntut ilmu dari penjajah. Doktrin ini memang merasuk bagi santri sebab mereka sejak dini telah ditanamkan kebencian pada Belanda dan segala prilaku-prilaku yang berkaitan dengan mereka. Padahal anak sekolah saat itu tidak lagi ada hubungannya dengan Belanda, namun karena sistem dan simbolnya masih sama, lahir klaim dari santri. Pelajar sekolah melihat mereka yang menuntut ilmu di pondok pesantren takkan mampu memberikan apaun bagi masa depan bangsa sebab mereka hanya mempelajari kitab-kitab yang sama sekali tidak mampu menjawab tantangan zaman. Nah, perselisihan inilah yang membuat para penggagas PII terinspirasi untuk melahirkan sebuah organisasi yang mampu menjembatani perbedaan pola pikir kedua kelompok ini serta dapat menyatukan mereka. Sebab, mereka berfikir, dengan usia kemerdekaan yang baru seumur jagung, akan menjadi ancaman besar bagi masa depan bangsa bila pelajar yang menjadi penentu arah bangsa di masa depan telah bertikai, membuat sekte dan berkubu. Lebih dari itu: saling membenci dan memaki serta selalu menghidupkan api dendam. PII lahir.

Islam yang didakwahkan PII adalah Islam yang murni dari Al-Qur’an dan Hadits yang terpercaya. PII tidak mengenal perbedaan mazhab, aliran, ras dan suku bangsa. PII mencita-citakan tegaknya Islam yang bebas dari pertengkaran mazhab dan perbedaan pemikiran keagamaan. PII mengajak kadernya untuk (i)mengimani Islam; (ii)mengilmui/mengkaji; (iii)mengamalkan serta (iv)mendakwahkannya.

 Iman
Allah SWT memerintahkan kaum muslim untuk mengimani Islam dengan benar dan mendalam, tidak menyekutukan Allah dengan sebarang sesuatu apapun.  Iman adalah hal pokok dan paling utama dalam ber-Islam. Islam tidak mengedepankan itelektualitas dan kearifan yang berasal dari barat dan timur. Islam mengutamakan iman yang dibuktikan dengan:

 “Kebajikan itu bukan menghadapkan wajah ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan adalah (kebajikan)orang yang beriman kepada Allah, hari akhir malaikat-malaikat,kitab-kitab dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, orang-orang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa-masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)


“Takwa adalah melaksanakan sesuatu seakan-akan engkau melihat Allah. Dan bila tidak, maka ketahuilah bahwa Dia senantiasa melihatmu” kata Rasulullah Saw. Jadi iman adalah bekal agar kita tahan terhadap segala macan ujian dan penderitaan. Pada kesempatan yang lain Allah menegur orang-orang yang mengaku telah beriman padahal mereka belum diuji dengan segala macan penderitaan sebagaimana Allah telah menguji orang-orang sebelum mereaka.  Selain untuk tahan dari segala macam ujian. Iman juga sebagai dasar bagi kita untuk melaksanakan segala macam ibadah yang telah diperintahkan Allah SWT dan yang telah di anjurkan Rasululllah Saw.

 Ilmu
Allah SWT tidak akan menerima ibadah apapun dari hambanya kalau ibadah yang dia lakuka itu tanpa didasari pengatahuan yang benar. Ibadah tanpa ilmu akan tertolak. Meskipun pengamalan sesuatu lebih penting dari pengetahuan akannya, Namun tanpa didasari pengetahuan, pengamalan itu akan sia-sia. Ilmu memiliki posisi yang sangat sakral dalam Islam. Islam mengumpamakan orang yang berilmu dengan yang tidak seperti orang yang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Orang yang pintar, kata Rasulullah Saw, adalah mereka yang senantiasa mengingat akan kematian orang yang cerdas adalah mereka yang selalu mempersiapkan bekal bagi kamatiannya.

Allah SWT mewahyukan, bahwa hanya orang-orang yang berilmu saja yang selalu mengingat Allah baik sembari dia berdiri, duduk maupun berbaringnya. Mereka yang berilmu selalu merenungkan setiap kejadian alam semsta: baik itu pergantian siang dan malam; bahtera yang berlayar di autan maupun fenomena-fenomena alam yang lain.

 Amal
Islam adalah agama yang mengutamakan pengamalan dari sekedar pengetahuan. Perbedaan orang yang beriman dengan yang kafir adalah pada cara mereka merespon musibah serta ada tidaknya mereka mengamalkan perintah-perintah Allah serta ajaran-anjuran nabinya. Pengamalan harus dilandasi dua perkara yaitu keilmanan atau benar-benar tulus niatnya untuk mendapat ridha Allah SWT dan memiliki bekal pengetahuan akan apa yang diamalkannya.

II.2.d Dakwah
Pernyataan-pernyataan yang menyerukan AGAMA ADALAH URUSAN PRIBADI adalah pernyataan yang sesat dan menyesatkan. Hal ini benar-benar bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam. Islam memerintahkan kita untuk beramal serta mendakwahkan Islam. Karena bila Islam itu dijalankan oleh kita-kita saja sementara kita sendiri membiarkan orang-orang lain bergelimpanagan pengingkaran terhadap Islam, maka Allah SWT mengancam kita yang beramal ini pula akan turut merasakan azab dunia berupa bencana akibat ulah mereka yang ingkar. Islam mengilustrasikan pelaku maksiat seperti orang yang melubangi perahu. Bila kita tidak mencegah dan sedapatnya menghentikan perbuatannya maka semua akan turut tenggelam, semuanya turut meresakan azab dunia akibat pelaku maksiat.

Islam sangat melarang orang yang menganjurkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang baik atau melarang seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang buruk sementara dia sendiri masih meninggalkan sesuatu yang baik itu dan masih melakukan sesuatu yang buruk itu. Sangat besar kemarahan Allah bagi orang yang melakukan dakwah seperti ini.

Kata Ibnu Taymiyah dalam kitabnya Siyasah Syar’iyah: “Dakwah adalah upaya mencuri hati”. Jadi dakwa samasekali bukan pemaksaan kehendak kepada orang lain. Dakwah harus menempuh jalur persuasi yang baik sehingga apa yang kita dakwahkan itu dapat merasuk ke dalam hati dan sanubari sasaran dakwah.

oleh Abu Muhammad Ibrahim pada 14 Januari 2011 jam 22:30
Pelajar Islam Indonesia (PII) ada karena Islam. PII hadir untuk mendakwahkan Islam kepada ummat. PII adalah organisasi yang mencita-citakan tegaknya Islam di muka bumi. PII tidak mengenal perbedaan mazhab dan aliran pemikiran dalam Islam. Bahkan PII lahir karena ingin menyelesaikan pertengkarang perbedaan pemikiran dalam internal Islam. Awalnya PII lahir untuk menjembatani perselisihan dan pertikaian antara pelajar sekolah dengan santri pondok pesantren. Santri pondok pesantren menuduh mereka yang sekolah adalah mereka yang kafir karena menuntut ilmu dari penjajah. Doktrin ini memang merasuk bagi santri sebab mereka sejak dini telah ditanamkan kebencian pada Belanda dan segala prilaku-prilaku yang berkaitan dengan mereka. Padahal anak sekolah saat itu tidak lagi ada hubungannya dengan Belanda, namun karena sistem dan simbolnya masih sama, lahir klaim dari santri. Pelajar sekolah melihat mereka yang menuntut ilmu di pondok pesantren takkan mampu memberikan apaun bagi masa depan bangsa sebab mereka hanya mempelajari kitab-kitab yang sama sekali tidak mampu menjawab tantangan zaman. Nah, perselisihan inilah yang membuat para penggagas PII terinspirasi untuk melahirkan sebuah organisasi yang mampu menjembatani perbedaan pola pikir kedua kelompok ini serta dapat menyatukan mereka. Sebab, mereka berfikir, dengan usia kemerdekaan yang baru seumur jagung, akan menjadi ancaman besar bagi masa depan bangsa bila pelajar yang menjadi penentu arah bangsa di masa depan telah bertikai, membuat sekte dan berkubu. Lebih dari itu: saling membenci dan memaki serta selalu menghidupkan api dendam. PII lahir.

Islam yang didakwahkan PII adalah Islam yang murni dari Al-Qur’an dan Hadits yang terpercaya. PII tidak mengenal perbedaan mazhab, aliran, ras dan suku bangsa. PII mencita-citakan tegaknya Islam yang bebas dari pertengkaran mazhab dan perbedaan pemikiran keagamaan. PII mengajak kadernya untuk (i)mengimani Islam; (ii)mengilmui/mengkaji; (iii)mengamalkan serta (iv)mendakwahkannya.

 Iman
Allah SWT memerintahkan kaum muslim untuk mengimani Islam dengan benar dan mendalam, tidak menyekutukan Allah dengan sebarang sesuatu apapun.  Iman adalah hal pokok dan paling utama dalam ber-Islam. Islam tidak mengedepankan itelektualitas dan kearifan yang berasal dari barat dan timur. Islam mengutamakan iman yang dibuktikan dengan:

 “Kebajikan itu bukan menghadapkan wajah ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan adalah (kebajikan)orang yang beriman kepada Allah, hari akhir malaikat-malaikat,kitab-kitab dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, orang-orang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa-masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)


“Takwa adalah melaksanakan sesuatu seakan-akan engkau melihat Allah. Dan bila tidak, maka ketahuilah bahwa Dia senantiasa melihatmu” kata Rasulullah Saw. Jadi iman adalah bekal agar kita tahan terhadap segala macan ujian dan penderitaan. Pada kesempatan yang lain Allah menegur orang-orang yang mengaku telah beriman padahal mereka belum diuji dengan segala macan penderitaan sebagaimana Allah telah menguji orang-orang sebelum mereaka.  Selain untuk tahan dari segala macam ujian. Iman juga sebagai dasar bagi kita untuk melaksanakan segala macam ibadah yang telah diperintahkan Allah SWT dan yang telah di anjurkan Rasululllah Saw.

 Ilmu
Allah SWT tidak akan menerima ibadah apapun dari hambanya kalau ibadah yang dia lakuka itu tanpa didasari pengatahuan yang benar. Ibadah tanpa ilmu akan tertolak. Meskipun pengamalan sesuatu lebih penting dari pengetahuan akannya, Namun tanpa didasari pengetahuan, pengamalan itu akan sia-sia. Ilmu memiliki posisi yang sangat sakral dalam Islam. Islam mengumpamakan orang yang berilmu dengan yang tidak seperti orang yang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Orang yang pintar, kata Rasulullah Saw, adalah mereka yang senantiasa mengingat akan kematian orang yang cerdas adalah mereka yang selalu mempersiapkan bekal bagi kamatiannya.

Allah SWT mewahyukan, bahwa hanya orang-orang yang berilmu saja yang selalu mengingat Allah baik sembari dia berdiri, duduk maupun berbaringnya. Mereka yang berilmu selalu merenungkan setiap kejadian alam semsta: baik itu pergantian siang dan malam; bahtera yang berlayar di autan maupun fenomena-fenomena alam yang lain.

 Amal
Islam adalah agama yang mengutamakan pengamalan dari sekedar pengetahuan. Perbedaan orang yang beriman dengan yang kafir adalah pada cara mereka merespon musibah serta ada tidaknya mereka mengamalkan perintah-perintah Allah serta ajaran-anjuran nabinya. Pengamalan harus dilandasi dua perkara yaitu keilmanan atau benar-benar tulus niatnya untuk mendapat ridha Allah SWT dan memiliki bekal pengetahuan akan apa yang diamalkannya.

II.2.d Dakwah
Pernyataan-pernyataan yang menyerukan AGAMA ADALAH URUSAN PRIBADI adalah pernyataan yang sesat dan menyesatkan. Hal ini benar-benar bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam. Islam memerintahkan kita untuk beramal serta mendakwahkan Islam. Karena bila Islam itu dijalankan oleh kita-kita saja sementara kita sendiri membiarkan orang-orang lain bergelimpanagan pengingkaran terhadap Islam, maka Allah SWT mengancam kita yang beramal ini pula akan turut merasakan azab dunia berupa bencana akibat ulah mereka yang ingkar. Islam mengilustrasikan pelaku maksiat seperti orang yang melubangi perahu. Bila kita tidak mencegah dan sedapatnya menghentikan perbuatannya maka semua akan turut tenggelam, semuanya turut meresakan azab dunia akibat pelaku maksiat.

Islam sangat melarang orang yang menganjurkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang baik atau melarang seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang buruk sementara dia sendiri masih meninggalkan sesuatu yang baik itu dan masih melakukan sesuatu yang buruk itu. Sangat besar kemarahan Allah bagi orang yang melakukan dakwah seperti ini.

Kata Ibnu Taymiyah dalam kitabnya Siyasah Syar’iyah: “Dakwah adalah upaya mencuri hati”. Jadi dakwa samasekali bukan pemaksaan kehendak kepada orang lain. Dakwah harus menempuh jalur persuasi yang baik sehingga apa yang kita dakwahkan itu dapat merasuk ke dalam hati dan sanubari sasaran dakwah.

Subang Selalu Senang (Sebuah Laporan Kursus Pemandu)

Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak ada wanita yang paling hebat di Indonesia selain PII Wati. Di tengah kegetiran, kesulitan dan kesusahan; mereka mampu memberi manfaat untuk orang lain. Setidaknya itulah pemandangan yang kulihat di dalam gerbong kereta Api yang sangat padat, panas dan pengap dalam perjalananku menuju Subang. Dalam kepanasan yang luar biasa, mereka  masih sempat mengeluarkan sesuatu dari ransel untuk menjadikan benda itu sebagai kipas. Seorang anak yang menangis menjerit karena panas dan pengap. Ibunya yang juga dalam keadaan yang susah jadi panik. Wanita-wanita terbaik di Indonesia itu mengipasi anak itu. Anak tersebut-pun menjadi agak nyaman.

 Pemandangan PII Wati yang heroik seperti ini tidak kutemukan pada PII Wati di Aceh. Di sana, PII Wati-nya cemen, mengkek, manaja dan menyebalkan. Kehadiran mereka bukan malah membantu, sebaliknya selalu menambah beban dan merepotkan. Kukira hanya PII Wati Aceh saja yang tidak punya jiwa herok Malahayati dan Cut Nya’ Dhien. Karena hanya PII Wati Aceh saja yang demikian dan lainnya tidak: PII Wati tetaplah wanita-wanita terbaik, di Indonesia, setidaknya.

***

Allah SWT telah memberikan kelonggaran dalam shalat dengan memebenarkan menjamaknya bila dalam berperjalanan: Setidaknya menurut jarak tertentu. Setahuku 83 km atau lebih. Allah SWT tidak menghitungnya menurut waktu atau jarak tempuh. Mereka yang “terlalu pintar berijtihad” menganggap bila naik pesawat kita tidak boleh jamak shalat. Padahal naik pesawat maupun kereta api, misalnya, tidak lepas dari perlunya menjamak shalat. Sebab, proses-prosesnya juga menyita waktu, seperti menunggu pemberangkatan. Hal inilah yang dialami Musa. Dia memutuskan tidak menjamak ashar ke dalam zuhur saat kami transit di lokasi Training LBT PII di Karawang. Akibatnya, entah bagaimana caranya, dia harus bisa menyelesaikan shalat asharnya satu menit seja sebab kereta api yang akan berangkat ke arah stasiun Sadang beberapa detik lagi tiba. Melihat Musa, saya teringat dengan kebaikan Allah SWT yang tidak diindahkan makhluknya.

***

Sebelumnya kikira akulah satu satunya instruktur PII yang mengelola training sendirian. Aku pernah melakukannya pada Ramadhan 2008 di Kopelma, Darussalam.. Ternyata, Zaki, PW PII Jakarta Raya, juga melakukan hal yang sama di karawang. Sama, Intermediate Training juga. Untungnya, aku lebih beruntung dari Zaki, keterbatasanku karena seorang diri dapat kututupi dengan mengundang KB PII yang telah menjadi dosen-dosen ternama IAIN Ar-Raniry untuk mengisi materi-materi.

***

Awalnya kami tidak berencana melaksanakan Kursus Pemandu (KP), namun karena aku tidak ingin ditinggalkan sendiri di lokasi Training Sunbang oleh teman-teman yang bukan tim instruktur LBT, aku menawarkan mereka untuk kita laksanakan KP. “Bagaimana kalau kita KP: Agar tidak dianggap makan grati saja oleh PII Subang.” Tawarku. Beberapa di antara mereka menerima dengan semangat tawaran itu, yang lain ragu-ragu. Ada juga yang tidas setuju. Seorang Mu’addib tidak saja hanya melaksanakan ta’dib secara tunduk dan patuh pada “kitab keramat PII’ itu, bagiku, yang jauh lebih penting dari itu adalah semangat dan realitis dalam menerapkan konsep-konsepnya. Semangat itulah yang membuatku terus memotifasi kader-kader pasca Intra untuk mengikuti KP. Selain itu, seorang Mu’addib harus menggiring sasarannya ke arah yang diinginkan tanpa kesan pemaksaan. Ini juga yang kulakukan hingga terrlaksanalah KP itu setelah melalui proses persuasi selama dua hari.

Hari ke-3 training, KP dibuka dengan jumlah peserta enam orang. Kami melaksanakannya dengan persiapan seadanya. Modal paling penting telah terpenuhi: ada Ta’dib dan Mu’addib qualified. Sebelumnya, Zaki yang tidak istirahat setelah mengelola Intra di Karawang, langsung kembali memegang kendali LBT Subang, menawarkanku, masuk tim. Aku menolaknya bukan karena sombong. Namun aku mengatakan, kalau aku pemail bola sepak, telah gantung sepatu. “Saya memang belum gantung Ta’dib, namun saya telah gantung Silabus, Batra dan Intra. Jadi artinya aku akan mengelola KP.

Aku memutuskan tidak lagi mengelola, terutama Intra dan LBT, karena ingin memberi kesempatan pada para instruktur-instuktur baru untuk belajar dan agar mereka yang belum memenuhi kualifikasi tertentu dapat mewujudkannya dengan banyaknya kesempatan untuk itu. Aku telah menjadi Koordinator Tim (Kortim) LBT dan Intra, masing-masing sebanyak tiga kali. Bagiku, kalau aku pemain bola, sudah saatnya memundurkan diri.

Dua orang antara peserta awal terpaksa tidak mengikuti KP karena diminta membantu tim LBT menjadi observer ruangan dan obserfer materi. Karena kerja observer adalah mengawasi, maka Yazid menyebut observer sebagai “malaikat”. Namun kehilangan dua orang itu tidak membuat KP urung dilaksanakan.  Berdatangan beberapa peserta lain, diantara mereka ada yang baru saja mengikuti Intra di Karawang.  Total peserta adalah tujuh orang. Lebih banyak satu orang daripada Kursus Mu’allim (KM) yang dilaksanakan PD PII Bireuen selepas Lebaran Puasa 2010. KM tersebut adalah yang paling unik sepanjang sejarah sebab beberapa materinya, temasuk baiat peserta dilangsungkan di warung kopi Star Black, Bireuen, tepatnya di lantai dua, di tengah kerumunan manusia yang sedang online dan menikmati kopi.

Menerapkan ta’dib, menurutku sama seperti menerapkan Al-Qur’an dan Hadits. Kita harus benar-benar memahami jiwanya. Kita harus memahami dengan benar psikologi sasaran. Setiap realitas yang ada tidak boleh serta-merta dihadapi secara frontal. Kita harus benar-benar memahami kondisi psikologis individu dan sosio-kultural sasaran. Setidaknya inilah yang kuterapkan saat mengelola Intra di Lhokseumawa 2010. Di atas kertas, banyak dari peserta tidak layak diluluskan sebagai peserta Intra. Namun karena mengingat kondisi mental-psikologis peserta bila tidak diluluskan, akan berdampak pada berkurangnya semangat mereka ber-PII. Selanjutnya aku harus realistis dalam melihat kondisi PII Lhokseumawe dan Aceh Utara: Kalau mereka tidak diluluskan, PII Lhokseumawe dan Aceh Utara tidak punya pilihan lain dengan tetap harus melibatkan mereka sebagai pengurus. Jadi, pertimbanganku, Intra ini harus intensif. Harus banayak penekanan pada sistem manajemen organisasi dan pemahaman administrasi. Dengan catatan tidak melupakan fokus utama Intra yaitu kemampuan analisa sosial serta kepekaan terhadap persoalan-persoalan ummat.

Intra dilanjutkan dengan KP. Kualitas kader yang baru saja lulus Intra tidak memiliki banyak perubahan, terutama kelayakan mengikuti sebuah kursus, ditambah minat beberapa peserta menurun untuk mengikuti KP dengan alasan sekolah sudah dimulai kembali. Kuputuskan tidak membaiat seorang pun dari peserta Intra. Kukatakan tidak dianggap lulus Intra tanpa lulus KP. “Ijtihad” ini kulakukan dengan alasan karena kulihat banyak kader Batra PII Lhokseumawe dan Aceh Utara berhilangan begitu saja pasca training. Aku menduga, dan menemukan sedikit indikasi, ini disebabkan kurangnya loyalitas kader pasca Batra. Hal ini terjadi biasanya karena kader belum pahan benar tentang PII. Seorang kader akan memiliki loyalitas tinggi bila dia telah memiliki banyak kesan dengan PII. Hal ini harus diselesaikan dengan cara mem-Pra-Batra kan kader-kader. Kalau mengharapkan persoalan ini dapat diselesaikan melalui ta’lim, kukira keliru. Sebab, ta’lim bagi peserta yang lemah dalam semangat dan kendur dalam minat hanya membuat kader betah mengikuti ta’lim dua atau tiga kali pertemuan. Sebab itu, kupaksakan agar PII Lhokseumawe dan Aceh Utara punya banyak pemandu.

***

Innovasi yang membuat kader PII Aceh tercengang berawal dari permintaan Teuku Qadarisman, Kabider PII Bireuen, padaku untuk memberikan semacam kajian bagi para kader Pasca Intra anggota Brigade agar mereka dapat memiliki suatu konsep dalam menangani  sekitar 30-an anggota Brigade PII Bireuen yang baru saja LBTD pada Ramadhan 2010 di SMP 5 Bireuen. Aku berfikir satu hari untuk menjawab permintaan Risman. Inspirasi melaksanakan kursus yang dapat menciptakan para mu’allim gaul muncul saat dagangan underwear laris manis di Matangglumpangdua: Para mu’allim itu akan menangani anak-anak Brigade yang memiliki karakter berbeda dengan kader-kader PII lain. Meski seorang mu’allim itu harus menonjolkan suri tauladan serta rajin beribadah, sesuai petunjuk kitab keramat kami, ta’dib, namun mereka harus dibungkus dengan baju gaul dan semangat pantang kendur. Sekali lagi, yang akan mereka tangani adalah kader-kader PII yang barusaja lulus LBTD. Para pemateri dalam KM gaul itu adalah Khairil Anwar, Amrizal dan Putra Diansyah. Aku menyukai instruktur-instruktur yang tidak pernah berhenti belajar dan selalu meningkatkan kualitas inteletual mereka. Ini pula yang langka di Aceh. Mungkin inilah alasanku kenapa tidak pernah bisa memandang Supyan “Ali” Suri secara negatif. Minatnya akan ilmu memberi hijab bagi mataku akan tindakan-tindakannya yang negatif. Sama seperti Ali, Amrizal juga dipandang negatif, dengan alasan yang berbeda, oleh beberapa kader PII, sebab mereka tidak memakai cara berfikir: positif-kritis.

Awan terjadinya error dalam KP kami di Subang saat aku membawakan materi yang membicarakan posisi manusia dalam pandanganta’dib serta Ta’dib dalam pendidikan Islam. Saat aku sedikit membuka wacana pada filsafat manusia, peserta terlihat begitu antusias, terutama saat aku mengaitkan kajian manusia denga terori-teori ilmuah modern dan kontemporer. Dalam buku “Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquid Al-Attas”, Wan Muhammad Nur Wan Daun menerangkan bahwa menurut Al-Attas, dari tiga sistem pendidikan Islam—talim, ta’dib dan tarbityah—sistem ta’dib lebih baik sebab dia membentuk adab, moral, etika dan akhlak manusia. Dengan cara itu, adab manusia-manusia akan membentuk kebudayaan. Rasulullah sendiri diutus untuk meluruskan akhlak, adab.

Sistem tarbiyah hanyalah membentuk manusia yang memiliki karakter ketuhanan dan mendekatkan manusia pada pengabdian semata. Hal ini tidak dapat menjadikan manusia sebagai “Khalifatullah” untuk memakmurkan bumi. Amanah memakmurkan bumi membutuhkan kepekaan tingkat tinggi serta memiliki kemampuan formulasi dan pendekatan yang integral dengan realitas yang sedang berlaku. Hal ini bukan berarti menuntut manusia untuk pandai mengakal-akali amanah Allah, melainkan menggunakan akal untuk menerapkan amanah Allah dengan santun dan realistis agar target tercapai. Jalan ini tidak akan membuat manusia menjadi alien, paradoks dan melahirkan penyakit  hati serta depresi karena hanya mampu melihat realitas yang semakin bangsat tanpa mampu melakukan suatu kontribusi apapun.

Disamping itu sistem pendidikan Islam: Ta’lim (Bukan “ta’lim” yang merupakan bagian dari sistem kadersasi PII yang tertera dalam buku panduan kaderisasi PII’ “ta’dib”) hanya memberi peran dalam memberi pengetahuan yang sekedar tau saja tanpa memberi kesadaran dan motifasi untuk mengamalkan apa yang diketahui. Islam adalah agama yang mengutamakan pengamalan dari sekedar pengetahuan. Pengetahuan tidak akan mempu membentuk kebudayaan atanpa ada pengamalan.

***

“Mana laporannya” Pertanyaan itu yang selalu keluar dari mulut Musa setiap berjumpa ataupun sekedar papasan denganku. Awalnya kalimat itu membuatku risih. Lama-lama menjadi terbiasa. Kuanggap saja itu sebagai ucapan tegur sapa.

“Kan, maksimal empat belas hari” sanggahku. “Aku akan membuat laporan yang bagus untukmu. Persis seperti sebuah jurnalisme sastrawi. Deskripsi peserta akan kusajikan dengan jelas. Kualitas peserta akan kuuraikan seperti sebuah cerita hingga nilai mereka dapat diberikan langsung oleh yang membaca. Pelatih itu bukan hakim.” Kataku. Meski aku sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja kujanjikan pada Musa, aku memimpikan laporan yang tidak memberi nilai-nilai seperti menghakimi peseerta. Aku merindukan sebuah laporang yang mampu disajikan secara benar-benar deskriptif sehingga setiap pembacanya bisa memberi nilai sendiri pada masing-masing peserta.

***
Kondisi Lokasi

Setelah turun dari bis yang telah mengantarkan kami menempuh waktu lebih satu jam dari stasiun Sadang, kami berjalan kaki, mungkin sampai satu kilometer jarak yang kami tempuh dengan berjalan di tengah gelap gulita. Hanya sesekali kami menemukan cahaya dari teras rumah-rumah warga yang di pinggir jalan. Aku terseok-seok dengan sebuah koper milik Anis, seorang instruktur dari PII Jawa Tengah yang membantu PW PII Jakarta mengelola LBT.

SMK PGRI Subang adalah lokasi yang kami tuju. Tiba di sana kami disambut beberapa orang panitia. Kata Yazid, PD PII Subang haya memikili beberapa orang kader Intra. Lokasi ini sangat kondusif: agak jauh dari pemikiman warga; punya lapangan yang luas hingga peserta dan panitia bisa bermail volley dan basket bila ada waktu luang (meski ada gawang dan lapangan untuk bermain futsal—sialnya kami tak bisa main pertandingan yang Indonesia menjadi juara Asia itu karena bolanya di rung guru dan; ada sebuah masjid kecil di dalam komplek sekolah, jadi kami tidak perlu repot-repot shalat terlalu jauh atau harus menyulap salah satu ruang belajar menjadi mushalla seperti yang sering di lakukan di PII Aceh saat training.

Ruang KP tak terganggu oleh panitia, peserta LBT maupun oleh instruktur. Ruang KP berada di ujung dari seluruh ruangan. Selain tidak terganggu, tempat ini jauh lebih segar sebab udara bebas keluar masuk tanpa hambatan. Meskipun jarak antara ruang tidur peserta dan instruktur dan ruang instruktur agak jauh namun hal ini tak pernah menjadi kendala. Ingat KP Kami lima hari.

Yang agak menjadi kendala adalah rasa tidak enak dengan panitia. Kami rasa, mereka tau kami cuma makan gratis dan memberatkan mereka saja. Padahal awalnya aku mempersiapkan peserta KP dengan materi yang longgar agar bisa membantu kerja panitia. Namun setelah KP dimulai, panitia menolak peserta KP ikut memasak, entah karena takut menghambat jalannya kursus atau karena bibit sentimen itu telah ada. Yang jelas, setelah dua hari KP dimulai, panitia meminta peserta KP menyumbangkan uang guna memenuhi kebutuhan konsumsi. Katanya panitia sedang kesulitan pendanaan. Tapi mungkin tidak ada di antara peserta KP yang membayar, sebab, aku tau, tidak seorangpun di antara mereka yang punya uang lebih dari sekedar ongkos. Bahkan aku dan Yazin tidak punya uang meski seribu rupiahpun. Tumpuan kami adalah Zaki. Kalau Zaki tidak mau bawa pulang kami, mungkin kami berdua harus pulang dengan berjalan kaki ke Jakarta. Untungnya Melly dapat kiriman uang dari saudaranya. Aku dan Yazid diberi masing-masing lima ribu rupiah. Dan untunglah Zaki tidak melupakan kami.

Kondisi Ruangan
 Ada beberapa alasan kenapa pelatih atau instruktur harus mengganti-ganti posisi duduk peserta. Pertama karena masalah keaktifan peserta. Kedua, karena kedekatan peserta di mana bila yang lebih akrab duduk berdekatan mereka akan membuat forum di dalam forum. Roker posisi peserta pada KP ini kukira tidak perlu karena semua peserta aktif. Kalaupun ada yang aktifnya di bawah rata-rata, maka itu semata-mata karena sedang sariawan seperti Gugun, atau karena sedang memiliki beban pikiran seperti Pepy sebab seperangkat alat mandinya hilang.

Keberadaan kursi-kursi dan meja-meja di belakang posisi duduk peseta memang agak mengganggu. Namun, kursi-kursi dan meja-meja ini sering dimanfaatkan peserta-peserta wan untuk tidur. Hampir setiap malam peserta wan tidur di ruang belajar. Hampir setiap malam kami semalaman melewatkan malam dengan online, main game dan nonton Holywood. Saya sarankan adegan ini jangan ditiru di KP lain, bila tidak ingin KP-nya sampai lima hari seperti kami..

***

Ahmad Syair

Kawan kawan dapat melihat foto profil fb-nya dengan gambar pemuda kartun pakai kacamata. “Biasanya yang pakai foto profil gambar kartun atau bunga orangnya jelek, tidak PD” kataku pada Syair. “Enggak loh ,Bang. Saya ini ganteng, loh” Sanggahnya sambil memperlihatkan foto-foto profil lainnya. Kulihat salah satu fotonya. Dia memang lumayan (Takmungkin kusebut dia ganteng karena aku sejenis kelamin dengannya. Nanti banyak yang curuga). Foto itu adalah seorang remaja yang berperawakan mirip Cina. Lumayan.

Syair suka menanggapi dengan cepat setiap pertanyaan yang diberikan ataupun menanggapi temannya. Namun kecepatan ini tidak disertai dengan daya analisa yang memadai. Dia juga terlihat gagok dalam berbicara sebab kata-kata yang keluar dari mulutnya terlalu cepat. Mungkin karena lidahnya tak mampu mengimbangi pikirannya yang mengalir tajam.

Romadoni

“Salah satu tujuan saya mengikuti KP ini adalah untuk membangunkan saya dari tidur ini” Spontan saja kalimat yang keluar dari mulut Doni membuat teman-teman tertawa. Dia memang terlalu banyak tidur. Saat meteri berlangsung dia ketiduran. Saat istirahat dia paling cepat tidur. Selesei imam salam kepalanya langsung tertunduk dan tertidur. Aku menduga sel-sel otaknya belum benar-benar aktif. Kira-kira seperti bayi yang butuh banyak tidur. Mungkin!

Melly menggelarinya “Abu Nawm” Dai memiliki banyak kelemahan dalam berbicara. Dia gagok. Aku meragukan kemampuannya mengelola sebuah kursus, apa lagi menjadi pemandu ruangan saat Pra-Batra. Kekurangannya ini terlihat jelas saat dia Kultum. Aku menyarankannya banyak-banyak membaca. Membaca selain dapat menjadi kekuatan untuk menulis, juga memberikan kefasihan lidah dalam berbicara.

Aku heran kenapa di sini peserta LBT tidak diwajibkan kultum oleh Kortim. Setahuku hampir semua training di Aceh pesertanya wajib kultum. Apalagi dengan kondisi yang sangat mendukung seperti ini. Jadi, kuputuskan para peserta KP memberikan kultum secara bergilir pada beberapa hari menjelang training bubar.

Sayangnya Doni terlalu mudah terkena rayuan Melly. Dia bahkan di-per-alat dan dijadikan persis seorang pembantu bagi perempuan itu. Dia senang-senang saja melakukan apa yang diperintahkan Melly. Cinta memang menuntut pengorbanan. Apalagi mendapatkan kesempatan duduk semeja dengan Melly dan sering difoto oleh gadis itu. Kukira kalau lebih sering lagi difoto oleh Melly, dia bahkan akan rela menyerahkan nyawanya untuk PII Wati asal Cianjur itu.

Yazid Qubuddin

Dia memiliki pikiran-pikiran cemerlang dan orisinil. Sayangnya dia terlalu banyak main-main dan menjadi penyebab utama kenapa sebuah KP harus memakan waktu sampai lima hari. Katanya: ”Di Menteng pun mau ngapain, Bang. Makan ’aja terancam”. Kata-katanya itu memang benar. Untunglah ini tidak diutaraka di hadapan orang, kalu tidak bisa malu aku. Kepada kawan-kawannya yang mendesak agar segera saja seluruh materi diselesaikan. Dia menjawab. ”Di rumah, pun mau ngapain’. Tapi kalau alasan ini di sampaikan pada Pepi, perempuan mungil itu akan merengek-rengek dan menjerit lantang ”Pokoknya aku mau pulaaang’ setelah puas menjerit, setelah berulang kali didesak kenapa buru-buru pulang –karena kami khawatir jangan-jangan ibunya masuk rumah sakit atau kakaknya mengalami pendarahan yang membuat dia hendak buru-buru pulang—dia akan bersuara dengan irama yang sangat lembut dan membuat kucing-kucing sedang bunting bersedih ”Di sini boseen” Ah, bosan. Kupikir karena pamannya sedang di ruang ICU akibat kecelakaan lalu-lintas atau ada kepentingan apa yang mendesak. Mendengar itu Yazid menengadahkan wajahnya ke langit, memejamkan mata dan meremas rambutnya seraya berkata ”Alaaah, maak.” Kucing kurapan pencuri tahu-tempe milik panitia yang sedang memasak ikut mengelus kepala. Kalau kucing itu bisa bahasa manusia, aku sangat yakin dia akan berkata sama seperti yang diucapkan Yazid ”Alaaah, maak.”

Di antara mereka semua, Yazid adalah peserta KP yang paling dekat denganku karena  dia paling sering datang ke Menteng. Kami sering berbagi online, sharing ide dan gagasan bersama dan bersama menertawakan kegetiran yang kami hadapi. Di lokasi training Subang, kami masih melakukan hal yang sama bersama. Pikiran-pikirannya terlalu banyak dipengaruhi Korpu Brigade PII periode lalu. Katanya hanya dengan revolusi baru kita ’kan mampu menciptakan perubahan. Aku menganggap aneh ide demikian, aku yakin ini adalah buah pikir As’ari atau As’ari dkk. Ide ini sangat tidak realitis. Kondisi masyarakat, politik, dunia global dan sistem negara saat ini benar-benar tidak memberi selah sedikitpun untuk ide ini.

”Rekayasa Sosial” kata Korpus Brigade PII periode-periode lalu. Apanya yang mau di rekayasa: Merekayasa Menteng  Raya 58 saja mustahil. Lagi pula begini: Kader yang mau berbuat secara serius untuk Brigade PII adalah mereka yang telah selesai mengikuti LBTD. Mereka belum tersentuh pada kepekaan emisional maupun pemahaman sosiologi. Jadi bagaimanapun ide-ide tentang sosial takkan mampu mereka terima. Kalaupun mereka telah di-Intra-kan sehingga sedikit banyaknya mereka telah mampu memahami persoalan dan memiliki bekal tentang gerakan sosial; namun pasca Intra, komitmen ke-Brigade PII-an akan kendur, sehingga semangat gerakan akan misi-misi Brigade PII tak lagi mereka respon dengan semangat. 

Ujang Gugun Gunawan

Tak kusangka dia adiknya Eka Setiawati. Kecantika Eka sama sekali tak mengalir pada adiknya ini, meskipun pemuda ini ganteng dan keren. Dia suka diam saja dan kadang-kadang tersenyum mengamati komentar-komentar temannya. Dia adalah komandan Brigade PII Karawang. Namun belum mengikuti LBTD. Tapi dia teken kontrak untuk ikut LBTD. Ini persis seperti yang dilakukan Ping, Komandan Korda Brigade PII Bireuen. Alhamdulillah Ping telah melaksanakan kewajibannya. Mudah mudahan Gugun juga.   

Tinggi, keren dan pendiam. Ini adalah karakter yang disukai cewek-cewek. Aku yakin setiap malam ada beberapa cewek yang merindukannya sekaligus dalam waktu bersamaan. Melihat kawan-kawannya yang sedang alot bertengkat, dia tetap diam dan tenang; sesekali tersenyum. Ini misteris. Kenapa dia tak terpancing untuk merespon topik yang sedang diperbincangkan, padahal sering panas, apalagi Nellya aktor utamanya: Sama sekali tidak memahami, atau tak paham sama-sekali; atau kadang-kadang paham betul dan kadang-kadang tak tahu sama sekali. Tapi yang membuat aku salit padanya adalah kemampuannya yang di atas rata-rata dalam menguasai forum saat dia berpraktik Micro Teaching. Juga sangat dewasa dan berwibawa.

Anto Suryanto

Gerak. Kehidupan ada karena gerak. Mata berfungsi: melihat, karena ada gerak. Aku yakin bila unsur-unsur atom dari setiap benda tidak bergerak, tidak akan mampu mata-mata melihat sesuatu apapu.

Mereka yang pesimis dan putus asa dalam hidup adalah orang yang malas bergerak. Allah SWT hanya menyuruh kita bergerak, lalu rezeki kita Dialah yang mengaturnya. ”Selesai shalat, maka bertebaranlah di muka bumi mencari karunia Allah SWT.” Itu adalah perintan untuk bergerak.

Demikianlah inspirasi kudapat dari kuliah yang hanya disampaikan Anto selama tujuh menit dihadapan jamaah shalat fardu Isya: Kuliah Tujuh Menit!.

Tipikalnya pendiam. Dia rajin membaca. Diamnya ini tidak lantas membuatnya kikuk maupun kaku dalam membawa materi. Seperti yang telihat saat Micro Teaching, Ketum PD PII Karawang ini begitu bersemangat dalam menyampaikan materi. Penguasaan materi dibarengi dengan keahliannya menguasai suasana ruangan. Sempurna. Inilah tanggapan yang dapat kuberikan pada pemuda tinggi, tegap berkulit cokelat ini. Kalau boleh memilih satu peserta KP terbaik, maka dialah orangnya. Dan aku berhak untuk itu.

Pepi Oktaviani

“Puulaaang. Aku mau pulaaaang.” Inilah kalimat yang selalu keluar dari mulut siswi SMA kelas XII ini. Bila sedang istirahat atau waktu luang untuk mengerjakan tugas-tugas, dia selalu menjerit dan terkadang kalau sudah lelah menjerit, dia berbisik pelan: “Puulaaang. Aku mau pulaaaang.” Seruan lembut penuh pilu itu akan membuat tikus-tikus di selokan berhenti bekerja, tertegun sebentar, lalu mengucurkaan air mata dan kemudian kembali mengais sampah untuk makan malam.

Sulit bagiku menemukan minat dan keahlian yang dimiliki PII Wati berkulit putih dan mungil ini. Hingga suatu hari aku memintanya membacakan puisi-puisiku di catatan fb. Dia begitu menghayati pekerjaannya ini. Totalitas dalam mengekspresikan untaian kata dalam sebuah puisi. Intonasi yang berirama luar biasa dipadukannya dengan gerak tubuh yang sempurna.

Kalau Melly sedang ngos-ngosan menyampaikan pemikiran filsafatnya, Pepi hanya mampu melongoh, melotot matanya namun teduh, membuka mulut lebar-lebar dan setelah Nelly selesai ”mengoceh”, selalu Pepi bertanya dengan nada minta dikasihani pada Melly ”Apa, Kak? Aku ’gak ’ngerti.”

Dua orang Wati di ruangan kami ini benar-benar bertolak belakang satu sama lain: yang satu terlalu logika-logikaan dan gila filsafat, satunya lagi berlebihan menggemari sastra terutama puisi hingga terserap ke dalamnya.

Melly M Azizah

Kehadiran Melly mengingatkanku pada pepatah; “Bila engkau tertawa, maka dunia akan tertawa bersamamu. Dan bila kau menangis, maka engkau sendiri”. Sebab itu Melly memilih untuk menjadi pribadi yang senantiasa ceria. Keceriannya ini mampu menghipnotis teman-temannya yang lain hingga membuat mereka selalu senang. Karenanya Subang selalu senang.

***

Kondisi Lokasi

Setelah turun dari bis yang telah mengantarkan kami menempuh waktu lebih satu jam dari stasiun Sadang, kami berjalan kaki, mungkin sampai satu kilometer jarak yang kami tempuh dengan berjalan di tengah gelap gulita. Hanya sesekali kami menemukan cahaya dari teras rumah-rumah warga yang di pinggir jalan. Aku terseok-seok dengan sebuah koper milik Anis, seorang instruktur dari PII Jawa Tengah yang membantu PW PII Jakarta mengelola LBT.

SMK PGRI Subang adalah lokasi yang kami tuju. Tiba di sana kami disambut beberapa orang panitia. Kata Yazid, PD PII Subang haya memikili beberapa orang kader Intra. Lokasi ini sangat kondusif: agak jauh dari pemikiman warga; punya lapangan yang luas hingga peserta dan panitia bisa bermail volley dan basket bila ada waktu luang (meski ada gawang dan lapangan untuk bermain futsal—sialnya kami tak bisa main pertandingan yang Indonesia menjadi juara Asia itu karena bolanya di rung guru dan; ada sebuah masjid kecil di dalam komplek sekolah, jadi kami tidak perlu repot-repot shalat terlalu jauh atau harus menyulap salah satu ruang belajar menjadi mushalla seperti yang sering di lakukan di PII Aceh saat training.

Ruang KP tak terganggu oleh panitia, peserta LBT maupun oleh instruktur. Ruang KP berada di ujung dari seluruh ruangan. Selain tidak terganggu, tempat ini jauh lebih segar sebab udara bebas keluar masuk tanpa hambatan. Meskipun jarak antara ruang tidur peserta dan instruktur dan ruang instruktur agak jauh namun hal ini tak pernah menjadi kendala. Ingat KP Kami lima hari.

Yang agak menjadi kendala adalah rasa tidak enak dengan panitia. Kami rasa, mereka tau kami cuma makan gratis dan memberatkan mereka saja. Padahal awalnya aku mempersiapkan peserta KP dengan materi yang longgar agar bisa membantu kerja panitia. Namun setelah KP dimulai, panitia menolak peserta KP ikut memasak, entah karena takut menghambat jalannya kursus atau karena bibit sentimen itu telah ada. Yang jelas, setelah dua hari KP dimulai, panitia meminta peserta KP menyumbangkan uang guna memenuhi kebutuhan konsumsi. Katanya panitia sedang kesulitan pendanaan. Tapi mungkin tidak ada di antara peserta KP yang membayar, sebab, aku tau, tidak seorangpun di antara mereka yang punya uang lebih dari sekedar ongkos. Bahkan aku dan Yazin tidak punya uang meski seribu rupiahpun. Tumpuan kami adalah Zaki. Kalau Zaki tidak mau bawa pulang kami, mungkin kami berdua harus pulang dengan berjalan kaki ke Jakarta. Untungnya Melly dapat kiriman uang dari saudaranya. Aku dan Yazid diberi masing-masing lima ribu rupiah. Dan untunglah Zaki tidak melupakan kami.

Kondisi Ruangan
 Ada beberapa alasan kenapa pelatih atau instruktur harus mengganti-ganti posisi duduk peserta. Pertama karena masalah keaktifan peserta. Kedua, karena kedekatan peserta di mana bila yang lebih akrab duduk berdekatan mereka akan membuat forum di dalam forum. Roker posisi peserta pada KP ini kukira tidak perlu karena semua peserta aktif. Kalaupun ada yang aktifnya di bawah rata-rata, maka itu semata-mata karena sedang sariawan seperti Gugun, atau karena sedang memiliki beban pikiran seperti Pepy sebab seperangkat alat mandinya hilang.

Keberadaan kursi-kursi dan meja-meja di belakang posisi duduk peseta memang agak mengganggu. Namun, kursi-kursi dan meja-meja ini sering dimanfaatkan peserta-peserta wan untuk tidur. Hampir setiap malam peserta wan tidur di ruang belajar. Hampir setiap malam kami semalaman melewatkan malam dengan online, main game dan nonton Holywood. Saya sarankan adegan ini jangan ditiru di KP lain, bila tidak ingin KP-nya sampai lima hari seperti kami.

Mentra 58, 12 Januari 2011


Tamat