Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Maret 2015
Jalan Sufi I
Bismillahirrahmanirrahim
Dari mana, untuk apa dan akan kemana saya ini adalah pertanyaan primordial yang muncul pada diri segenap insan. Memang berbagai jawaban disodorkan, baik oleh sastra, filsafat maupun teologi agama. Jawaban dari agama biasanya diberikan kepada masyarakat tradisional dan jawaban filosofis biasanya diberikan kepada masyarakat modern. Kedua jawaban ini tampaknya tidak mampu memuaskan batin banyak orang karena sifatnya yang parsialistik. Sekalipun teologi agama mengakui dirinya tidak parsial dengan mengklaim jawaban yang diberikan adakah melalui firman suci, tetapi tetap saja jawaban mereka telah dikonstruksi dengan penalaran yang tentunya, seperti filsafat, bersifat paraialistik. Sementara karya sastra memiliki tingkatan beragam tergantung penggubahnya. Singkatnya, sastra tidak dapat dipastikan bersumber dan berorientasi pada kebenaran sejati. Padahal, batin manusia menginginkan suatu kebenaran sejati. Kebenaran dimaksud adalah suatu realitas yang tidak bersegmen dan tidak mungkin beragam.
Ketika terlahir ke atas dunia ini, manusia mengandalkan penalarannya dalam penyesuaian hidup supaya dapat bertahan. Seiring dengan pengandalan penalaran ini, umumnya manusia menjadi yakin bahwa nalar sebagai sandaran adalah satu-satunya kebenaran. Karena itu, ketika jiwa yang berada di luar penalaran mengalami masalah sebab perkembangan atau gerak naiknya terhalang, pikiran yang tidak mampu memenuhi kebutuhan jiwa dipaksakan melakukannya, maka yang terjadi adalah keresahan yang semakin menjadi dan kekacauan pikiran. Sejatinya, pikiran hanya mampu mengatur kebutuhan-kebutuhan material manusia sebagai fasilitas dalam bertahan hidup.
Pikiran harus selalu berada pada sistem yang benar. Pikiran memiliki hukumnya sendiri. Hukum ini harus selalu ditaati supaya pikiran dapat terus menjadi sebagai turunan dari Akal Aktif. Perlu ditegaskan, pikiran yang dimaksud ini bukanlah objek pikiran. Bagi pikiran yang berada pada hukumnya, maka akan menghantarkan kepada kesadaran yang tidak melibatkan penalaran.
Berbarengan dengan ini, segenap jasad juga memiliki hukum yang perlu diikuti. Hukum ini disebut dengan syariat. Dengan mengikuti syariat, kita akan sampai kepada jalan (tariqah) yang mengarah kepada Kebenaran Mutlak (haqiqah) yang dengannya Pengetahuan Mutlak (ma'rifah) dicapai.
Bila telah mencapai status ma'rifah, segala amalan dan objek yang dipikirkan akan menjadi pancaran daripada sumber Pengetahuan. Pikiran tidak akan disibukkan dengan penalaran sesat dan amalan hanya tentang yang sesuai dengan arahan Ilahi.
Adalah sangat mustahil segolongan orang yang mengakui tidak akan beribadah kepada Allah sebelum mengenal Dia. Padahal segenap ibadah itu adalah dalam rangka menuju pengenalan.
Bagi kaum sufi, kehidupan ini adalah tidak nyata. Analoginya seperti mimpi. Karena itu seseorang yang ingin menyadari kehidupan sesungguhnya harus berhenti bermimpi dan bangun dari tidurnya. Karena itu, seseorang harus keluar dari realitas kehidupan ini bila ingin berada pada realitas alam sesungguhnya. Dari ini, kaum sufi mengajarkan mati sebelum mati.
Maksud dari ajaran mati sebelum mati adalah melepaskan diri dari segala ketertarikan terhadap alam ini. Menjadi Manusia adalah tidak menjadi siapa-siapa. Menjadi Manusia adalah melepaskan diri dari segala ketertarikan, menghilangkan semua kebutuhan.
Bila bebek berselaput dan ikan bersirip, itu digunakan untuk berenang. Kalau elang dan rajawali bersayap lebar, itu untuk terbang. Demikian segala struktur fisik manusia tiada lain bentuknya adalah untuk beribadah. Volume otak yang besar dimiliki manusia bukan untuk apapun kecuali menangkap nilai keagungan yang dipersembahkan oleh indra-indra yang sangat ideal.
Kamis, 14 Agustus 2014
al-ghazali gelisah
Beberapa para peneliti Islam sampai menuding Al-Ghazali adalah orang yang keras hati dan tega hanya duduk merenung dan menulis, tidak mau ikut berperang membela ummat Islam saat perang salib sedang berkecambuk hebat. Secara lahiriah tampak memang tudingan ini benar, tetapi bila menelisik kedalam batin menggunakan kacamata intuisi, maka situasinya berbanding terbalik. Ternyata beliau sangat didesak oleh sesuatu dari dalam dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam perang, tetapi karena iman dan keteguhan hatinya, maka dia sanggup juga menahan keinginan berangkat berperang. Dia sangat menderita melihat perjuangan ummat Islam yang terlibat dan menjadi koban perang, tetapi dia punya pandangan berbeda. Dia harus teguh dengan amanah Allah untuk menyelamatkan Islam melalui keilmuan. Bila dia tidak menyelesaikan amanah Allah maka dikhawatirkan bala yang lebih besar dan berkepanjangan akan menimpa ummat Islam. Pemikiran filsafat dan mantiq lambat laun akan membuat ummat Islam sesat dan hati mereka akan kering sekiranya dia tidak menyadarkan Ummat akan beberapa bahaya Aristotelian. Alhamdulillah dia berhasil sehingga ummat masih dapat mempelajari filsafat dan mantiq tanpa melupakan ajaran agama.
Apa yang sanggup dilakukan Al-Ghazali tidak dapat dilakukan umumnya kaum Muslim. Umumnya kaum Muslim gagal mengendalikan diri (nafsu)nya. Kalau menyayangi orang maka porsi sayangnya tidak sanggup dikendalikan. Demikian juga kalau membenci maka juga tidak dapat mengatur komposisi. Kedua hal ini adalah sumber mala petaka. Menyayangi seseorang secara berlebihan, bagi saya, susah dibedakan dengan menyembah berhala. Sayang yang dimiliki adalah dari Allah secara mutlak, ketika sayang itu diterapkan kepada seseorang secara buta maka itu mirip dengan mensekutukan Dia. Ini artinya mereduksi Zat Mutlak, melilitasi yang Unlimited.
Apa yang sanggup dilakukan Al-Ghazali tidak dapat dilakukan umumnya kaum Muslim. Umumnya kaum Muslim gagal mengendalikan diri (nafsu)nya. Kalau menyayangi orang maka porsi sayangnya tidak sanggup dikendalikan. Demikian juga kalau membenci maka juga tidak dapat mengatur komposisi. Kedua hal ini adalah sumber mala petaka. Menyayangi seseorang secara berlebihan, bagi saya, susah dibedakan dengan menyembah berhala. Sayang yang dimiliki adalah dari Allah secara mutlak, ketika sayang itu diterapkan kepada seseorang secara buta maka itu mirip dengan mensekutukan Dia. Ini artinya mereduksi Zat Mutlak, melilitasi yang Unlimited.
Senin, 19 September 2011
Semua Takdir Allah
Sebesar apapun usaha yang kita lakukan untuk merubah suatu ketetapan Allah, niscaya yang kita tuai adalah kesia-siaan. Lebih dari itu yang kita dapatkan adalah murka Allah karena kita digolongkan orang yang melawan kehendak Allah.
Kita perlu sadar bahwa Allah telah menentukan kadar atau potensi segala sesuatu. Karenanya mustahil sesuatu berlaku di luar batas potensi itu.
Belakangan muncul pemahaman bahwa manusia punya kemampuan menentukan nasibnya sendiri. Nasib yang mereka maksudkan adalah hasil dari usaha. Golongan ini menyatakan manusia memiliki peran menentukan garis takdir adalah agar manusia tetap memiliki semangat dan tetap berusaha walau hasil yang dia peroleh saat ini tidak pernah menggembirakan.
Terlihat oleh kita paham seperti itu mengandung kebenaran, namun padahal paham itu telah menggeser akidah kita. Sebab setiap usaha untuk kebaikan terus saja jadi perintah wajib dan walau bagaimanapun akan memperoleh imbalan yang baik. Karena itulah Allah tidak menilai hasil usaha kita melainkan prosesnyalah yang dinilai.
Di samping itu, setiap tindakan purus asa, berpangku tangan atau putus harapan adalah sikap yang dilarang dan menuai dosalah si penyandangnya, meski hasil seburuk apapun yang dia tuai. Sebagaimana dalah perkara agama kita dilarang berputus asa setelah melakukan dosa sebesar apapun selain syirik dan tetap diperintah untuk terus beribadah dan melakukan taubat. Dalam perkara meraih rezeki maupun cita-cita kita juga dilarang menyerah dan terus diperintah untuk bangkit dan kembali brrusaha walau seburuk apapun hasil yang telah kita peroleh.
Tidak putus asa dan terus berusaha sebagai perintah harus menjadi pegangan kita karena irylah ibadah kita. Demikianlah akidah kita, bukan menganggap manusia punya peran menentukan takdir sebagai bekal semangat. Itu akidah yang sesat.
Salah satu bukti bahwa Allah telah menentukan tempat terakhirmanusia di akhirat adalah ketika dia di dunia, semakin dia tahu akan tanda-tanda kebesaran Allah, semakim merasa berat dia beribadah, semakin ingkar pula dia.
Dewantara (Krueng Geukuh), 17 Sept. 2011
Kamis, 15 September 2011
Rizki Berkah
Kata hikmah pertama 'Al-Hikam' mengingatkan manusia untuk tidak pernah lupa bahwa segala yang telah dicapai dan segala yang telah dimiliki adalah karena Allah semata' bukan karena sebab usaha kerja kerasnya.
Pernyataan hikmah Syaikh Atha'illah itu membuktikan bahwa dia adalah pengikut aqidah yang meyakini segala perkara yang berlaku hanyalah atas takdir Allah semata. Sementara manusia hanyalah selaku perantara takdir. Sebab hasrat dan keinginan manusia itupun adalah atas kendali Allah semata.
Bila meyakini Allah-lah yang menentukan segala perkara, maka tidak patut bagi si pembuat dosa untuk berputus asa dan berhenti beribadah seta urung bertaubat. Sebab Allah yang menentukan tempat pemberhentian insan di akhirat kelak. Tigas kita adalah senantiasa beribadah dan selalu mengharap yang terbaik dari-Nya.
Bila kita memiliki aqidah seperti ini' maka mudahlah masuk ke faham kita bahwa segala perkara yang telah kita peroleh adalah kehendak Allah. Bahkan kita perlu yakin bahwa timbulnya hasrat-yang baik baik ke dalam pikiran itupun adalah karunia dari Allah sahaja.
Hikmah kedua menegaskan pada kita bahwa Allah Maha Pengatur rizki telah menetapkan jalan rizki setiap hamba dari mana-mana datangnya. Bila seorang hamba telah ditakdirkan Allah menjadi da'i dengan melayani ummat' maka dia harus rela rizkinya dari para masyarakat yang membutuhkan penerangan lagi solusi atas masalah agama. Orang begitu tidak boleh melawan takdir dengan dalih tidak ingin mendapat rezeki dari belas kasih orang lalu bekerja serabutan sehingga menyita waktunya dan dia mensia-siakan amanah Allah dengan mengabaikan ummat yang membutuhkan pencerahan.
Bila alasannya adalah karena kekurangan, maka ketahuilah bahwa yang membuat kita mereka kekurangan adalah nafsu-nafsu yang bergentayangan di dalam pikiran. Nafsu oleh Allah senantiasa diperintahkan untuk meninggalkannya.
Demikian pula seorang kuli bangunan yang memperoleh rezeki dengan mencurahkan segenap tenaga hingga menyiksa badan. Dia tidak boleh melawan takdir dengan berpura-purah sakit atau lemas badan karena malas dan menganggap pekerjaannya lebih menguntungkan orang lain daripada dirinya. Dia harus bekerja dengan ikhlas dengan terus memupuk kesadaran untuk besyukur atas apa saja yang dia miliki termasuk kesehatan dan badan yang kekar.
Kita perlu memiliki kasadaran bahwa rezeki itu tidak hanya hasil kerja yang melimpah. Dipelihara dari bala dan musibah juga adalah rezeki yang terpelihara. Rezeki itu intinya adalah keberkatan, bukan keberlimpahan. Orang yang kaya adalah mereka yang paling sedikit keinginannya, bukan yang paling banyak hartanya.
Nabi kita juga menegaskan bahwa salah satu jalan kemudahan rezeki adalah konsistensi pada satu jenis pekerjaan. Mereka yang konsisten seperti ini adalah orang yang tidak termasuk orang yang menganggap pekerjaan orang lain lebih enak dan lebih menguntungkan. Mereka tidak termasuk orang yang melihat rumput tetangga senantiasa lebih hijau.
Wallahu'alam
Samalanga, 15 Sept. 2O11
Minggu, 05 Juni 2011
Al-Ghazali: Menginjak Pada Tanah yang Sama, Bernafas pada Udara yang Sama
Kekasih Puteri Retno Gumilah mengemukakan cita-cita tertingginya kepadanya ingin menetap di puncak gunung Ledang. Puteri Majapahit itupun menyusul kekasihnya ke Tanah Malaka dan menantinya di puncak gunung itu karena ingin "Menginjak pada tanah yang sama. Bernafas pada udara yang sama" dengan kekasih hatinya.Dalam literatur tasawuf, gunung adalah simbol jerajat tertinggi makam sufi. Barman dalam kisah "Khotbah di Atas Bukit" karya Kuntowijoyo katika sampai di puncak gunung menyampaikan khutbahnya dengan mengajarkan murid-muridnya bahwa bunuh diri adalah jalan satu-satunya mencapai makam tertinggi. Bunuh diri dalam pemaknaan sufi adalah membunuh nafsu amarah yang ada dalam diri. Tokoh imajiner Plato, Socrates membuktikan kebenaran pada masyarakat bahwa bunuh diri adalah jalan satu-satunya memperoleh kearifan dan kebijaksanaan. Kita tahu bahwa bila nafsu amarah masih mengental dalam diri, cahaya ilmu dari Tuhan susah dicerap.
Abu Hamid Al-Ghazali menyerah dan mengaku melalui akal manusia tidak dapat mengetahui apapun tentang Tuhan. Sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan segala jabatannya menuju pengasingan untuk mencari cara lain mengenal Tuhan. Yang dilakukan Al-Ghazali persis seperti yang dilakukan Putri Retno Gumilah dalam film "Misteri Gunung Ledang". Puteri itu meninggalkan istana yang mewah menuju gunung Ledang untuk menanti kekasih hatinya.
Al-Ghazali meninggalkan jabatan terhormat sebagai rektor Universitas Nizamiyah menuju Syiria untuk menemukan kebenaran sejati. Puteri Gunung Ledang dan Al-Ghazali sadar bahwa kebenaran dan cinta sejati hanya akan ditemui bila segala urusan nafsu keduniaan telah dilepaskan.
Immanuel Kant kemudian menjalaskan apa yang dialami Al-Ghazali bahwa Tuhan memang tidak mampu ditemukan melalui akal murni.
Menurut Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Al-Ghazali adalah aset terbaik yang pernah dimiliki dunia Islam. Dia menulis 400 karya segala macam bidang ilmu. Dia menulis tentang Etika, Tasawuf, Filsafat, Teologi dan tema-tema lainnya. Sebab itulah dia patut disebut sebagai seorang sufi, fuqaha, teolog dan filsuf.
Anehnya, para pemikir pasca Al-Ghazali menuduhnya memukul KO budaya pemikiran dalam Islam. Padahal yang dilakukan Al-Ghazali adalah mengkritik karya-karya filosof sebelumnya, suatu hal yang lumrah dilakukan seorang filsuf. Bahkan semakin mampu dia mengkritik karya pendahulunya, semakin layak dia disebut seorang filsuf. Dari sini kita dapat mengakui kedalaman pemahanan filsafat Al-Ghazali dibanding para filosof sebelumnya seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Bahkan kalau Al-Ghazali masih hidup ketika Ibnu Rusyd membantah kritiknya, maka akan sangat mudah bagi Al-Ghazali menyanggahnya kembali. Salah satu bukti dari indikasi ini adalah para pemikir pasca Al-Ghazali dan juga Ibnu Rusyd lebih memilih jalan tasawuf falsafi dalam ranah berfikir, bukan filsafat murni. Al-Ghazali memberi contoh cara mengkritik yang sangat beradab.
Suhrawardi, seorang pemikir tasawuf, merumuskan teori cahaya diinspirasikan pemikiran Al-Ghazali dalam "Myskat Anwar". Muhammad Iqbal dan Naquib Al-Attas pemikir muslim abad ke-20, juga mengagumi pemikiran Al-Ghazali. Di dunia Islam, hampir tidak ada pembelajar yang tidak mengenal Al-Ghazali.
Karena dunia syiah tidak terlalu terpengaruhi oleh pemikiran Al-Ghazali, maka nasib pemikiran di dunia syiah tidak separah di dunia sunni. Syiah masih mampu melahirkan banyak filosof pasca Al-Ghazali seperti Narshruddi Thusi dan Mulla Sadra. Namun pemikiran murni non falsafi dunia sunni baru mulai desegarkan oleh Iqbal awal abad ke-20. Sunni masih menunggu lahirnya banyak pemikir guna menggencarkan kembali dunia intelektual untuk menyeimbangi pemikiran syiah yang jauh di depan. Keseimbangan ini meniscayakan perkembangan yang terus menerus dalam dunia pemikiran Islam.
Ada tudingan lain pada Al-Ghazali saat dia mengasingkan diri di Syiria. Dia suka duduk menyendiri di menara masjid Damaskus. Sementara masyarakat komplain karena dia tidak ikut serta bersama masyarakat dalam perang salib. Namun kalangan cendikiawan setelahnya banyak membelanya dengan mengemukakan hadits yang menyatakan tinta ulama lebih mulia dari darah syuhada. Tapi tentunya tidak sembarang ulama. Namun hadits ini layak untuk karya Al-Ghazali yang monumental terutama "Ihya Ulumuddin" yang masih dan akan terus dibutuhkan kaum muslim. "Hanya yang rasinal saja yang masuk akal" kata Hegel dan berarti hampir semua karya Al-Ghazali rasional.
Para filosof muslim sebelum Al-Ghazali merumuskan teori tentang keabadian alam. Mereka mengemukakan alam ini sifatnya tidak memiliki awal. Al-Ghazali membantah bahwa alam ini memiliki permulaan, bila tidak, berarti Tuhan bukan Maha Awal. Pemikir setelah Al-Ghazali menengahi dengan mengemukakan bahwa yang telah ada sebelum alam ada hanyalah potensi akan keberadaan alam. Potensi itu ada bersama Tuhan yang Maha Awal. Sebab, menurut teori Logika, segala yang ada itu memiliki konsep 'ada' baik dianya sebelum maupun setelah keberadaannya.
Filosof sebelumnya mengemukakan bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang detail dari alam. Al-Ghazali membantah bahwa bila Allah tidak mengetahui hal-hal detail maka Allah bukanlah Maha Mengetahui. Filsuf sesudahnya mencoba membantah kritik Al-Ghazali dengan mengemukakan bahwa cara Tuhan melihat sesuatu tidak boleh disamakan dengan manusia. Misalnya warna yang dikenal manusia sebenarnya adalah kesan yang dilahirkan mata manusia. Namun Tuhan tidak melihat dengan instrumen mata sebagaimana milik manusia. Artinya Tuhan tidak melihat sesuatu sebagaimana manusia, jadi, menurut pembela, Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang universal dari alam, tidak yang detail. Namun bila diteliti lebih jauh, meski Tuhan tidak melihat sebagaimana manusia, namun Dia tahu kesan yang akan diterima mata dan indera manusia lainnya. Mustahil Tuhan Maha Pencipta tidak memahami potensi indra manusia yang merupakan ciptaan-Nya. Misalnya dalam Al-Qur'an Allah mengatakan bahwa kayu yang mengeluarkan minyak bewarna hijau.
Para filosof mengemukakan pada hari kebangkitan yang dibangkitkan kelak hari kiamat bukanlah jasad manusia yang ada saat ini. Al-Ghazali membantah bahwa yang dibangkitkan itu adalah jasad yang disandang saat ini. Al-Ghazali beralasan dalam Al-Qur'an Allah mengatakan dialah yang membangkitkan jasad yang telah menjadi tanah dan dia kuasa mengumpulkan jari-jari manusia yang artinya tidak mungkin jari-jari ini akan bertukar karena setiap manusia memiliki sidik jari yang berbeda. Pengkritik Al-Ghazali mengatakan bahwa alam yang ada saat ini tidak sama dengan alam akhirat, jadi yang dibangkitkan kelak bukanlah materi jasad manusia yang berasal dari alam ini.
Bila merujuk pada teori "Hakikat Di Balik Materi" Harun Yahya, kita akan menemukan bahwa alam tempat kita ini hanyalah kesan yang ditimbulkan otak, segala materi yang kita lihat, dengar, kecup dan rasakan ini hanyalah kesan yang dimunculkan otak. Segalanya hanya ada pada persepsi yang ditimbulkan otak kita. Dan artinya alam ini tidak ada, sekedar kesan. Dengan cara ini pula nanti di hari kiamat kita memepersepsikan alam akhirat. Jadi bila teori ini diterima, maka perdebatan Al-Ghazali dengan para filosof tidak perlu diributkan.
Awalnya Al-Ghazali ragu untuk memilih jalan spritual sebagai jalan menemukan Tuhan. Putri Retno Gumilah juga awalnya ragu bahwa keputusannya menetap di puncak gunung. Akhirnya mereka sadar bahwa hanya dengan kesadaran suci yang oleh pemikir modern disebut intuisi, sang kekasih baru dapat ditemukan. Kant mengatakan kesadaran ini dengan akal murni.
Di pucak tertinggi mereka baru dapat merasakan kehadiran sang kekasih. Meski tiada dapat menyentuh rupa kekasih, namun mereka senantiasa tahu akan kehadiran dan selalu merasakan kehadiran kekasih. Mereka puas karena dapat bersama kekasih menginjak pada tanah yang sama, bernafas pada udara yang sama.
Mentra 58, 02/06/2011
Minggu, 24 April 2011
Takjub dalam Keheningan
Kata-kata adalah media transformasi informasi paling populer antar persona. Tapi ternyata kata-Kata adalah sarana paling terbatas untuk menginformasikan pesan.
Sufi punya pengalaman yang luarbiasa dalam kondisi fanaa. Namun ketika mereka ingin menyampaikan apa yang mereka rasakan, ternyata mereka menemukan kata-kata dalam bahasa ternyata sangat terbatas. Mau tidak mau sufi harus menggunakan sarana yang sangat terbatas itu meskipus nyatanya penggunaan kata-kata untuk menginformasikan pengalaman mistik sufi telah banyak mendeskriminasi dengan cara mereduksi pengalaman mistik luarbiasa yang mereka rasakan.
Seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang pemudi tidak mampu memberi alasan kenapa dia mencintai. Ketika dipaksakan mengungkapkan alasan maka dia akan mereduksi apa yang ia sedang alami dan rasakan. Misalnya dia memberi alasan mencinta si pemudi karena kulinya kuning langsat, karena hidungnya mancung dan badannya langsing. Sebenarnya alasan-alasan yang dikemukakan itu hanyalah alasan-alasan simbolis untuk melambangkan atau mewakilkan rasa cintanya. Meskipun boleh jadi kulit, hidung dan postur tubuh si pemudi tidak berhubungan sama-sekali dengan cinta yang ia rasakan.
Ketika filsuf harus membahasakan penemuan pemikirannya, mereka akan menggunakan istilah-istilah yang sangat asing dan susah dimengerti masyarakat awam.
Filsafat mencapai muaranya pada tangan Nietzsche. Dia memiliki kesulitan yang besar untuk membahasakan filsafatnya sehingga dia memilih jalur sastra sebagai media transformasi pemikiran filosofisnya yang sangat mendalam. Namun ketika aliran sungai itu mendekati bibir samudra, maka Nietzsche memilih bungkam karena kata-kata tidak mampu magi menampung isi gagasannya.
Banyak sufi memilih diam merenungkan keindahan pengalaman mistinya. Diam mereka anggap lebih baik daripada mengkomunikasikannya melalui bahasa sebab tidak ingin mereduksi keindahan pengalamannya kedalam kata-kata. Mereka takjub dalam keheningan.
Dalam diam, tidak ada yang distorsasi. Lihatlah bagaimana Ikal mampu menangkap seluruh pesan dari ayahnya melalui diam. Menjelang hari tua, Habibi dan Ainun lebih sering berkomunikasi dalam diam. Aku pula membaca pesan, nasihat dari ayahku melalui diamnya. Dengan melihat raut wajahnya aku paham isi hatinya tanpa harus ayah mereduksikan pesannya melalui kata-kata. Aku terdoktrin melalui diam.
Nabi Basar adalah sosok yang berbeda. Beliau adalah makhluk Allah yang paling berpengetahuan dan berwawasan luas. Bila ahli Astronomi baru mengetahui beberapa hal mengenai galaksi, maka Nabi bahkan telah pergi mengunjungi Sidratul Muntaha. Namun Nabi besar mampu untuk komunikatif dengan ummatnya yang dianggap jihiliyah. Nabi mampu memberi penjelasan sesuai batas nalar ummatnya meski pengetahuan beliau jauh lebih luas daripada mereka.
Nabi memiliki ilmu paling tinggi melebihi filsuf dan sastrawan, namun beliau mampu menyampaikan pesan besarnya kepada masyarakat yang paling rendah nalarnya sekalipun. Nabi Besar patut dijadikan contok sosok yang paling mampu mengobjektiivikasi konsep besar yang beliau bawa kepada masyarakat yang berbanding lurus dari konsep yang beliau bawa.
Mentra 58, 22 April 2011
Rabu, 23 Maret 2011
Mati sebagai Syuhada atau Hidup di Dalam Perut
Sukakah kau mencium bau lusuh anak anak gembel, pengemis, gelandangan yang mengganggu penciuman hingga menusuk hidung naik ke otak
Atau kau memilih wangi semerbak kasturi yang dipercik bidadari dari surgawi melalui darah sang suami yang baru tumpah di medan juang
Elokkah matamu setiap hari melihat anak gelandangan yang memadati segenap pelosok negeri
Atau indah sinar mentari yang baru terbit di pagi hari menjemput mujahid di siang hari dan sore hari tersenyum anggun indah berseri membawa syuhada kepangkuan bidadari
Masih betahkah jantungmu mencap di dekat parumu melihat setiap malam para gelandangan tidak berumah menginap di sembarang tempat dan hanya dengan bayaran sesuap nasi saudara yang lain menyekap mulut mengantarkannya ke rumah sakit untuk dikuras seluruh organ berharga dari tubuhnya untuk dijual pada saudagar kaya yang telah berusia renta
Atau indahnya malammu diisi silaturrahmu di bumi dan di langit sana senantiasa para syuhada mengirimkan doa pada malam yang sepi lalu melailui desir angin tersampaikan pada pohon munajah para auliya
Belum bosankah kamu mendengar berita ibu tiduri anak hingga melahirkan cucunya dari rahimnya atau ahak pekosa putrihingga mengandung adik di dalam rahimnya sendiri atau paman cabuli keponakan dan anak masih ingusan pecah perawan kaarena tontonan
Atau bertebarannya rahmat dan cinta laksana air surga mengalir dari setiap tebingnya memberi minum para kesatria yang baru gugur di medan laga
Jika jenuh melihat saudara makan daging saudara melalui riba yang disebutnya perbankan syaria
Mari lawan; mari hancurkan; mari runtuhkan
Kita bisa; kita tidak lemah; kita ramai laksana gelombang pasang menyapu daratan; memecah tebing
Mari songsong Ilahi Rabbi;
Mari kepelukan bidadari yang telah lama menanti
Karena kita bisa;
Karena kita mampu
Konsep Takdir Teologi Klasik
Teologi, Filsafat dan Tasawuf, adalah tiga disiplin yang mempunyai beberapa kesamaan. Kesamaan yang paling menonjol diantaranya adalah ketiganya mempunyai ruang konsentrasi untuk mengkaji tuhan.
Metode yang ditempuh ketiganya berbeda dalam mengkaji Tuhan. Teologi melakukannya dengan melalui analisa teks wahyu. Filsafat berangkat dari keraguan akal dan tasawuf dengan cara merasakan kehadiran-Nya melalui tindakan aksi.
Ketiganya memiliki masing-masing kelebihan dan kekurangan tertentu. Teologi hanya mampu menjelaskan Tuhan melalui apa yang Tuhan informasikan sendiri melalui wahyu dan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Namun Teologi akan terhindar dari kekeliruan konsep akan Tuhan. Sementara filsafat selain berpotensi keliru juga miskin cita rasa akan kehadirannya. Meski begitu, filsafat punya argumen yang kuat dalam mempertahankan argumen rasional tentang konsep ketuhanan. Tasawuf dapat memberi kenikmatan akan kehadiran Tuhan meski sumber kenikmatan itu berpeluang datangnya dari setan serta tidak mampu memberi penjelasan akan "Tuhan" itu sendiri.
Teologi Islam berkutat pada perdebatan antara dua aliran besar yang, padahal, berawal dari perpecahan politik: Qadariyah dan Jabriyah. Aliran Qadariyah menganggap manusia punya kewenangan penuh atas keputusan dan tindakan yang diambil dan Allah hanya menjadi sebagai fasilitator terhadap kebijakan itu. Sementara aliran Jabariyah menganggap manusia tidak punya kuasa apapun dalam memutuskan segala sesuatu. Aliran ini melihat segala keputusan dan tindakan manusia dikendalikan oleh Allah keseluruhannya.
Allah SWT yang Maha atas segala sesuatu ketika menciptakan segala sesuatu telah tau segala potensi ciptaannya. Dan karena kekuasaannya pula, segala ciptaanya-Nya sudah dikehendaki dan diketahui segala apa yang akan terjadi dan yang akan dilakukan makhlukNya.
Allah sudah tau Azazil akan ingkar untuk bersujud menghormati Adam. Ketika Allah menghendaki menciptakan Azazil, maka segala potensinya sudah berlaku bersama "niat" penciptaan itu. Jadi segala tindakan Azazil adalah berdasarkan potensinya. dan potensi itu berada bersama penciptaannya tanpa terpisah satu sama lain. Demikian Azazil, demikian pula semua ciptaan Allah yang lain.
Pemikiran aliran yang menyatakan manusia berhak menentukan segala keinginannya hanya efektif untuk memotivasi manusia untuk semakin serius beribadah dan mengejar cita-cita. Kita memang selalu merasa nyaman dalam kebohongan daripada sedikit bersusah payah dalam kebenaran.
Kita memang sulit menerima kebenaran dan selalu merasa diri berkehendak dalam menentukan tindakan kita. Kita lupa bahwa kehendak, keputusan dan pikiran kita ditentukan oleh potensi yang ada dalam dirikita dimana potensi itu adalah manunggal dengan "diri" itu sendiri.
Dalam mengkaji Kitab Suci, kita lebih suka menafsirkannya sesuai keinginan. Bukan mengkaji Kitab Suci untuk memahami maksud dari Kitab suci itu sendiri. Sehingga meski Kitab Sucinya satu, selalu multi tafsir.
Demikian pula dalam melihat dunia. Kita selalu ingin dunia yang kita lihat sesuai dengan keinginan kita. Bukan melihat dunia apa adanya.
Kalau teologi Islam masih saja berkutat pada persoalan Jabariyah dan Qadariyah, peradaban Islam akan semakin mundur. Peradaban itu lahir dari kebudayaan-kebudayaan yang tangguh. Kebudayaan yang tangguh adalah efek dari tingginya ilmu setiap individu. Ilmu kita harus semakin dinamus dan progresif serta mampu menjawab segala persoalan ummat. Untuk mendukung dan menjaga progresivitas Ilmu, kita perlu sebuah perisai tangguh yang dapat menjaga dan membantu mengembangkan progresivitas kajian keilmuan. Perisai ini kita sebut Teologi. Teologi juga harus dapat dijadikan sebuah visi atau paradigma keilmuan. Bila Teologi Islam masih saja berkutat pada masalah-masalah yang tidak jelas ujung pangkalnya itu, maka perkembangan ilu Islam hanya sebatas impian dan imajinasi.
Mentra 58. 23 Maret 2011
Metode yang ditempuh ketiganya berbeda dalam mengkaji Tuhan. Teologi melakukannya dengan melalui analisa teks wahyu. Filsafat berangkat dari keraguan akal dan tasawuf dengan cara merasakan kehadiran-Nya melalui tindakan aksi.
Ketiganya memiliki masing-masing kelebihan dan kekurangan tertentu. Teologi hanya mampu menjelaskan Tuhan melalui apa yang Tuhan informasikan sendiri melalui wahyu dan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Namun Teologi akan terhindar dari kekeliruan konsep akan Tuhan. Sementara filsafat selain berpotensi keliru juga miskin cita rasa akan kehadirannya. Meski begitu, filsafat punya argumen yang kuat dalam mempertahankan argumen rasional tentang konsep ketuhanan. Tasawuf dapat memberi kenikmatan akan kehadiran Tuhan meski sumber kenikmatan itu berpeluang datangnya dari setan serta tidak mampu memberi penjelasan akan "Tuhan" itu sendiri.
Teologi Islam berkutat pada perdebatan antara dua aliran besar yang, padahal, berawal dari perpecahan politik: Qadariyah dan Jabriyah. Aliran Qadariyah menganggap manusia punya kewenangan penuh atas keputusan dan tindakan yang diambil dan Allah hanya menjadi sebagai fasilitator terhadap kebijakan itu. Sementara aliran Jabariyah menganggap manusia tidak punya kuasa apapun dalam memutuskan segala sesuatu. Aliran ini melihat segala keputusan dan tindakan manusia dikendalikan oleh Allah keseluruhannya.
Allah SWT yang Maha atas segala sesuatu ketika menciptakan segala sesuatu telah tau segala potensi ciptaannya. Dan karena kekuasaannya pula, segala ciptaanya-Nya sudah dikehendaki dan diketahui segala apa yang akan terjadi dan yang akan dilakukan makhlukNya.
Allah sudah tau Azazil akan ingkar untuk bersujud menghormati Adam. Ketika Allah menghendaki menciptakan Azazil, maka segala potensinya sudah berlaku bersama "niat" penciptaan itu. Jadi segala tindakan Azazil adalah berdasarkan potensinya. dan potensi itu berada bersama penciptaannya tanpa terpisah satu sama lain. Demikian Azazil, demikian pula semua ciptaan Allah yang lain.
Pemikiran aliran yang menyatakan manusia berhak menentukan segala keinginannya hanya efektif untuk memotivasi manusia untuk semakin serius beribadah dan mengejar cita-cita. Kita memang selalu merasa nyaman dalam kebohongan daripada sedikit bersusah payah dalam kebenaran.
Kita memang sulit menerima kebenaran dan selalu merasa diri berkehendak dalam menentukan tindakan kita. Kita lupa bahwa kehendak, keputusan dan pikiran kita ditentukan oleh potensi yang ada dalam dirikita dimana potensi itu adalah manunggal dengan "diri" itu sendiri.
Dalam mengkaji Kitab Suci, kita lebih suka menafsirkannya sesuai keinginan. Bukan mengkaji Kitab Suci untuk memahami maksud dari Kitab suci itu sendiri. Sehingga meski Kitab Sucinya satu, selalu multi tafsir.
Demikian pula dalam melihat dunia. Kita selalu ingin dunia yang kita lihat sesuai dengan keinginan kita. Bukan melihat dunia apa adanya.
Kalau teologi Islam masih saja berkutat pada persoalan Jabariyah dan Qadariyah, peradaban Islam akan semakin mundur. Peradaban itu lahir dari kebudayaan-kebudayaan yang tangguh. Kebudayaan yang tangguh adalah efek dari tingginya ilmu setiap individu. Ilmu kita harus semakin dinamus dan progresif serta mampu menjawab segala persoalan ummat. Untuk mendukung dan menjaga progresivitas Ilmu, kita perlu sebuah perisai tangguh yang dapat menjaga dan membantu mengembangkan progresivitas kajian keilmuan. Perisai ini kita sebut Teologi. Teologi juga harus dapat dijadikan sebuah visi atau paradigma keilmuan. Bila Teologi Islam masih saja berkutat pada masalah-masalah yang tidak jelas ujung pangkalnya itu, maka perkembangan ilu Islam hanya sebatas impian dan imajinasi.
Mentra 58. 23 Maret 2011
Selasa, 22 Maret 2011
Objektifikasi Objektif
"Objektifikasi Islam" yang dicanangkan Kanda Kuntowijoyo benar-benar sangat mempengaruhi pemikiran Ketua Umum PB PII, Muhammad Ridha. Tidak perlu heran kalau konsep ini benar-benar mempengaruhi seluruh konsep visi-misi PB PII periode ini (2010-2012). Karena itu pula PB PII periode ini gemar melakukan aksi bersama organisasi-organisasi lain tanpa banyak mempertimbangkan azas dan agama mereka, asalkan memperjuangkan kepentingan ummat manusia indonesia, yang mayoritas muslim.
Dalam pandangan PII periode ini, objektifikasi sangat perlu diaplikasikan, sebab dalam dunia yang semakin heterogen seperti sekarang ini, kita perlu bekerjasama dengan siapapun asalkan memberikan keuntungan dan mengarah kepada tercapainya tujuan semua pihak.Pada ranah ilmu, kata Ridha, Objektifikasi Ilmu menjadikan ilmu sebagai alat untuk menyusun sebuah sistem yang objektif sesuai konsep Islam tanpa membingkainya dengan jargon-jargon dan simbol-simbol identik dengan Islam, terutama Al-Qur'an dan Hadits. Selain itu, ilmu juga digunakan sebagai alat mengisi sistem yang mapan. Nilai-nilai Islam harus diharapkan dengan tanpa simbol dan jargon Islam.
Dalam usaha memberikan solusi terhadap persoalan kemanusiaan, Objektifikasi tidak melakukan cara-cara penyalahan terhadap korban, atau menurut istilah Jalaluddin Rakhmat: "blaming the Victim". Misalnya, terjadi bencana, jangan katakan karena banyak maksiat, jauh dari Tuhan, dan sebagainya. Objektifikasi berusaha memberikan alasan-penalaran rasional yang dapat diterima sesuai tingkatan logika dan keyakinan masyarakat tanpa "menyosorkan" simbol-simbol agama. Saat menawarkan solusi pada masyarakat yang plural, dinamis dan heterogen, kita tidak boleh menawarkannya dengan simbol-simbol agama melainkan dengan tawaran solusi yang rasional.
Objektivikasi bukannya bertujuan yang sok rasional dan merasa malu maupun pesimis memberi solusi atas segala sesuatu dengan berlabel agama. Konsep ini adalah salah-satu solusi bagi persoalan kemanusiaan bagi mereka yang saat ini pesimis melihat agama. Objektivikasi memecahkan persoalan kemanusiaan hingga manusianya yang dengan sendirinya mencari rahasia di balik metodologi yang mampu mensolusikan persoalan mereka itu sehingga pada akhirnya mereka menemukan agama dengan kesan dan pendangan yang jauh lebih baik.
Kebahagiaan Hakiki adalah Dalam Menahan
"Kita selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki, tidak pernah menginginkan apa yang kita miliki." (Penyair Timur)Apa yang manusia cari dalam hidup? Uang, untuk digunakan bersenang senang. Membeli pakaian semahal-mahalnya. Yang paling mahal diantaranya terbuat dari sutra dan kulit hewan. Semahal-mahal pakaian manusia adalah belum berpakaian bagi binatang, semewah-mewah pakaian manusia adalah hewan yang telanjang. Membeli makanan padahal perut kita hanya sejengkal saja. Dalam hal makanan, monyet lebih hebat dari kita, dia bisa menyimpan makanan di bawah rahangnya bila perutnya telah penuh.Membuat rumah banyak-banyak dan sebesar besarnya dan hanya untuk tidur di sana, sebab sudah terlalu sibuk bekerja. Bila tidur, semua tidak sadar, dalam tidak sadar, tidur di bawah kolong jembatan dengan di hotel berbintang lima, sama saja.Semua yang diimpikan bukan untuk diwujudkan.
Mimpi-mimpi hanya sekedar alasan mengapa kamu harus hidup. Bila kau telah mendapatkan apa yang kau impikan, kamu tak punya lagi alasan untuk hidup.Kamu menikahi seorang wanita putih mulus. Setahun dengannya kamu mulai bosan. Lalu diam-diam kau main belakang dengan si Hitam Manis. Si Hitam Manis selalu membuat penasaran. Kaupun menikahinya tanpa pengetahuan istrimu si Putih Mulus.Lama-lama si Hitam Manis mulai memuakkan. Putih dan hitam sudah kau "coba". Segala gaya, segala atraksi sudah kau peragakan dengan mereka. Kau mulai melakukan adegan di film-fim biru Barat. Padahal Kitab Suci mengecam itu meski dia istrimu. Adegan yang dilarang Kitab Suci itu kau temukan tiada beda laki-laki atau perempuan lawan mainmu di atas ranjang. Lalu kamupun mulai betah dengan laki-laki. Alasannya laki-laki tidak banyak tingkah. Jadilah kau ummat yang dikecam Nabi Luth.Dalam mengejar titel maupun jabatan tidak jauh beda. Hasrat naik pangkat dan titel sebanyak-banyaknya terus menghantam imaji di kepalamu.
Dengan begitu, kau takkan pernah menikmati profesimu.Kamu harus selalu pandai menemu beda: mana kebutuhan, mana keinginan. Kebutuhan itu patut kau penuhi. Sementara itu, keinginanmu tiada berbatas. Pada hakikatnya, kepuasanmu atas keinginan-keinginanmu letaknya bukan pada pencapaian akannya, dianya tidak mengenal kata puas. Kebahagiaanya hanya ada pada momen-momen kamu berusaha menahan keinginanmu. Dan kepuasannya ada pada keberhasilan menghilangkan keinginan-keinginan itu.
Jumat, 14 Januari 2011
Dajjal
‘A‘uzubillaahiminas-syataanirrajiim.
Bismillaahirrahmaanirrahiiim.
Alhamdulillaahirabbil-‘alamin:
Hamdayyu-‘afini-‘amaahu wayukaafii-u-maadzidah.
Yaa Rabbana la-Ka-lhamdu kamaa yan baghi lilalaali wdzihikal kariimi wa ‘adzimi-sulthalik.
Allahumma-shalli ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajma’in.
Long mohon ya Allah: Neibri beu jioh kamoe dari bala; beujioh dari musibah; beu jioh kamoe dari bahaya; beu jioh kamoe dari beuncana: beu jioh kamoe dari maksit: beu jioh kamoe dari penyakeet.
Long mohon yaa Allah: neubri beutrang atee long; beubeureukat ileumee long; beu seulamat iman kamoe. Neubri beu matee kamoe dalam keuadaan beuriman keupada Droen deungan mengucapkan syaahadaat: “Asyhadu allaa ilaha illal-Lah wa asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullah” pada sakaratul maut.
Long mohon yaa Allah: Neubri beu jeut lubang kubu kamoe seubagai salah satu lupang dari lubang syuruga. Neubri bek jeut lubang kubu kamoe seubagai salah satu lubang dari lubang neuraka, yaa Allah!
Long mohon ya Allah: Neubri beujioh kamoe dari azeub dan siksa kubur.
Long mohon ya Allah: Neupeu bangket kamoe deungan beuntuk, rupa beujroh: nyang ceudah; nyang mulia, yaa Allah!
Neubri yaa Allah beudiruy kamoe bak Padang Mahsyar, yaa Allah!
Long mohon ya Allah: Neuteurimoeng seugala amal ibadah kamoe.
Long mohon ya Allah: Neupeu ampoon seugala dosa dan keusaalahaan kamoe yaa Allah.
Yaa Allah, yaa Rabbal ‘alaamin.
Long mohon ya Allah; Neubri beumudah kamoe meulewati titi Shiratal mustaqim: Beutroh saajan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Long mohon ya Allah: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah.
Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Yaa Allah: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah.
Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada.
Long mohon yaa Allah: yaa Rahman, Yaa Rahim, Yaa Ghafuur: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah. Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Rabbanaa hablana min azwaajina wazurriyztina qurrata’ayun. Waj’alna lil muttaqiina imaama.
Rabbana laa Tuziq-quluubaana ba’da iz hadaytana: Wahab laana min ladunka rahmatan Inna-Kaa Antal Wahhab.
Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wafil akhirati hasana: Waqiinaa ‘azaabannaar.
Subhanakallahumma tahiyyatu fii haa salaam: Wa akhiruu da’wahum:
Walhamdulillahii Rabbil ‘alaamin.
Mentra 58, 12-01-2011
Sajaan
‘A‘uzubillaahiminas-syataanirrajiim.
Bismillaahirrahmaanirrahiiim.
Alhamdulillaahirabbil-‘alamin:
Hamdayyu-‘afini-‘amaahu wayukaafii-u-maadzidah.
Yaa Rabbana la-Ka-lhamdu kamaa yan baghi lilalaali wdzihikal kariimi wa ‘adzimi-sulthalik.
Allahumma-shalli ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajma’in.
Long mohon ya Allah: Neibri beu jioh kamoe dari bala; beujioh dari musibah; beu jioh kamoe dari bahaya; beu jioh kamoe dari beuncana: beu jioh kamoe dari maksit: beu jioh kamoe dari penyakeet.
Long mohon yaa Allah: neubri beutrang atee long; beubeureukat ileumee long; beu seulamat iman kamoe. Neubri beu matee kamoe dalam keuadaan beuriman keupada Droen deungan mengucapkan syaahadaat: “Asyhadu allaa ilaha illal-Lah wa asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullah” pada sakaratul maut.
Long mohon yaa Allah: Neubri beu jeut lubang kubu kamoe seubagai salah satu lupang dari lubang syuruga. Neubri bek jeut lubang kubu kamoe seubagai salah satu lubang dari lubang neuraka, yaa Allah!
Long mohon ya Allah: Neubri beujioh kamoe dari azeub dan siksa kubur.
Long mohon ya Allah: Neupeu bangket kamoe deungan beuntuk, rupa beujroh: nyang ceudah; nyang mulia, yaa Allah!
Neubri yaa Allah beudiruy kamoe bak Padang Mahsyar, yaa Allah!
Long mohon ya Allah: Neuteurimoeng seugala amal ibadah kamoe.
Long mohon ya Allah: Neupeu ampoon seugala dosa dan keusaalahaan kamoe yaa Allah.
Yaa Allah, yaa Rabbal ‘alaamin.
Long mohon ya Allah; Neubri beumudah kamoe meulewati titi Shiratal mustaqim: Beutroh saajan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Long mohon ya Allah: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah.
Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Yaa Allah: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah.
Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada.
Long mohon yaa Allah: yaa Rahman, Yaa Rahim, Yaa Ghafuur: Neupeu ampoon seugala dousa dan keusalahan Ayah long, yaa Allah. Neubri beu jioh Ayah long dari azeub dan siksa kubur: Neupeusandeng ayah long sajaan para nabi, ulama, uwliya seurtaa syuhada, yaa Allah.
Rabbanaa hablana min azwaajina wazurriyztina qurrata’ayun. Waj’alna lil muttaqiina imaama.
Rabbana laa Tuziq-quluubaana ba’da iz hadaytana: Wahab laana min ladunka rahmatan Inna-Kaa Antal Wahhab.
Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wafil akhirati hasana: Waqiinaa ‘azaabannaar.
Subhanakallahumma tahiyyatu fii haa salaam: Wa akhiruu da’wahum:
Walhamdulillahii Rabbil ‘alaamin.
Mentra 58, 12-01-2011
Jumat, 07 Januari 2011
Janji
Allah SWT memerintahkan kita memenuhi janji. Janji yang paling harus diutamakan adalah janji pada Allah SWT. Apabila janji pada Allah SWT bertentangan dengan janji pada makhluk, maka janji pada makhluk harus dibatalkan. Bila janji dengan makhluk dan janji pada Allah SWT tidak bertentangan, maka janji pada Allah SWT yang harus di utamaka dan ditunaikan.
Manusia berjanji pada Allah SWT akan mengikuti nabi yang datang padanya, pada masanya dan berjani akan senantiasa patuh dan tidak akan ingkar padaNya. Inilah janji paling utama yang semua manusia mengikrarkannya saat berada di Alam Ruh.
Mentra 58, 26 Desember 2010
Manusia berjanji pada Allah SWT akan mengikuti nabi yang datang padanya, pada masanya dan berjani akan senantiasa patuh dan tidak akan ingkar padaNya. Inilah janji paling utama yang semua manusia mengikrarkannya saat berada di Alam Ruh.
Mentra 58, 26 Desember 2010
Darah
Allah SWT mengharamkan kita memakan babi, binatang berkuku tajam, bertaring, hidup di dua tempat (air dan darat) dan disembelih dengan cara ajaran Islam, namun tidak menyebut nama Allah SWT.
Babi dan binatang berkuku tajam dan bertaring ketika mati tidak dapat darahnya benar-benar habis keluar meskipun hewan jenis itu dimatikan dengan memutus kedua rongga darah di lehernya seperti yang Islam pandukan. Darah dapat merusak kesehatan bila dikonsumsi. Memutuskan kedua pipa darah di leher adalah cara terbaik menghabiskan darah hewan. Lagi pula cara tersebut adalah cara paling ringan bagi hewan untuk mati.
Allah SWT melarang memakan hewan yang mati diterkam binatang buas, terjatuh, tercekik, ditanduk dan dipukul karena cara mati demikian tidak akan menghabiskan darah dalam daging. Sebab itu pula Allah SWT mengharamkan memakan bagian tubuh hewan yang belum disembelih. Kalau sebelum matinya dapat diputuskan dua pipa darah di lehernya, maka dapatlah seluruh darah hewan itu dikeluarkan dari badannya.
Hanya ikan dan belalang yang darahnya dapat bersih kalaupun tidak dengan disembelih. Sebab itu halal jadinya ikan dan belalang bangkainya di makan.
Hewan yang hidup dua tempat umumnya dagingnya segera pucat meski baru saja mati dan matinya dengan cara apapun. Ini menunjukkan daging hewan tidak boleh dimakan tidak boleh dimakan bukan hanya karena mengandung darah di dagingnya, tapi kadar darah yang terserap habis dari badan ketika mati seperti amfibi juga tidak baik untuk dikonsumsi.
Ada satu cara agar dapat daging hewan dikonsumsi meski bukan lewat cara memutuskan pipa darah di lehernya, yaitu menyebut nama AllahSWT saat melepaskan tembakan atau hewan buruan yang benar-benar terlatih. Hewan terlatih sama seperti senjata karena dapat diarahkan sesuai kehendak pemburu. Terutama hewan terlatih itu tidak boleh sedikitpun memakan daging yang dibunuhnya.
Kemungkinan pembenaran cara seperti ini karena terlalu sulit hewan itu dapat ditangkap agar disembelih; karena hewan itu akan berzikir pula setelah takbir kita lafadzkan ketika senjata dan hewan piaraan dilepaskan, mengingat teori kuantum yang dijelaskan Fritjof Chapra dalam "The Turning Point" dan istilah 'Hado' milik Masaru Emoto dalam karyanya "The True Power of Water".
Mentra 58, 26 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)







