Link Download

Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2015

Kristen

Otentisitas dibuktikan dengan beberapa cara. Salah satu cara terpenting atau memang terutama adalah bahasa. Agama Kristen tidak memiliki otentisitas. Di setiap wilayah tertentu, ajaran Kristen memakai bahasa yang berbeda. Tampaknya para pengajar awal Kristen tidak peduli pentingnya otentisitas bahasa dari ajaran asli Injil. Bisa jadi pula ini dilakukan secara sengaja supaya otentisitas itu hilang. Asumsi ini tampaknya ada benarnya. Agama yang dibawa Isa itu sejak awal ditolak. Isa hanya memiliki beberapa orang pengikut. Namun akhirnya mereka semua berkhianat. Jadi, ajaran Isa nyaris tidak memiliki pengikut. 
Sepeninggalan Isa, ada beberapa orang yang antusias menghimpun kembali ajaran Isa. Ajaran Isa sebagian besarnya berisi pesan akan datangnya juru selamat akhir zaman yang melaluinya kesempurnaan ajaran Tuhan disampaikan. Jadi inti utama ajaran Isa adalah ajakan mempersiapkan diri menyambut Nabi akhir zaman.
Oleh para pengajar Kristen awal pesan ini dijadikan kesempatan untuk mempersiapkan sebuah tandingan atau komunitas untuk melawan ajaran penyempurna yang dijanjikan itu.
Di Indonesia, dan mungkin beberapa wilayah lainnya, ajaran Kristen hampir seluruhnya memakai bahasa serapan Arab. Bahasa Indonesia menyerap bahasa Arab pada masa Islam yang menjadi agama terahir penyempurna itu didakwahkan di Nusantara. Ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa ajaran Kristen di Indonesia baru dimulai setelah agama Islam benar-benar memasuki sendi kebudayaan Nusantara.
Di Spanyol dan Latin, ajaran Islam juga lebih dahulu berkembang, tetapi dibumi hanguskan oleh penguasa. Lumayan kita masih dapat menemukan bukti Islam pernah berjaya di Spanyol. Sayangnya kita sama sekali belum punya bukti ilmiah kejayaan Islam pernah terjadi di Amerika Selatan. Islam di Amerika Selatan dihanjurkan hingga tidak bersisa sama sekali. Semua orang Islam yang tidak mahu pindah ke agama Kristen dibakar ditanam hidup-hidup. Semua literatur dan bangunan berkaitan dengan Islam dimusnahkan hingga tak berjejak. Prilaku ini juga terjadi di Spanyol pada masa penghapusan Andalusia Muslim. Tindakan di Amerika Selatan adalah mengikuti tidakan di Spanyol ketika Spanyol berekspansi ke arah Barat. Sementara tetangganya Portugal berekspansi ke Timur, negara-negara seperti India dan Indonesia diekspansi secara militer, merubah kebudayaan mereka dan memaksa mereka memeluk Kristen. Sebenarnya, di bagian-bagian Indonesia yang banyak penganut Kristen seperti pesisir selatan Sumatera Utara, Utara sulawesi dan Papua, Islam telah terlebih dahulu mendominasi. Sebagaimana Amerika Selatan dan Spanyol, Islam disingkirkan. Karena itulah, istilah-istilah Islam banyak pakai dalam ajaran Kristen di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Sebab bahasa masyarakat ketika Kristen diajarkan, sudah terlebih dahulu menggunakan bahasa-bahasa Arab yang dipakai masyarakat ketika menerima Islam sebelumnya.
Sebagaimana bermula agama ini dijadikan sebagai alat mereguk kekuasaan dan kekayaan oleh sebagian kecil orang. Agama dan Tuhan memang sangat mudah dijual. Orang akan melakukan apapun kalau kulitnya bertulis nama Tuhan.
Isi ajaran Injil semakin lama semakin aneh, ditulis sesuai orientasi si pengarang. Sekalipun mungkin pada periode awalnya Injil ditulis dengan tulus hanya berniat restu Tuhan, namun semakin lama, ajarannya semakin dipelisitir. Sebagian kecil orang yang benar-benar berorientasi ketuhanan semata harus bersusah payah menyaring Injil untuk menemukan ajaran murninya. Usaha ini persis seperti mencari sebiji jarum dalam tumpukan jerami: memungkinkan, tetapi sangat sulit.
Ambiguitas mendominasi ajaran Injil. Mereka yang punya niat tulus terpaksa membuat penafsiran sedemikian rupa untuk dapat menemukan ajaran Injil sejati. Mereka sering harus mengadopsi aroma Hindu, Budha dan Islam ketika melakukan usaha itu.
Misalnya ketika berusaha menemukan spiritualitas Kristen dalam etos kerja. Rhonda mengaku mengambil inspirasi dari Wallace. Prosesnya adalah berdoa, menunggu dan menerima. Sikap ini adalah sikap umum yang belum tentu adalah murni ajaran Kristen. Dalam terminologi Hindu, Budha dan Islam juga terdapat ajaran seperti ini.
*
Agama-agama besar memiliki prinsip-prinsip ajaran yang sama. Ide-ide dasar intelektualitasnya juga mengambil inspirasi yang mirip. Seperti dalam ajaran Islam yang mengakui air sebagai hal yang sangat penting, baik dalam artian konkrit maupun ideal. Doktrin sufisme Islam, yang merupakan bagian kreatifitas penting ditinjau dari segi intelektualitas dan kreativitas, melihat air sebagai substansi penting kehidupan. 'Ayan tsabitah dikatakan sebagai sebagai sumber dari segala realitas semesta. Demikian pula Thales melihat air sebagai substansi kehidupan. Dalam ajaran Katolik, air dijadikan sebagai lambang wajah feminim Tuhan sebagai Bunda Ilahi. Air identik dengan simbol fenimim. Sebelum lahir ke dunia, manusia tinggal di dalam air selama sembilan bulan.
Feminim dan maskulin adalah simbol yang melekat pada setiap agama besar. Kedua bagian ini merupakan warisan tradisi intelektual manusia. Dalam agama Kristen, Bunda Agung dan Tuhan Bapa, eksistensi keduanya merupakan dua wajah Tuhan Kudus yang seimbang. Dalam Islam, Jamal yang merupakan simbol feminim dan Jalal merupakan simbol maskulin dianggap sebagai manifestasi utama sifat Tuhan yang dari keduanya sifat-sifat lainnya muncul.
Simbol-simbol esensial, yang tampak sama dalam pemakaian kata atau benda sebagai sebuah analogi yang sama dalam pemaknaannya sekalipun satu sama lain belum pernah bersentuhan, dianggap oleh beberapa relijius Kristen sebagai akibat dari jiwa yang memiliki interkoneksi.
Spiritualitas Kristen sangat meyakini bahwa apapun yang kita inginkan, bila dikonsenterasikan dengan baik atau diberi fokus yang tegas, maka akan terealisasi dalam kehidupan, Asas keyakinan ini tampaknya adalah karena pada ajaran murni Kristen, jiwa dengan raga atau materi dengan immateri adalah satu kesatuan utuh tanpa sekat. Keinginan yang sifatnya immaterial akan mewujud dalam realitas karena immateri merupakan penggerak bagi materi. Pandangan mengenai keinginan yang dapat mewujud dalam pandangan masyarakat Kristen hari ini tampak janggal sehingga kerap disanggah kemungkinannya karena dunia Kristen hari ini terlalu materialistik. Antara jiwa dengan raga dalam paham Kristen hari ini dilihat sebagai dua entitas terpisah. Masalah ini memiliki latar belakang yang cukup rumit terkait sejarah intelektualitas Kristen.
Dalam beberapa sisi, Kristen memiliki sejarah survival yang lebih rumit, dalam beberapa sudut pandang, dibandingkan saudara dekatnya, Islam. Ketika Isa (Yesus) masih berdakwah, dia ditolak habis-habisan oleh kaumnya. Sepeninggalannya. Nyaris tidak ada pengikut. Hanya beberapa kalangan intelektual yang menaruh perhatian terhadap sabda-sabda Yesus. Mereka mendokumentasikannya dengan susah payah. Oleh penguasa yang melihat dapat mengambil keumtungan, Kristen dipaksakan kepada rakyatnya. Karena pendekatan demikian, ajaran ini dimodifikasi sedemikian rupa supaya mendukung penuh ajaran sang penguasa. Sebagian intelektual memilih menuruti keinginan penguasa karena beberapa pertimbangan; keselamatan dan pilihan supaya ajaran Yesus tetap eksis. Sebagian intelektual lain memilik menolak. Kaum yang menolak sebagian dibinasakan dan sebagian berhasil melarikan diri. Ajaran-ajaran yang masih agak murni yang berhasil diselamatkan tidak memiliki banyak pengikut. Karena itu tidak mengherankan, sekalipun masih dalam masa perintisan, agama Kristen sudah memiliki banyak versi.
Umumnya penganut Kristen tidak memusingkan perpecahan ini, sebab bagi mereka yang sakral dalam Kristen adalah sosok Yesusnya, bukan kitab sucinya. Di samping memang beberapa kalangan intelektual masih menyerukan pemurnian Kristen hingga hari ini. Mereka memilih mendirikan ordo-ordo inklusif sebagai bagian upaya menjaga kemurnian Kristen. Dan sejarah membuktikan secara berulang kali bahwa mereka selalu ditentang dan ingin dibinasakan oleh kalangan Gereja.
Gereja adalah warisan dari ajaran yang dipertahankan untuk melanggenggan penguasa tertentu. Para pastur Gereja sangat nyaman dengan sistem itu karena mereka berposisi layaknya priyanyi. Mereka adalah penentang utama ajaran ordo-ordo inklusif. Sebab ordo-ordo itu bernuansa penentangan atas ajaran Gereja.
Sejaran pertentangan antara Ordo dengan Gereja mirip dengan sejarah pertarungan antara teolog/fukaha dengan sufi/filosof illuminasi dalam Islam. Gereja mendakwahkan agama dengan sistem yang berpaku pada pikiran rasional. Rasionalitas mendominasi Gereja dan teolog sekalipun mereka memproklamirkan diri sebagai penjaga kemurnian kitab suci. Namun sekalipun mereka mengaku mengacu pada kitab suci, namun frame pemikiran mereka tetaplah bersandarkan pikiran rasional.
Sementara itu, Ordo dan sufi lebih menekankan aspek batin daripada ajaran agama. Mereka tidak melihat akal pikiran sebagai elemen yang begitu penting bagi ajaran agama. Mereka lebih menyerukan pada dimensi batin atau makna yang terkandung dalam simbol ritual maupun kitab suci.
Terkait sejarah kekuasaan, posisi Gereja dengan teolog tampak identik. Di sisi lain, Ordo dan sufi tampak sejalan. Gereja dan teolog dalam cara pandang tertentu adalah hasil binaan penguasa. Penguasa menetakkan veto supaya ajaran agama disesuaikan dalam rangka mendukung penguasa. Pada segmen penetapan hukum-hukum, dalam Islam, demikian Kristen kalangan fukaha harus mengeluarkan fatwa yang mendukung penguasa. Sementara kaum sufi harus menyingkir karena dituduh sebagai benalu bagi agama, yang sebenarnya adalah ancaman bagi eksistensi penguasa. Sufyan al-Tsawsi, Hallaj, Syihabuddin Suhrawardi, Siti Jenar, Hamzah Fansuri adalah beberapa diantara sufi yang disingkirkan akibat dianggap mengancam penguasa. Dalam dunia Kristen, riwayat kelam ini juga tidak kalah tragis dialami oleh Ordo.
*
Terkait dengan iritasi filsafat Yunani terhadap agama Kristen dan Islam, kebetulah ada dua jalur yang diapresiasi secara terpisah oleh teolog dan sufi atau Gereja dengan Ordo. Plato dan Aristoteles adalah dua tokoh utama dengan pola pandang berseberangan. Pola ajaran Aristoteles yang rasional dan realistis lebih diapresiasi oleh teolog dan Gereja. Turunan ajaran ini mudah dipahami dan dimodivikasi sehingga bisa dimodivikasi tergantung keinginan Gereja dan penguasa. Sementara ajaran Plato bernuansa idealis cenderung diapresiosi Ordo dan sufi.
Separatisasi idealitas dan realitas sebenarnya tidak perlu terjadi. Alasannya bisa beragam. Salah satu alasan kuatnya adalah pemikir besar sebelum kedua filosof besar itu yaitu Pyttagoras, membangun ajaran ideal dan real secara bersamaan. Namun sebagian yang pendek akalnya memilih berfokus pada ajaran realnya saja karena mudah dipahami. Sebagian'lagi yang memahami keduanya memilih mengabdi pada ajaran odeal karena mereka melihat yang ideal itulah yang lebih menjanjikan.
Dalam menuju zaman modern, Rene Descartes membuat separatisasi ajaran ideal dengan real menjadi semakin parah. Dia menyatakan jiwa dengan raga sebagai unsur yang harus dipisah satu sama lain. Sebelumnya ajaran Thomas Aquinas dan Averroes yang becorak Aristotelian telah mendahului dikhotomi jiwa dengan raga.
Rene Dscarter juga banyak belajar dari kedua filosof tersebut. Ditambah lagi, secara diam-diam Descartes banyak menyerap gagasan Al-Ghazali yang juga berfondasi pada logika Aristotelian. Jadinya sekularisme di Kristen Barat semakin tidak terbendung. Seiring perkembangan teknologi, agama, yang dianggap sebagai sombol jiwa semakin tersisihkan hingga tinggal setengah hari pada hari minggu.

Wujud dan Mahiyah


''Jiwa dan di atas jiwa adalah Wujud Murni. Wujud yang Primer hanya Tuhan saja. Segala selainNya yang primer adalah mahiyahnya.'' Ketika sampai pada pembahasan Syihabuddin Suhrawardi yang ini, Mulla Sudra mengaku terkagum-kagum dengan pendiri Hikah Al-Isyraq ini. ''Syihabuddin Suhrawardi adalah cahaya mataku'' demikian puji Mulla Sdra kepada Surawardi. Berikut pembahasannya:
Wujud adalah sesuatu yang muncul sebagai prakonseptual. Misal, bayi yang belum mampu mengkonsep apapun ketika disulut abu rokok secara tiba-tiba, ia hanya mampu merasakan ada, yakni wujud. Konsep-konsep belum berlaku bagi bayi. Dengan demikian jelaslah wujud hadir sebelum konsepsi. Karena itu, dalam pikiran, wujud itu jelas bagi semua orang. Wujud sebagai konsep tidak membutuhkan apapun dan tidak dapat dijelaskan melalui apapun. Sementara wujud pada realitas (mawjud) hanya dapat dipahami setelah esensi (mahiyah).
Wujud sebagai prinsipalitas, menurut Toshihiko Isutzu, (2003, p. 17 & 19) baru diperkenalkan oleh Mulla Sadra. Sebelumnya, oleh Ibn Sina, wujud yang dianggap sebagai yang utama dan berdiri sendiri bukanlah wujud tetapi mawjud. Sebab itulah Isutzu menyinggung Fazlur Rahman dan Hadi Sabzawari karena menyamakan istilah 'mawjud' yang dipakai Ibn Sina dengan istilah 'wujud'.
Wujud sebagai konsep adalah terbukti dengan sendirinya. Sementara sebagai realitas, dia tersembunyi. Tetapi dalam pandangan Isutzu, (2003, p. 26) sebagai kebiasaan yang tidak patut dilakukan, para pengukut Hikmah Muta'alliyah sering mengabaikan perbedaan wujud sebagai konsep dan wuju pra-konseptual.
Melalui Ibn Sina, dapat diketahui bahwa pada satu mahiyah terdapat dua wujud yakni wujud konsep (dzihni) dan wujud konkrit (khariji). Dengan wujud dzihni, mahiyah sesuatu dibentuk. Tetapi wujud bukanlah pembentuk mahiyah. Pada realitas eksternal, wujud benar-benar tersamarkan oleh mahiyah. Sementara pada ranah konseptual, wujud dengan mahiyah benar-benar dapat dibedakan seolah keduanya berbeda. Wujud konseptual dapat digambarkan tetapi tidak secara langsung melainkan melalui penisbatan kepada mahiyahnya.
Abstrak wujud dapat diterapkan pada mahiyah-mahiyah yang tidak terbatas. Tetapi abstrak mahiyah hanya dapat diterapkan pada beberapa mahiyah saja. Misal, wujud (ada) dapat diterapkan pada apapun, tetapi mahiyah, meja, misalnya, hanya dapat diterapkan pada meja ini dan meja itu saja, tidak pada mahiya kursi, mahiyah kuda dan lainnya.
Bahwasanya, adalah berbeda wujud abstrak dengan wujud yang khusus yang hanya terkait dengan mahiyah. Wujud abstrak dapat diterapkan pada apapun: Tuhan, meja, manusia dan segala mahiyah lainnya.
Wujud dapat menjadi predikat bagi setiap Mahiyah. Dengan adanya mahiyahlah wujud dapat dikenal. Dan ini khusus di alam konsep. Di alam konkrit dia tersembunyi secara sempurna oleh maqulat-maqulat (mahiyah-mahiyah konkrit).
Wujud yang menjadi predikat bagi mahiyah tidak menjelaskan apapun tentang mahiyah. Sehingga dalam posisi ini, wujud sebagai konsep abstrak adalah yang paling mandul, sementara realitas eksternal yang dirujuk menjadikan wujud sebagai hal yang paling kaya sebab menjadi sumber bagi segala realitas.
Untuk memperjelas masalah ini, perlu dijelaskan tentang primary intelligible atau ma'qulat awwal dan secondariy intelligible atau ma'qulat tsani. Ma'qulatul awwal adalah predikat yang diambil dari realitas konkrit lalu diabstraksikan menjadi independen tanpa ikatan dengan subjek apapun. Misalnya putih yang di ambil dari dinding menjadi ke-putih-an.
Ma'qulat tsani adalah suatu predikat yang tidak ada pada realitas konkrit. Misalnya 'universal' yang diabstraksikan dari konsep 'manusia' dan konsep manusia itu hanya ada di dalam pikiran. Ini adalah contoh untuk ma'qulat tsani mantiqi.
Ma'qulat tsani falsafi adalah predikat yang diambil dari realitas konkrit dan predikatnya hanya ada pada konsep. Misal, 'Ali ayahnya Hasan'. Konsep 'ayah' diambil dari 'Ali' yang ada realitas konkritnya.
Adapun posisi wujud yang kita maksud tadi adalah termasuk ma'qulat tsani falsafi. Subjeknya ada pada realitas kontrit, tetapi predikatnya adalah konsep.
Tetapi dalam pandangan kemendasaran wujud atas mahiyah, kemendasaran mahiyah hanya terjadi di ranah konsep. Sementara di ranah konkrit, yang utama adalah wujud. Adapun mahiyah-mahiyah hanyalah pembatasan-pembatasan wujud yang tidak terbatas di alam konkrit.
Seperti pengenalan langsung sebagai prakonseptual dan sebagai konsep yang dapat diterapkan pada setiap mahiyah, kedua tingkatan wujud sebagai konsepsi ini tidak dapat direduksi. Dia sudah sangat jelas sehingga tidak dapat dijelaskan melalui konsep apapun. Tetapi kedua tingkatan wujud ini tetap sebagai pemahaman, bukan pengalaman nyata. Pengalaman nyata akan wujud hanya dapat diraih oleh orang-orang tertentu.
Selanjutnya pembahasannya adalah tentang perbedaan antara wujud dengan mahiyah. Pada setiap wujud konkrit atau mawjud, ianya terdiri dari mahiyah dan wujud. Perbedaan wujud dengan mahiyah yang menjadi dasar perdebatan ontologi dalam filsafat Islam sebenarnya diinspirasikan oleh Aristoteles ketika dia mengatakan bahwa 'manusia itu apa' dan 'manusia itu apa' atau mahiyah lainnya adalah dua hal yang berbeda. Wujud hanya bisa dibuktikan dengan demonstrasi, sementara mahiyahnya dapat dijelaskan melalui defenisi.
Aristoteles dan Al-Farabi menjadikan wujud konkrit sebagai fokus kajian mereka dan menyimpulkan bahwa wujud adalah aksiden bagi mahiyah. Tetapi Al-Farabi menyeret diskusrus ini ke dalam persoalan pembahasan penciptaan. Di mana ia mengatakan Wujud Pencipta adalah sama dengan Mahiyah-Nya. Dan bagi ciptaan, selain wujud dengan mahiyahnya sama, tetapi wujudpun oleh ciptaan tidak dapat muncul tanpa Permberian wujud oleh Pencipta. (Isutzu, 2003, p. 48) Impikasi persoalan ini adalah, para ranah konkrit, wujud dengan mahiyah adalah tunggal, tanpa rangkap. Baru dalam ranah konsep keduanya dapat dipisahkan.
Ibn Sina menganalisa objek konkrit lalu diabstraksikan secara subjektif kepada universal alami yang melampaui wujud dan mahiyah. Untuk abstrak universal ini, perlu ditambahkan wujud padanya agar dia dapat dibangun kembali dalam keutuhannya semula. Pandangan ini adalah konsistensi Ibn Sina dengan gagasan materi primer yang membutuhkan wujud wajib supaya dapat teraktualisasi. Dan dalam pandangan Ibn Sina, perbedaan wujud dengan mahiyahnya hanyalah pada ranah konseptual. Jadi kritik yang umumnya terjadi pada Ibn Sina adalah karena mengira Ibn Sina menambahkan wujud pada mahiyah yang konkrit.
Pandangan Ibn Sina di atas sejalan dengan konsep penciptaan dalam pandangan Al-Farabi sebagaimana disinggung sebelumnya.
Perlu ditegaskan bahwa mahiyah itu terbagi dua. Pertama adalah mahiyah dalam pengertian khusus (bi ma'na al-khas) yang merupakan jawaban terhadap setiap pertanyaan 'apa itu?'. Mahiyah ini disebut juga dengan quiditas. Kedua adalah mahiyah dalam pengertian umum (bi ma'na am) yakni sesuatu yang dengannya sebuah benda sebagaimana adanya. Mahiyah ini disebut juga dengan esensi.
Dalam analisa pikiran, sebuah objek dibedakan antara mahiyah (quiditas) dan eksistensinya. Eksistensi yang menjadikannya menjelma dan mahiyah yang membuatnya menjadi berbeda dengan yang lain sehingga dia menjadi suatu differensia konkrit.
Pada satu entitas konkrit, antara wujud dengan mahiyah, harus salah satunya saja yang menjadi ashal, yakni sebagai yang nyata bagi entitas tersebut. Sementara yang menjadi i'tibar, hanyalah proyeksi mental atau pikiran. Karena itu, mustahil keduanya menjadi ashal karena bila keduanya ashal, berarti ada dua entitas berhadap-hadapan.
Toshihiko Isutzu (2003, p. 61-65) mengemukakan dua argumentasi Hadi Sabzawari dalam membuktikan bahwa eksistensi adalah ashal. Pertama adalah dalil predikasi teknis umum atau haml sya'i shina'i. Misalnya pada 'al-insan al-katib'. Antara 'manusia' sebagai subjek dan 'penulis' sebagai predikat memiliki perbedaan yang disebabkan oleh quiditas terjadi dalam pikiran. Tetapi kedua perbedaan itu disatukan oleh wujud karena pada tinjauan konkrit hanya ada satu entitas yakni 'manusia' atau 'penulis' saja. Fondasi dalil ini adalah aspek kesamaannya adalah perbedaannya atau aspek perbedaannya adalah kesamaannya yang bertingkat seperti menjadi subjek dan menjadi predikat.
Dalil kedua yakni gradasi mahiyah. Misalkan api. Api yang menjadi sebab (prior) yang menyebabkan api lain (posterior). Maka yang terjadi hanyalah hal yang tidak apa berubahan sebab api sebagai prior dan api sebagai aposterior tetap saja api. Sehingga jelaslah bahwa yang menyebabkan menjelmanya api bukanlah mahiyah api tetapi adalah wujud.
Perdiri aliran Illuminasi dalam filsafat Islam, Syihabuddin Suhrawardi, mengira Ibn Sina membedakan antara wujud dengan mahiyah pada ranah konkrit. Sehingga ia mengkritiknya dengan mengatakan seharusnya perbedaan itu tidak berlaku di alam konkrit tetapi hanya pada ranah konsep atau mental. Dalam hal ini, Suhrawardi sepakat dengan Ibn Sina. Tetapi ketika dikatakan Suhrawardi, sebagaimana dibahasakan oleh Toshihiko Isutzu: ''... konsep 'eksistensi' benar-benar i'tibari, tidak ada yang nyata yang langsung berkaitan dengannya dalam 'eksisten' yang sebenarnya.'' (Isutzu, 2003, p. 67) Dan Isutzu menyimpulkan bahwa Suhrawardi menganggap mahiyah yang aktual di ranah konkrit. Inilah yang membedakannya dengan Ibn Sina.
Suhrawardi melihat, segala argumentasi yang menyentuh tentang wujud hanya muncul sebagai predikasi pikiran atas mahiyah yang nyata. Misalnya ketika mengatakan ''Di dalam rumah ada meja'' maka kata 'ada' tampak hanya sebagai predikasi di dalam pikiran bagi mahiyah 'meja' yang konkrit.
Kesalahpahaman atas pandangan Ibn Sina juga berlaku bagi Ibn Rusyd, Thomas Aquinas dan Fakhruddin Al-Razi. Semuanya menuduh Ibn Sina melakukan kesalahan dengan mengatakan eksistensi adalah sebuah aksiden baqi quiditas. Benar Ibn Sina mengatakan demikian, tetapi maksudnya bukan pada ranah konkrit tetapi pada ranah konsepsi mental. Sebab pada ranah konkrit, sesuatu adalah ketunggalah mutlak. Namun ketika suatu mahiyah itu dianalisa secara konseptual, maka mahiyah dengan wujudnya dapat dipisahkan. Ketika dipisah, maka eksistensinya akan tampak sebagai sesuatu yang tidak nyata karena wujud dalam konsep menjadi mumkin bagi sesuatu yang lain. ini adalah bagian ma'qulat tsani falsafi. Seperti 'Ali' di ranah konsep adalah 'Ali' yang tidak utuh sebab dia berkonsekuensi sebagai 'ayahnya Hasan'. Tetapi 'Ali' pada ranah konkrit adalah 'Ali' yang utuh.
Aliran Hikmah Muta'alliyah sekalipun tidak mengabaikan, namun punya cara pandang lain dalam menggambarkan tingkatan wujud. Mereka hanya menerima wujud sebagai yang ril. Sementara mahiyah adalah proyeksi intrinsik oleh wujud. Perbedaannya adalah pada kesamaannya dan kesamaannya adalah pada perbedaannya, yakni wujud.
Dalam pandangan Mulla Sadra, wujud sebagai realitas sejati tidak dapat dianalisis secara konseptual. Wujud itu hadir secara langsung, tetapi hanya pada kalangan terbatas, yakni mereka yang telah mencapai latihan spiritual yang tinggi serta mereka yang punya potensi untuk itu.
Toshihiko Isutzu (2003, p. 96) manganalisis wujud menjadi gagasan yang meliputi (1) wujud mutlak dan (2) bagian wujud serta realitas wujud yang meliputi (3) unit umum dan (4) unit khusus.
Gagasan wujud mutlak adalah wujud yang terbukti dengan sendirinya. Dia dapat diterapkan pada apapun tanpa mempengaruhi apapun. Dia jelas berbeda dengan mahiyah. Tetapi kalangan Asy'arian menyamakannya dengan mahiyah. Adapun bagian wujud adalah wujud yang dibatasi oleh mahiyah serta berhubungan langsung dengannya. Sementara unit umum adalah realitas eksistensi yang sejati, yang luas, yang tidak terjangkau, tidak terartikuliasikan kecuali melalui gambaran negatif. Dan unit khusus adalah wujud konkrit yang merupakan batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan intrinsik realitas wujud. Bila menolak wujud secara konseptual dipisahkan dengan wujud sebagai realitas, sebagaimana dilakukan Asy'arian, maka yang terjadi adalah penyamaan antara wujud Tuhan dengan wujud makhluk. Padahan kesamaan antara wujud Tuhan dengan wujud makhluk hanya pada kesamaan konsep (musytarak lafzi), bukan kesamaan realitas (musytarak ma'nawi).
Adapun bagi penganut Peripatetik, mereka hanya menerima realitas wujud sebagai unit khusus, tanpa mengelaborasi unit umum, sehingga bagi mereka terdapat beragam wujud konkrit yang tidak berbatas dan tidak bersatu.
Sementara itu ada pandangan sufi yang terbagi menjadi sufi yang mengatakan ada hanya satu wujud pada realitas konkrit tanpa gradasi. Pandangan ini tampak seperti panteisme. Sementara golongan sufi lainnya adalah pandangan yang dianut Mulla Sadra dan pengikutnya. Mereka membedakan wujud murni yang mutlak tanpa syarat dengan wujud yang konkrit. Adapun wujud konkrit adalah wujud yang memiliki kebutuhan mutlak kepada wujud yang murni untuk menjelma.
Selanjutnya adalah pandangan ashalatul mahiyah yang dipegang oleh Jalaluddin Dawani, Mir Damad dan Suhrawardi. Bagi mereka, wujud hanya pada tahap bagian wujud (konseptual), bukan bagian khusus (realitas). Bagi golongan ini, yang nyata secara konkrit adalah keragaman mahiyah, bukan wujud. Bagi mereka, hubungan mahiyah-mahiyah dengan wujud hanya hubungan aksidental.
Adapun dalam pandangan Mulla Sadra dan Hadi Sabzawari, wujud itu adalah satu yang bergradasi. Menjadi wujud yang menjelma hingga mengesankan keberagaman sebenarnya adalah satu wujud saja. Wujud yang satu itu membatasi dirinya dengan mahiyah-mahiyah yang diproyeksikan pikiran sehingga seolah tampak wujud yang menjelma itu menjadi beragam.
Pemahaman tentang gradasi wujud dalam Filsafat Hikmah dijelaskan melalui konsep analogis. Kategorisasinya dibagi menjadi sebab (prior) dan akibat (posteor), substansi dan aksiden atau kekuatan dan kelemahannya. Menjadi sebab dan menjadi akibat sejatinya adalah dengan kedahuluan dan kebelakangan. Akibat sejatinya adalah kehadiran sebab secara menyeluruh. Ditinjau dari sisinya sebagai akibat, dia tampak sebagai akibat. Bila ditinjau secara menyeluruh, barulah tampak sebab dan akibat. Demikian juga sebagai substansi dan aksiden adalah sebagai kekuatan dan kelemahan. Menjadi yang kuat dan yang lemah adalah satu wujud itu juga. Misalnya air yang suhunya enam puluh derjat celcius lalu suhunnya bertambah menjadi tujuhpuluh derjat celcius adalah air itu juga, yang lebih kuat adalah air itu juga dan lebih lemah adalah air itu juga.
Muhammad Nur (2012, p. 71) menegaskan empat syarat terjadinya tasykik atau gradasi wujud: kesatuan adalah aktual, pluralitas adalah aktual, pluralitas kembali kepada kesatuan dan kesatuan mengalir dalam pluralitas.
Toshihiko Isutzu membagi gradasi menjadi dua bagian (Isutzu, 2003, p. 103). Pertama adalah dalam pengertian khusus, yakni analogi untuk realitas eksistensi dan kedua adalah dalam pengertian umum, yakni analogi untuk konsep eksistensi. Untuk jenis pertama, Isutzu menggunakan analogi Adam, Nuh, Musa dan Isa sebagai analogi keduluan dan kebelakangan. Adapun untuk analogi jenis pertama ia menggunakan contong angka. Angka 2 dan 2000 kesamaannya adalah pada angka dan perbedaannya juga pada angka.
Orang-orang yang diilhami dengan penyingkapan wujud sejati dan dianugerahi kecerdasan intelektual yang tinggi akan melihat dua model wujud sekaligus. Pertama adalah kemurnian wujud dan kedua adalah keberagaman wujud dalam ranah konkrit. Wujud pertama disebut sebagai Nafas Maha Kasih karena sifatnya seperti nafas. Dalam kemurniannya nafas adalah sesuatu yang unik dan mengandung potensi segala keberagaman bunyi. Lalu wujud aktual yang beragam seperti aneka bunyi yang menjelma secara aktual yang berasal dari nafas.
Struktur realitas wujud Mulla Sadra diinspirasikan Suhrawardi dari sistem cahaya. Cahaya itu memiliki titik intensitas dan kerdupan. Dari cahaya inten ke tingkat redup semuanya diisi oleh cahaya. Perbedaannya adalah cahaya dan kesamaannya adalah cahaya.
Toshihiko menggolongkan intensitas wujud menjadi tiga model yakni bi syarti la atau bersyarat negatif, la bi syart atau tidak bersyarat dan bi syart syay atau bersyarat karena sesuatu. Penggolongan ini sebenarnya adalah penggolongan untuk mahiyah yakni mujarradah atau murni, muthlaq atau mutlak dan makhluthah atau campuran. (Isutzu, 2003, p. 110) Mahiyah yang pertama adalah mahiyah yang melampaui ma'qulat dan maqulat. Misalnya mahiyah 'hewan' qua 'hewan' kalaupun ditambahkan mahiyah yang lain seperti 'berpikir' maka yang terjadi adalah tetap mahiyah murni yang lain yakni mahiyah 'manusia' yang murni. Kedua adalah mahiyah yang sudah memiliki potensi diberikan mahiyah yang lain seperti 'hewan' ditambah 'berpikir' menjadi mahiyah 'manusia' yang juga mahiyah mutlak yang juga potensial ditambah mahiyah yang lain. Terkhir adalah mahiyah yang telah bersyarat sehingga dianggap telah aktual, seperti mahiyah 'hewan' yang ditambah 'berpikir' menjadi mahiyah 'manusia'.
Konsekuensi dari tingkatan mahiyah diatas saat dikonversi kepada wujud maka menjadilah wujud bi syarti la, yakni wujud mutlak yang tiada apapun sama dengannya. Disebut tidak bersyarat negatif karena apapun yang disyaratkan kepadanya maka itu tidak akan berlaku. Pandangan ini dipegang sebagian sufi untuk menolak ajaran Hikmah Muta'alliyah. Lalu wujud la bi syart yakni wujud yang pada dirinya adalah ketunggalan namun telah memiliki potensi diterapkan pada ragam pluralitas dan wujud bi syrti syay yakni wuju konkrit atau mawjud. Yang terakhir ini bila ditinjau sebagai dirinya, maka dia seolah tampak seperti mahiyah. Tetapi bila ditinjau dari sisi lain, maka dia adalah penampakan dari bayangan wujud mutlak.

Jiwa dan Pengetahuan dalam Filsafat Mulla Sadra


Aristoteles mengatakan jiwa sebagai aktualisasi potensi badan. Bagi Al-Farabi, awalnya jiwa adalah bagian utuh dari badan. Lalu berkembang menjadi sesuatu yang utuh terpisah dari badan, misalnya, ketika manusia mampu menghayalkan gambar-gambar yang immaterial. Ibn Sina juga mengatakan jiwa awalnya adalah satu hal yang inhern dengan jasad. Namun selanjutnya ia menjadi seperti pengemudi bagi jasad. Lalu dia mengatakan hubungan jiwa dengan jasad berlangsung dengan adanya ruhul bukhari.
Semua filosof, untuk setiap objek pembahasannya, konsisten, atau harus konsisten, mengingat inplikasi, atau konsekuensi integral antar tiap pembahasan merek: logika, epistemologi, ontologi, dan lainnya.
Perlu diingat kembali bahwa Mulla Sadra membangun filsafatnya dengan fondasi penting yakni kemendasaran wujud atas mahiyah, gradasi wujud dan gerak substansi serta kesatuan subjek dan objek. Dua bagian terakhir ini menjadi penting dalam pembahasan mengenai jiwa dan sistem pengetahuan dalam pandangan filosof terbesar yakni Mulla Sadra.
Perlu direview bahwa, gerak adalah sistem yang dibangun filosof sebagai bukti keberadaan jiwa. Ibn Sina menolak substansi terlibat hukum gerak karena menurutnya, bila substansi bergerak, berarti terjadi perubahan terhadap suatu entitas. Dan bila esensinya berubah, maka itu bukan gerak, tetapi adalah terjadinya entitas yang lain.
Mulla Sadra tidak sepakat dengan Ibn Sina. Katanya gerak yang terjadi pada aksiden justru adalah karena adanya gerak pada substansi. Jiwa yang merupakan bagian substansi terus mengalami perubahan sehingga hal ini mejadi bagian dari cara Mulla Sadra mejelaskan konsep pengetahuan.
Perlu diingat kembali bahwa Mulla Sadra menerima tiga penggolongan tingkatan mahiyah yakni bi syarti la, la bi syart dan bi syart syay. Bila dihubungkan dengan sistem pengetahuan yang dibangun Mulla Sara, maka tiga kategori ini dapat dilihat sebagai proses-proses pengetahuan. Bahwa pengetahuan adalah adalah wujud yang nyata.
Sebelum Mulla Sadra, semua filosof telah menuai masalah yang tidak usai tentang teori pengetahuan. Apakah pengetahuan itu adalah aksiden-aksiden realitas konkrit yang masuk ke dalam pikiran? Bagaimanakah gambar-gambar itu dapat dibuat oleh pikiran sehingga menjadi sama dengan realitas konkrit objek pengetahuan? Bukankah indera itu terbatas? Apakah konseptualisasi pikiran tidak terbatas? Lantas, bagaimana bisa terbentuk sebuah keyakinan bahwa realitas konkrit itu sama dengan konsep?
Pertanyaan-pertanyaan awam semacam ini saja dapat memunculkan banyak persoalan. Sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa pengetahuan akan suatu konsep malah adalah semakin menjauhkan dari pengetahuan.
Kembali kepada teori Mulla Sdra tentang pengetahuan, Fazlur Rahman (2000, p. 286) mengatakan dalam pandangan Mulla Sadra, pengetahuan itu adalah wujud yang murni. Pengetahuan harus bebas dari materi karena pengetahuan adalah intuisi langsung. Wujud murni menciptakan suatu gambar dalam dirinya yang diakui Mulla Sadra identik dengan bentuk objek pada ranah konkrit. Pikiran menciptakan suatu esensi universal yang diterapkan pada objek konkrit. Pandangan ini tentunya mirip pandangan idea Plato.
Perlu dicatat, maksud dari gambar yang diciptakan pikiran itu adalah suatu modifikasi internal jiwa yang menyatu dengan jiwa itu sendiri. Dan realitas objektif yang dimaksud itu bukanlah sesuatu sebagai lokus terpisah. Sebenarnya, antara zihni dengan khariji itu hanyalah aktualisasi jiwa berdasarkan konsep yang dibentuk oleh sang jiwa yang sejatinya adalah wujud dengan melimitasi dirinya menjadi mahiyah. Jadi, baik itu gagasan, konsep atau esensi maupun realitas objektif adalah gradasi wujud yang melimitasi diri sebagai mahiyah.
Uraian terbaik dari Fazlur Rahman mengenai persoalan pengetahuan dalam pandangan Mulla Sadra adalah sebagai berikut:
''Karena penglihatannya yang kabur terhadap bentuk, pikiran diberi kemampuan untuk membentuk esensi yang kemudian berperan sebagai universal-universal yang dapat diterapkan pada spesies-spesies yang berbeda. Dalam melakukan hal ini, pikiran perlu bertindak tegas terhadap realitas, karena realitas bukan esensi, tetapi spektrum wujud. Esensi adalah sesuatu yang tidak nyata dan negatif sebagai sifat pokok wujud yang pasti mengiringi semua tingkatannya. Meskipun demikian, kerja pikiran dengan semua tingkatan-tingkatan tersebut juga suatu realitas urutannya sendiri, dan benar bahwa dalam pengertian tertentu tingkatan-tingkatan itu ada dalam pikiran.'' (Fazlur Rahman, 2000, p. 288)
Bagi Mulla Sadra, gagasan atau ma'ani, konsep atau mafhum dan esensi atau mahiyat. Adalah bentukan pikiran yang ia lihat sebagai gradasi wujud. Pernyataan ini adalah penegasan untuk pandangan Mulla Sadra tentang kesatuan subjek dengan objek.
Mulla Sadra menegaskan perbedaan antara wujud konkrit dengan wujud konsep. Sehingga dia dapat membuat tiga model dalam mahiyah. Pertama adalah yang memiliki wujud yang konkrit, ini tentunya memiliki mahiyah. Kedua adalah wujud yang memiliki mahiyah tetapi hanya ada dalam pikiran, tidak pada ranah konkrit, misalnya, unicorn, pegasus dan garuda. Ketiga adalah yang tidak memiliki haqiqah atau esensi tetapi mafhum konsepnya dapat dibuat.
Mengenai pengetahuan akan realitas konkrit, terdapat tiga model. Pertama adalah pandangan fisika Aristotelian yang mengatakan objek datang kepada indera lalu disimpan pikiran. Kedua model matematika Platonis yang mengatakan kekuatan itu datang dari indera yang mengambil gambar objek. Ketiga adalah pandangan hudhuri Suhrawardi yang mengatakan objek hadir secara langsung tanpa perantara.
Adapun pandangan Mulla Sadra adalah ''... Penglihatan terjadi dalam penciptaan, dengan kekuatan Tuhan.'' Bentuk menyerupai objek eksternal yang hadir dari jiwa. Bentuk ini terpisah dari objek konkrit. Hubungan bentuk ini dengan jiwa adalah seperti hubungan tindakan dengan pelakunya. (Fazlur Rahman, 2000, h. 299).
Jadi, tegas bahwa Mulla Sadra menolak teori abstraksi sebagaimana dianut banyak filosof sebelum dirinya. Dia menegaskan bahwa imajinasi adalah modifikasi internal jiwa. Segala rasa seperti takut dan cinta, dalam pandangan Mulla Sadra
Pengetahuan akan realitas konkrit adalah wujud pada tingkatan terendah. Lalu berevolusi hingga menjadi pengetahuan dalam akal aktif. Terkait hal ini, Mulla Sadra menerima jasad ikut bangkit bersama jiwa kelak karena baginya, berkembangnya pengetahuan tidak meninggalkan pengetahuan yakni wujud pada tingkatan pertama sebagaimana diyakini Ibn Sina.

Moralitas dalam Filsafat Immanuel Kant

Indera terbatas. Rasio terbatas. Jadi keduanya tidak dapat menghadirkan realitas sebagaimana adanya. Immanuel Kant mengatakan, hanya dengan moralitas pengetahuan sejati diperoleh. 
Moralitas itu a priori, bawah sadar, baik-buruk itu a priori.
Kant menawarkan kasus seseorang akan dibunuh bila tidak mahu mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya, atau dibunuh bila tidak bersedia melakukan fitnah. Dalam kasus ini, Kant mengatakan, moralitas tidak menerima untuk melakukan fitnah. Dalam kasus Kant ini, Mana yang baik dan mana yang buruk itu diketahui. Pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk itu disebut suara hati. Dia tidak berasal dari indera dan tidak diproduksi oleh penalaran. Eksistensinya pasti. Keputusan untuk mengikuti suara hati atau tidak, tergantung pribadi.
Kant membedakan antara moralitas dengan legalitas. Legalitas adalah aktualisasi suatu perbuatan yang belum tentu berasal dari boralitas, namun boleh jadi berasal dari moralitas.
Suatu perbuatan orang lain tidak dapat dikatakan sebagai moralitas. Karena moralitas itu suara hati. Sementara kita didak dapat mengetahui suara hati orang lain. Krena itu, setiap perbuatan orang lain tidak dapat dinilai secara moralitas, tetapi dapat dinilai secara legalitas.
Dalam pandangan Kant, mutualisme simbiosis, ataupun mengharap jasa seseorang itu dimungkinkan, tetapi penjajahan atau perbudakan terhadap seseorang itu tidak dibenarkan.
Sekalipun demikian, moralitas tetap harus dipertanggungjawabkan. Baik itu dalam keputusan mengikuti atau tidak, maupun setah keputusan itu dilaksanakan.
Moralitas, sekalipun tidak dapat tidak datang dari empirik dan rasio, tetapi bila berhadapan dengan individu lain, tetap harus memiliki argumentasi.
Karena itu moralitas berbeda dengan opini atau pendapat.
Moralitas juga mungkin keliru. Karena moralitas itu adalah suara yang diterima dari Tuhan, bukan suara Tuhan itu sendiri.

Mahiyah

Secara etimologis, mahiyah berasal dari dua kata dalam bahasa Arab 'ma' dan 'huwa'. Kata mahiyah dalam bahasa Arab merupakan upaya penerjemahan istilah, yang dipakai filosof Yunani, dari kata 'quid' dan 'est' yang bermaksud menggambarkan sesuatu yang diidentifkasi ada (esse) untuk menunjuk sesuatu yang sederhana (haliyah basithah). Objek yang menjadi acuan konsep yang dibentuk oleh pikiran (mental) disebut 'ekstensi'. Jadi, ada dua tingkatan mahiyah, yakni di mental dan ekstensi. 
Setiap indera melaporkan sesuatu kepada pikiran, maka laporan itu pastilah bukan satu kesederhanaan ekstensi semata, tetapi merupakan proposisi majemuk. Kemajemukan ini berguna karenan nantinya pikiran dapat membentuk kategori-kategori setelah menentukan sebuah poposisi atomik.Tanpa kemajemukan, kategori-kategori mustahil dibentuk. Dengan demikian, mahiyah pastilah harus majemuk. 
Dalam tangkapan atas sesuatu, maka mahiyah dari eksten menjadi subjek dan eksistensi menjadi predikat. Mahiyah tidak bisa disebut ada dan tidak bisa disebut tiada. Untuk menjadi ada, dia perlu diberi ada oleh yang memiliki ada yang mutlak. 
Mahiyah sebagai mahiyah dapat ditinjau dalam tiga hal. 1. Mahiyah makhluthah, yakni ahiyah yang bercampur, yakni mahiyah yang disertai sifat-safat spesifik yakni aksiden-aksiden, atau partikular-partikular. 2. Mahiyah mujarrad, yakni mahiyah abstrak, yakni terlepas dari sifa-sifat. Tetapi masih memungkinkan untuk diterapkan. 3. Mahiyah muthlaq, yakni mahiyah yang sama sekali telah lepas dari bayang-bayang kemungkinan penerapan. 
Mahiyah mutlak dibagi menjadi mahiyah mutlak yang dibagi dan mahiya mutlak yang menjadi bagian. Mahiyah mutlak yang dibagi lebih murni dari mahiyah mutlak yang mejadi bagian. Uniknya, mahiyah mutlak yang menjadi bagian itu adalah mahiyah mujarrad sementara mahiyah mutlak yang menjadi bagian justru adalah mahiyah muthlaq. 
Mahiyah adalah pembedaan, karena itu mahiyah niscaya majemuk. Segala yang mumkin itu bermahiyah. Yang wajib tidak bermahiyah. Tuhan tidak bermahiyah, sebab dia Wajib. Pertanyaan 'Apa itu Tuhan' menjadi keliru karena Dia bukan keapaan (mahiyah).
Ketiga hal tersebut adalah konsekuensi logis dari mahiyah. Sementara Tuhan juga disebut memiliki mahiyah. Tetapi mahiyahnya Tuhan adalah Realitas-Nya (Inniyatuhu).
Karena yang eksis adalah wujud, maka sebenarnya mahiyah adalah konsep semata yang dibentuk pikiran. Karena bentukan pikiran, sebenarnya tidak memiliki realitas sama sekali. Mahiyah hanya dimunculkan oleh konsep supaya wujud dapat dikenal, sekalipun hanya melalui limitasi yang sebenarnya bukan wujud. Mirip dengan mengenal sesuatu hanya melalui bayangannya semata yang sebenarnya adalah bergantung mutlak kepada pemberi bayangan.
Setiap mahiyah memiliki substansi dan aksiden. Setiap mahiyah hanya bisa dijelaskan aksidennya saja. Substansinya tidak bisa dijelaskan. Semua bagian substansi, yakni materi primer, bentuk, jasad, juga jiwa, juga akal, adalah hal yang tidak dapat dijelaskan kecuali melalui negasi. Makanya substansi didefinisikan dengan: bila dianya ada, maka keberadaannya bukan pada yang selainnya. 
Segala hal tentang mahiyah hanya aksiden-aksidennya saja yang mampu diinderainya. Namun melalui aksiden inilah, substansi mampu disusun oleh pikiran. Aksiden-aksiden itu adalah sifat-sifat. Maka sifat-sifat memiliki kesesuatuan. Kesesuatuannya inilah yang disebut dengan substansi. Sifat-sifat hanya muncul bila ada mahiyah yang lain. Cantik bisa muncul bila ada yang jelek. Seperti pernyataan di atas, mahiyah pastilah majemuk. 
***
Segala sesuatu tidak ada. Kalaupun ada tidak dapat diketahui. Kalaupun dapat diketahui, tidak dapat dikomunikasikan (Georgias)
***
Hebatnya Mulla Sadra menyelesaikan filsafat dengan tidak meninggalkan skeptisme. Sebaliknya dia mengatakan realitas eksternal itu ril. Misalnya, tangan akan terbakar bila dikenakan api, ini membuktikan realitas itu ril. Sekalipun ketika saya merasakan sakit dan dapat mengatakan saya kesakitan adalah wujud yang telah diprosuksi menjadi mahiyah. Mulla Sadra juga bukan termasuk relativistik. Karena relatif itu hanya berlaku bagi subjek. Sementara pandangan Mulla Sadra jelas, bahwa pada realitas itu adalah wujud yang nyata, tidak bergantung pada individu-individu.
Dalam pembahasan hamiyah, perlu diperjelas beberapa hal seperti (1) kulli thabi'i, yakni universal alam, (1) Awaridh Sakhish, yakni mahiyah yang bercapur dengan partikular, (3) haliyah, yakni ke-ini-an (4) huwiyah, yakni suatu identitas sebuah wujud spesifik, dan (5) Ashalah dan 'tibar. 
Umumnya para filosof Muslim menolak keberasaan universal alami. Mereka meyakini bahwa, misalnya, 'manusia' sebagai universalia memiliki eksistensi nyata. Karena mereka meyakini universalia alami hanyalah produksi pikiran. 
Para filosof umumnya sepakat bahwa identitas sesuatu itu dibuktikan dengan aksiden-aksidennya. Namun Al-Farabi pernah menyatakan bahwa aksiden-aksiden itu tidak dapat menunjuk atau menerangkan identitas sesuatu. Misalnya, seribu spidol yang diproduksi dengan segala kagogori yang sama. Tentunya ini tidak dapat menentukan identitas salah-satu dari seribu spidol. Kerenya, Al-Farabi mengatakan identitas sesuatu bukan aksiden-aksidennya tetapi identitasnya adalah wujudnya. 
Sesuatu yang dapat disebut 'ke-ini-an'nya adalah sesuatu yang telah ditemukan identitasnya. Ini merupakan syarat untuk mengidentifikasi apakah mahiyah itu aslhil ataukah ia i'tibar saja.

Kamis, 08 Oktober 2015

TEOSENTRISME KRISTEN

1.       St. Augustine

Sebelum Plotinus, telah berkembang ajaran Kristen yang dalam golongan tertentu turut memperkaya khazanah agama itu dengan filsafat Yunani.  Periode ini kita namai Teosentrisme yang terbagi menjadi aliran Patristik dan Skolastik. Kedua aliran ini memang menyerap ajaran filsafat dengan sanat mendalam tetapi hanya menggunakannya sebagai penguat doktin agama. Karena alas an ini kita sebut dengan Teosentrisme yakni kajian yang berfokus pada doktrin ketuhanan.

 Patristik berarti ajaran yang menyerahkan otoritas keagamaan dan intelektual kepada pemimpin gereja. Mereka dipatuhi seperti patuhnya seorang anak kepada bapaknya. Terdapat beberapa tokoh besar dalam ajaran ini seperti Justinus Martir, Klemens (150-215), Tertilianus (160-222) dan yang terpenting adalah St. Augustine.

St. Augustine (354-430) punya pemikiran unik. Katanya manusia tidak memiliki keraguan. Setidaknya, ketika kita ragu, maka kita juga sedang berada dalam sebuah keyakinan yaitu kita yakin kita sedang ragu. Maka keraguan itu sendiri adalah keyakinan. Uniknya lagi, ketika kita ragu maka kita berfikir, berfikir itulah yang semakin mengkuhkan bahwa kita ada.Kesimpulannya, kita ragu maka kita ada.
    Menurut Augustine, segala sesuatu berasal dari Cahaya Baik, karena itu Yang Baik mustahil menghasilkan yang buruk, 'evil’. Keburukan, atau apapun yang berkonotasi negatif hanyalah penyematan oleh kita sebab kerja akal untuk mengenal sesuatu adalah melalui pembedaan.Sesuatu yang dianggap negatif bukanlah kontra positif atau Cahaya, melainkan sesuatu yang jauh dari Cahaya.Gelap tidak ada, yang ada hanyalah kekurangan cahaya yang sangat.
      Segala sesuatu berasal dari Cinta. Manusia harus melakukan sesuatu semata karena cinta sebab energi dan motovasi gerak tindakan kita hanyalah dari Cinta. Karena manusia terbatas maka dia mencintai, jadi bila ada manusia tidak mencintai berarti dia orang yang riya dan sombong sebab dia mangira dirinya  mampu melakukan semuanya sendiri tanpa membutuhkan peran dari yang lain darinya.
      Cinta manusia pada manusia adalah untuk mengapresiasi yang dicintai (building other person). Manusia mencintai yang lain karena dirinya tidak sempurna. Karena itu cinta manusia penuh motif, maksudnya mereka mencintai karena ingin melengkapi dirinya.
      Cinta Tuhan adalah satu-satunya cinta sebab cintaNya tidak bermotif. Dia adalah Maha Sempurna.Dia mencintai bukan untuk melengkapi diriNya.Bahkan manusia sendiri mencintai Tuhan karena dirinya yang kesepian, kerinduan dan terasing. Manusia menurut Rumi adalah bagi sepotong seruling yang terpisah dari hutan bambu.
     ''Apa beda suka dengan cinta? ''Ketika pertanyaan ini saya ajukan banyak jawaban yang muncul. Mrs. Gerrardette Phillips mengatakan suka itu dapat berhenti bila keinginan sudah terpenuhi. Misalnya orang yang sedang lapar menyukai sepotong roti, apabila dia sudah kenyang maka 'suka' itu hilang.Cinta adalah sesuatu yang tak memiliki alasan. Cinta itu muncul seketikan dan takkan hilang. Cinta tidak membutuhkan pengenalan mendalam atau ekspektasi jauh.Malah cinta bisa semakin absurd semakin kita mengenal.Oleh sebab itu untuk percaya kepada Tuhan kita hanya butuh iman, buka pengenalan-pengenalan melalui rasio.
    Augustine menyatakan Ruh itu satu dan semua persona menyandang satu Ruh.Oleh sebab itu dia mengakui semua manusia yang lahir telah menyandang dosa warisan dari semenjak kejatuhan Adam.Dalam pandangan Kristen agama adalah hina. Pikiran seperti ini tidak lepas dari kondisi masyarakat Yunani dan sekitarnya yang hidup tertindas lalu menganggap dunia ini terkutuk karena putus asa dan hanya memfokuskan hayalan pada dunia setelah kematian.
   Ibn Rusyd menolak pandangan kesatuan ruh. Dia mengatakan masing-masing manusia punya ruh sendiri-sendiri. Makanya dia menolak adanya dosa warisan. Menurutnya semua manusia lahir dalam keadaan suci, Al-Qur'an juga mensiratkan berita bahwa manusia kelak diakhirat mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing. Argumen Ibn Rusyd mengesankan pandangan kesatuan ruh adalah tidak mungkin.
        Bila Aquinas sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, maka Augustin sangat dipengaruhi oleh Plotinus. Antara Plotinus dengan Aristoteles tidak banyak kesamaan. Jadi Filsafat Aquinas dengan Augustine berbeda.
                 

2.       St. Thomas Aquinas

Aquinas menjadi filosof terbesar zaman Skolastik Kristen. Zaman Skolastik dibagi tiga yakni Skolastik awal muncul setelah kemunduran Romawi yang ikut menenggelamkan aliran Patristik. Ketika Romawi bangkit kembali, ajaran Kristen masih tetap kuat, tetapi pola pengajarannya berubah menjadi sistem sekolahan sehingga disebut Skolastik.
                Tokoh terbesar zaman Skolastik awal yakni PeterAbaelardus (1079-1180). Selanjutnya muncul zaman uncak Skolastik dengan tokoh terbesar yakni Albert Magnus (1203-1280) dan Thomas Aquinas (1225-1274). Setelah mereka adalah zaman akhir Skolastik dengan tokoh terbesar yakni William Ockham (1285-1349) dan Nicolas Cusasus (1404-1464).
                Ajaran Skolastik Kristen memiliki ciri pemanfaatan filsafat, terutama ajarana logikanya, untuk dimafaatkan sebagai argumentasi agama terutama eksistensi Tuhan. Karena itulah kita memasukkan ajaran Skolastik Kristen sebagai aliran Teosentris. Karena pengandalan atas rasio, filosof seperti Aristoteles, Ibn Sina dan Ibn Rusyd menjadi tokoh penting yang mempengaruhi ajaran Skolastik Kristen. 
St. Thomas Aquinas adalah salahsatu filsuf penting dan terbesar. Namanya bersanding dengan para filosof besar seperti Plato, Aristoteles, Descartes dan Immanuel Kant. Dia adalah filsuf besar pertama setelah gagasan-gagasan besar dari Yunani berakhir pada Plotinus. Karena itu mempelajari ajaran Aquinas, hampir sama dengan mempelajari seluruh ajaran Skolastik Kristen.
     Pada masanya di Paris, Aquinas sempat dihadapkan pada konflik karena dicurigai menganut paham Averrost (Ibn Rusyd). Averroisme memang dianut banyak kalangan Universitas di Paris kala itu. Meski punya komunitas besar, Averroist tetap dianggap terlarang. Kemungkinan karena Averrost banyak dipengaruhi pemikiran Arab. Dan gagasan ini ternyata benar memberi efek buruk bagi gereja dengan lahirnya sekularisme.
        Aquinas menguasai dengan baik pemikiran Aristoteles. Dia mendapatkan terjemahan karya Aristoteles dari seorang sahabatnya dan memberi banyak komentar. Averrost juga sangat banyak dipengaruhi Aristoteles. Mungkin karena itulah  Aquinas dicurigai sebagai pengikut Averrost.
         Selanjutnya Aquinas mengatakan pemikiran Aristoteles lebih baik dijadikan dasar filsafat Kristen daripada pemikiran Plato. Dia melanjutkan, kaum Muslim dan Averroism Kristen telah salah memahami Aristoteles. Ini memungkinkan dua hal. Pertama Averrost sendiri yang salah memahami pemikiran Aristoteles dan kedua, boleh jadi memahami Aristoteles melalui Averrost tidak memadai. Namun demikian Russel (2004: 600) meluruskan bahwa pemikiran logika dan Filsafat Aristoteles belum final. 'Belum final' maksud Russel  ini saya kira lebih tepatnya disebut ''tidak final lagi''. Artinya pemikiran Aristoteles itu sudah baik untuk sebelum zaman pencerahan. Namun untuk saat ini tidak memadai lagi seiring berubahnya cara pandang manusia terhadap alam dan diri mereka sendiri disertai penemuan-penemuan mutakhir.
                Demikianlah sebuah peradaban hidup dalam keyakinan mendalam setiap persona secara global. Kapan peradaban itu bergerak? Ketika ada yang datang mengungkit keyakinan yang telah mapan itu.Pergerakan peradaban itu adalah perubahan kebudayaan. Peradaban itu Dilihat dari luarnya memang statis tapi dari dalam dia terus bergerak.
         Trinitas Kristen yang diperkenalkan oleh St. Paul (Hart: 2004) bertahan dengan baik. Selanjutnya  Aquinas mengungkit konsep itu dan memberikan nuansa baru sehingga menjadikannya lebih rasional. Sekarang konsep Trinitas diragukan banyak orang sejak masa Galilei. Karena itu, kita membutuhkan seorang pemikir yang dapat merasionalkan kembali konsep itu, menjadikannya relevan sesuai dengan penemuan ilmiah mutakhir. Tidak hanya Kristen, semua agama saat ini dibuat kelabakan oleh sains yang bergerak cepat. Saya kira semua aliran agama tidak perlu panik merespon perubahan ini.Kita harus sadar bahwa bahasa agama adalah bahasa simbolik, abstrak dan bahasa sains sangat konkrit. Kalau Kristen mengatakan Tuhan adalah ''tiga jelmaan'', maka Al-Hallaj mengatakan semua adalah Tuhan, semua adalah tidak ada, yang ada hanya Tuhan. Semua dialektika itu adalah dialektika agama, semuanya simbolis, perlambangan.
    Saya menemukan kemiripan peran antara  Aquinas dalam dunia Kristen dengan Iqbal dalam dunia Islam. Iqbal, sama dengan  Aquinas mencoba merekonstruksi paham teologis bagi agama mereka masing-masing.  Aquinas mengatakan eksistensi Tuhan tidak perlu dibuktikan melalui realitas alam. Baginya manusia telah mengenal esensi Tuhan dan setidaknya itulah yang penting.
     Berbarengan dengan itu, Iqbal juga mengkritik argumen teologis dalam Islam dengan menerangkan bahwa kesadaran manusia hanya membentuk realitas dalam dirinya sendiri, bukan apa sebenarnya (Iqbal, 1978). Karena itu alam tidak ideal dijadikan sandaran pengenalan Tuhan.
     Menurut  Aquinas, para filosof dapat menemukan Tuhan dengan kedalaman pemikiran mereka. Namun karena tidak semua orang berkesempatan menjadi filosof, maka orang awam cukup mengenal Tuhan melalui infornasi para nabi. Argumen ini sejalan dengan pendapat Ar-Razi yang kontrofersial dengan mengatakan sebenarnya Nabi tidak dibutuhkan kalau semua orang menjadi filsuf. Namun karena tidak semua orang bisa menjadi filsuf, maka Nabi dibutuhkan untuk menyampaikan berita yang tidak dipahami orang awam.
     Menurut  Aquinas, kepercayaan akan Tuhan hanya bisa dibuktikan melalui iman. Sebab segala yang tidak terjangkau indera tidak dapat dibuktukan. Russel menolak pandangan tersebut, menurutnya Tuhan yang tidak tertangkap indera bisa dibuktikan melalui makhlukNya. Tapi  Aquinas tetap saja mengemukakan argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan melalui teori kausalitas yang oleh Iqbal telah dianggap keliru.  
      Perdebatan antara al-Ghazali dengan Averrost mengenai apakah Tuhan mengetahui hal-hal yang partikular adalah pembahasan yang sengit di Eropa kala itu. Setidaknya, masyarakat Barat yang fnatik pada Averrost turut mempercayai bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular. Ini membuat  Aquinas angkat bicara. Dalam bukunya Summa Contra Gentiles,  Aquinas menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha mengetahui dan pengetahuanNya meliputi segala sesuatu.
                Mengenai pembicaraan apakah Tuhan tidak perlu mengetahuihal-hal partikular--sebab itu Dia tidak mengetahui,  Aquinas pendapat lain. Aquinas mengatakan bahwa cara mengetahui Tuhan berbeda dengan manusia. Manusia melakukan distingsi (pembedaan-pembedaan) untuk mengetahui, sementara Tuhan mengetahui secara menyeluruh.
       Jadi yang disebut partikular itu tidak ada bagi Tuhan. Hal-hal partikular adalah pengetahuan manusia yang berasal dari kesadarannya, sementara kesadaran manusia itu sendiri dari Tuhan. Paham  Aquinas sangat menarik bagi saya, apalagi ketika dia mengatakan segala kehendak manusia adalah berasal dari kehendak Tuhan. Paham teologis ini sejalan dengan yang saya pikirkan dan saya percayai sampai hari ini.
       Manusia sebenarnya tidak bisa menentukan sendiri pilihannya. Semua keputusan dan tindakan manusia adalah dari Allah. Ini sesuai pula dengan informasi Al-Qur'an bahwa Allah merahmati atau melaknat sesiapa yang Dia kehendaki. 
     Dalam jilid kedua buku yang sama,  Aquinas membahas tentang Ruh. Averrost mengatakan Ruh itu diciptakan bagi masing-masing manusia, jadi untuk setiap manusia yang lahir dia mendapatkan ruhnya sendiri. Pandangan ini bertentangan dengan paham St. Augustine yang menyatakan setiap manusia lahir menyandang dosa keturunan. Alasannya karena Ruh itu adalah Satu.
     Saya lebih sepakat dengan Augustine menganai hakikat Ruh. Saya melihat setiap benda dan hewan memiliki ruh. Ruh hadir pada semua keberadaan dengan kapasitasnya masing-masing. Pada hewan dan tumbuhan ruhnya tidaklah kekal karena fakultas ruhnya tidak dalam sehingga kehadiran ruh tidak mendalam. Sementara fakultas manusia sangat memadai bagi eksistensi Ruh yang lebih mendalam sehingga dianya terus hidup (kekal).
        Aquinas tidak sepakat dengan Augustine, dia lebih cenderung bahwa roh manusia itu bagi diri masing-masing. Perbedaan paham ini turut mempengaruhi perbedaan keduanya dalam memahami kehendak manusia.  Aquinas lebih sepakat manusia punya kehendak bebas dan Tuhan sebenarnya tidak mengetahui hal-hal partikular.
     Saya melihat antara Augustine dengan  Aquinas, sebagai filsuf, Augustine jauh lebih baik, utamanya menganai hakikat Ruh. Tapi saya kira kita , Augustine telah salah paham mengenai ''dosa keturunan''. Dalam pemahaman yang lebih filosofis, tidak ada yang disebut 'dosa' ataupun hal-hal lain yang berkonotasi buruk. Sebab, segala wujud yang menyandang aneka sifat adalah berasal dari Yang Maha Baik. Dari yang baik mustahil termanifestasi yang buruk. Maka, sesuatu yang disebut 'dosa' itu maksudnya adalah suatu manifestasi ''terjauh'' sehingga jauh dari Sumber Kebaikan.
     Tapi benarkah ruh manusia itu jauh dari Baik? Literatur Islam menyatakan bahkan ruh manusia bahkan bisa melampaui malaikat dan bisa lebih rendah daripada binatang ternak. Di sisi lain, teolog Islam mengakui manusia menangis ketika dilahirkan ke dunia karena telah dipindahkan dari tempat mulia ke tempat yang hina. Namun, walau bagaimanapun alam ini adalah satu-satunya wadah beribadah (atau bermaksiat) sebagai penentu tempat kembali. Jadi kalau memang perolehan ''tempat hina'' ini disebut sebagai 'dosa' yang bermakna 'kekurang-baikan'', maka benarlah Augustine.
     Buku ketiga membicarakan tentang etika. Di sana di bahas tentang etika perkawinan, hubungan seks, kehendak manusia dan sebagainya. Menurut Aquinas, ikatan pernikahan tidak boleh diputuskan karena anak membutuhkan ayah walau bagaimanapun. Poliandri membuat sulit mengetahui ayah dari anak. Poligami dikatakan tidak adil bagi perempuan.Dia mengatakan setidaknya harus diterapkannya poliandri yang ketat.
     Buku keempatnya banyak membicarakan persoalan teologi. Aquinas sepakat bahwa Kristus dari Roh Kudus namun menolak dia sebagai anak Tuhan.
          Dalam bagian ini ikut pula dibahas mengenai kebangkitan manusia.Tema ini juga menjadi bagian penting dalam perdebaran Al-Ghazali dengan Averrost. Al-Ghazali mengatakan pada saat kebangkitan nanti di akhirat, yang dibangkitkan tetap jasad ini, sementara Averrost mengatakan bukanlah jasad ini yang dibangkitkan sebab alam akhirat bukan alam partikel sebagaimana di dunia sekarang.
     Aquinas mengatakan  seorang kanibal dan korbannya akan bangkit dengan tubuh masing-masing secara utuh. Korban tidak bangkit dengan bagian tubuh yang tidak lengkap dan pelaku tidak bangkit dengan anggota tubuh yang berlebihan. Dengan ini terlihatlah pandangan Aquinas lebih dekat dengan Al-Ghazali.
     Garis besar pemikiran Aquinas sama seperti Augustine yaitu menemukan korelasi pemikiran Aristoteles dengan ajaran Kristen. ''Penemuan argumen untuk sebuah kesimpulan yang dikemukakan sebelumnya bukanlah filsafat'' kata Bertenand Russel.
     Sebab itulah saya curiga mungkin tidak ada yang namanya ''Filsafat Islam''. Bahkan saya menduga tidak akan ada yang namanya 'filsafat Islam'. Sampai kapan? Sampai kaum muslim masih ada atau setidaknya sampai orang Islam masih percaya dengan kebenaran Al-Qur'an. Setidaknya, opini ini bertahan hingga saya belajar filsafat Islam secara mendalam.
                Filosof Barat setelah Yesus yang kita bicarakan ada tiga orang yaitu Plotinus, St. Augustine dan Aquinas. Di mata saya diantara mereka bertiga hanya ada nama Plotinus yang layak disebut sebagai seorang sebagai filsuf sejati. Dia adalah bagian dari  para pencari kebijaksanaan, sama seperti Plato, Descartes, Kant dan Nietzsche.
                Setelah  aliran Skolastik, di Barat terbitlah ajaran filsafat Modern yang dimulai oleh Machiavelli di Italia dan ditutu oleh Nietzsche.



ANTROPOSENTRISME YUNANI



1.      Sinisme dan Skeptisme
            Hellenisme adalah sebuah era kebudayaan Yunani pasca Aristotetes. Para peneliti filsafat melimitasi periode ini hingga Plotinus. Sebagian lagi melimitasinya hanya pada masa aliran Sketisme, Epicurean dan Stois.  Kita menamainya Antroposentrisme karena ajaran ini berfokus pada penyelamatan manusia yang dimulai dari masa Sinisme hingga Neoplatonis.
         Mazhab filsafat Yunani, Sinisme adalah mazhab yang awalnya dianggap paling kontrofersial namun secara diam-diam pemuda Yunani perlahan mengikuti.   Nama mazhab ini diambil dari kata 'sinis' (cynic) yang berarti anjing. Diambil dari nama itu karena pendirinya sangat anti kemapaman dan memilih hidup fakir, berpakaian lusuh dan mengemis seperti anjing. Jalah hidup itu dipilih bukan karena keterpaksaan melainkan pilihan. Mazhab ini sangat bertolak belakang dengan makna yang dipahami belakangan ini. Mazhab ini memiliki mentalitas dan rasa optimisme tinggi dalam mencapai tujuannya. Mereka menyatakan benda-benda duniawi sama sekali tidak ada gunanya. Mereka mengklaim hidup yang paling menyenangkan adalah tidak memiliki apapun. Prinsip ini diserap dari pemikiran Plato yang menyatakan jiwa itu abadi sementara badan dan fisik itu fana. Russel (2004:316-317) mencatat Aristoteles adalah filsuf terakhir yang hidup dengan riang. Pemikir sesudahnya hidup dengan mengutuk, mengeluh dan resah.
     Ajaran Sinisme membalik pandangan yang menganggap pengemis sebagai orang yang hina dan pemberi adalah yang mulia. Aliran ini mengambil semangat yang menyatakan menerima juga sebagai suatu sikap heroik tanpa sedikitpun menjatuhkan nilai pemberinya. Bagi mereka pengemis dan pemberi dalam posisi sama ditinjau dari segi manapun.
    Mazhab lain yang mencoba melawan kemapanan atau pandangan ideal umum adalah Skeptisme. Ajaran ini awalnya dikemukakan oleh Pyrrho (360 SM), seorang pemikir jenius yang tidak meninggalkan sebarang tulisanpun.
    Begitu banyak pemikiran yang datang silih berganti. Semua mengakui dirinya yang terbaik. Semuanya akan terkesan baik. Karena itu perlu sikap kritis denga tidak sembarang menerima setiap perintah, pemikiran atau gagasan: apapun alasannya. Mazhab ini menganggap semua orang punya kualitas yang sama.
       Di tengan masyarakat yang bingung dan ketakutan, ajaran ini mencoba mengatakan pada masyarakat bahwa masa lalu telah berlalu dan takkan kembali dan masa depan sama-sekali tidak ada jaminan akan kedatangannya,  jadi cemas takut dan ragu sama sekali tidak ada gunanya. Yang harus kita lakukan adalah menikmati masa kini dengan seoptimal mungkin.  Atas ajaran inilah Skeptisme beroleh banyak perhatian dari masyarakat.
      Ajaran utama Skeptisme bertujuan agar masyarakat tidak sembarang terima segala informasi yang datang. Meragui segala informasi adalah positif supaya pendalaman pengetahuan terhadapnya dapat terus dilaksanakan. Dengan itu, segala kebobrokan atau kerancuan suatu informasi dapat ditemui.
      Kaum Skeptis mengatakan bila sesuatu menyenangkan maka manusia ingin merasakannya dan khawatir bila itu berakhir.   Tapi bila sesuatu itu menyedihkan maka manusia ingin segera keadaannya berakhir.
    Phyroho adalah nama sekolah tempat mendidik kaum Skeptisme. Di sana diajarkan bahwa kita bukanlah kebenaran,  jadi kebenaran itu tidak akan didapatkan. Ajaran ini memiliki dogma sendiri yaitu: tidak mempercayai apapun selain meragukannya. Oleh sebab itu manusia harus terus-menerus mencari kebenaran tanpa henti.
      Untuk membentuk suatu pandangan kita harus punya pegangan tentang pengetahuan umum yang mendasar. Misalnya madu itu manis, bila tidak manis maka madu itu perlu dipertanyakan. Saya kira umat beragama tidak perlu mengikuti ajaran Skeptisme bila meraka terus-menerus taklid pada agamanya. Melalui ajaran Skeptisme, kita dapat menyelamatkan diri dari politik pencitraan yang dimainkan penguasa. Penguasa yang suka menipu rakyat dan membuat mereka nyaman dengan pembodohan atas mereka dapat dilawan dengan upaya menyadarkan masyarakat atas propaganda rapi pemerintah.
            Timon, , murid Pyrho, mengkritik adanya kebenaran. Alasannya, segala argumen dalam filsafat Yunani menggunakan logika deduktif. Kerena itu wacana umumnya haruslah pasti benar.Untuk membuktikan dianya benar perlu perbandingan, karena perbandingan mustahil dalam argumen umum deduktif, maka semua terminasi sangat mungkin semuanya keliru. Setidaknya, tidak ada jaminan sama sekali benar. Pernyataan ''madu itu manis'' tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Setiap pernyataan hanyalah ungkapan dari yang terjadi, yang terjadi hanyalah fenomena.Setiap fenomena bisa jadi benar bisa jadi salah. Skeptisme akan realitas sejalan dengan ungkapan Iqbal bahwa fenomena realitas tidak dapat kita pahami yang sebenarnya, yang kita pahami hanyalah persepsi akal kita saja. Lebih jauh lagi, Harun Yahya mampu membuktikan alasan ini karena realitas hanyalah bentukan pikiran semata.
       Kesamaan garis pemikiran dan pemenuhan manusia dari zaman kuno hingga modern mengingatkan kita pada pernyataan Hegel bahwa kesamaan kesamaan itu bisa terjadi karena ada sebuah Pikiran Absolut yang menggradasikan diri pada pikiran-pikiran yang sering berfikir mendalam.

 

2.      Epicurus dan Kaum Stois

Ketika melahirkan banyak filsuf, Yunani sedang berada dalam sistem demokrasi. Praktik demokrasi yang memberikan kebebasan besar bagi setiap individu memungkan setiap individu mengutarakan gagasan-gagasannya secara lebih bebas dan terbuka. Kebebasan-kebebasa-kebebasan itulah yang membuat pemikiran-pemikiran orang Yunani semakin berkembang.
   Kebebasan juga telah membuat anak-anak muda semakin termotifasi dan punya semangat tinggi untuk terus belajar. Epikurus adalah salahsatunya. Dia berangkat ke Athena dari kampung halamannya saat berusia 18 tahun untuk mencari pengalaman yang lebih luas. Karir keilmuannya dimulai dari menjadi prajurit militer.
    Sekembali dari Turki, Epikurus mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama The Taman. The Taman adalah tempat bagi anak muda belajar dan berdiskusi tentang filsafat.
     Epikurus adalalah orang pertama yang menolak mitos. Dia dapat dikatakan tokoh kunci sistem ilmiah. Epikurus menolak gagasan-gagasan kecuali yang telah diuji melalui pengalaman serta telah menempuh analisa deduksi logis.
     Epikurus mempunyai pemikiran cemerlang yang melampaui masanya. Pokok pemikirannya adalah manusia dalam hidupnya mencari kebahagiaan dan menghindari ketakutan. Gagasan ini sangat diterima masyarakatnya ketika itu sebab masyarakat Yunani ketika itu mengalami traumatik akibat perang Pellopenesia.
     Masyarakat Yunani kala itu membutuhkat filsafat praktis yang bisa langsung dapat mereka rasakan manfaatnya. Di sana Epicurus mengemukakan gagasan bahwa kesenangan jasmani terletak pada kesehatan dan kesenangan rohani terletak pada jiwa. Menurutnya, filsafat adalah obat bagi jiwa.Jadi dengan itu masyarakat dapat mudah memahami dan menerima pemikirannya. Namun sayang, gagasan-gagasan Epicurus sering disalahgunakan orang untuk kepentingan pribadi.
     Bagi masyarakat dia menawarkan empat jenis kebahagiaan: (1) kesenangan sementara; (2) kesenangan jangka panjang; (3) painful dan (4) ketenangan bagi masyarakat. Karena itu menurutnya, kalaupun ada orang yang menempuh kesusahan dengan suka rela maka itu adalah caranya mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar.
   Epikurus membagi tiga jenis kesenangan yang diinginkan manusia. Pertama adalah natural and necessary, yaitu fakultas dan penunjang kenikmatannya dapat dilihat, contohnya perut dan makanan. Kedua yaitu natural but not necessary yakni fukultas  kenikmatannya tidak dapat dilihat sementara sarana penunjangnya dapat. Ketiga adalah not natural and not necessary yaitu fakultas dan sarana penunjangnya sama-sama tidak dapat dilihat misalnya popularitas dan pangkat.
       Epicurus menerangkan, hal-hal yang menghilangkan kesenangan manusia antara lain ketakutan akan Tuhan dan kematian. Jadi agar manusia dapat kembali senang, manusia jangan takut pada Tuhan dan kematian. Dia menjelaskan, karena rasa tidak ada lagi setelah kematian, maka manusia tidak perlu takut mati sebab kesusahan, kesedihan dan rasa sakit tidak akan ada lagi.
    Ada sebuah pertanyaan yang diajukan: apakah Epicurus adalah seorang atheis. Jawaban yang muncul beragam. Ada yang terlebih dahulu mengajukan kesepakatan pendefinisian terhadap kata 'ateis'.Selanjutnya bila semua sepakat ateis itu artinya orang yang tidak percaya pada Tuhan.Terakhir defenisi 'Tuhan' itu sendiri yang perlu disepakati.
       Saya berpendapat, dari segi pemikirannya Epicurus itu ateis atau setidaknya gagasannya mengarahkan ke sana. Namun saya tidak sepakat dia sebagai eteis dari segi personanya. Pendapat yang sama juga saya alamatkan kepada Kant dan banyak filsof lainnya. Sebab, dalam cara pandangan filsafat, Tuhan itu ada atau tidak bukan masalah. Kalaupun ada penemuan para filsuf tentang hal-hal yang oleh kaum agamais mengidentikkan atau menyamakannya dengan 'Tuhan', dengan nama-nama seperti: 'Prima Cuasa', 'Wujud Absolut' dan sebagainya tidaklah sama atau bahkan tidak punya kaitan sama sekali. Filsafat punya jalan lain, kalau diujung jalan bertemu mau bilang apa.
        Epicurus adalah orang yang sangat berpengaruh dalam lahirnya mazhab Stois atau Stoicism. Mazhab ini diberinama 'Stois' karena anggotanya suka belajar di serambi rumah yang lebar, terbuka diantara tiang-tiang penyangga atap.Rumah-rumah orang Yunani banyak yang besar-besar. Lesehan di antara tiang-tiang penyangga atap yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu disebut 'Stoa'. Epicurus suka mengajar di tempat seperti itu.
   Pemikiran Stois banyak digagasi pemikiran Epicurus. Stois yang didirikan oleh Zeno ( 334 SM) menilai manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sementara alam menurut mereka adalah  berasal dari benih atau mereka sebut 'logos spermaticos'.
    Menurut Stois, kewajiban manusia adalah melakukan segala sesuatu yang rasional dan meninggalkan segalahal yang irrasional.  Segala yang rasional adalah baik, segala yang irrasional adalah yang buruk.
    Manusia memerlukan filsafat supaya memiliki wisdom.Wisdom itu gunanya supaya manusia dapat mengendalikan keinginannya supaya tidak keluar dari jalur yang rasional.Stois juga mengadopsi pemikiran Epicurus mengenai sebab kegelisahan manusia adalah ketakutan.Ketakutan manusia adalah persepsi yang timbul dari sensasi manusia, bukan dari karena peristiwa tertentu. Kerena itu, menurut mereka, yang ditakuti manusia sebenarnya hanya satu yaitu ketakutan itu sendiri.
      Tidak menerima apa yang telah dan resah pada apa yang akan terjadi adalah penyebab keresahan manusia, jadi supaya manusia bahagia, mereka harus menerima segala yang telah terjadi dan tidak khawatir atas apa yang akan terjadi.
    Dalam pandangan Stois, materi adalah pusat dari segala realitas.Materi itu dinamis, tidak statis seperti keyakinan sebelumnya.Inti materi atau atom selalu berubah sebagaimana fisika modern telah membuktikannya
    Ideas, kata-kata, pikiran, sensasi, pemaknaan dan perasaan adalah adalah jalan dan sarana memperoleh pengetahuan menurut mazhab yang hidup pada 334-262 SM ini.    
       Ajaran Stois merupakan ajaran yang bertahan lumayan lama di Yunani. Pasca ajaran ini, hamir tidak ada ajaran besar di Yuanani hingga munculnya  ajaran Neoplatonis yang digagas oleh Plotinus yang lahir pada 250 M. Ajaran ini merupakan ajaran spiritual rasional. Artinya ajaran ini merupakan penyatuan yang cukup baik antara spiritualitas ajaran Plato dengan rasionalitas ajaran Aristoteles.

3.      Neoplatonis

 

Untuk  belajar filsafat Islam kita harus memahami dengan baik pemikiran mazhab Neoplatonis. Memang. Hampir semua filsuf Muslim dipengaruhi oleh Neoplatonis. Aliran ini juga adalah aliran yang sangat kaya dan matang karena dia mampu mengambil sari dari pemikiran-pemikiran Yunani sebelumnya. Posisi aliran Platonis yang mensintesiskan aliran-aliran filsafat Yunani sebelumnya hampir sama dengan kerja Mulla Sadra di dunia Islam yang mengkombinasikan segala aliran filsafat dan teologi Islam sebelumnya.
      Uniknya, karena pengaruh aliran mistik Timur barangkali, aliran ini mengajarkan kefanaan diri atau dikenal dengan 'salvation'. Ajaran ini di India  atau dalam tradisi Hindu dikenal dengan 'Moksha'.
    Salvation adalah cara mensucikan pikiran dengan berhenti berfikir tentang realitas eksternal dan memusatkan pikiran ke dalam diri. Cara ini dianggap sebagai cara terbaik untuk menyatu dengan Hakikat. Dalam rumah Islam, praktik seperti ini dikenal dengan suluk.
     Aliran Neoplatonis memperkenalkan konsep gradasi yang lebih mudah dipahami daripada paham gradasi lain milik pemikiran Yunani. 'One' dikenal sebagai sebab utama atau akal utama yang menyebabkan akal lainnya muncul.
     Ajara hampir sama persis seperti konsep emanasi Al-Farabi dalam filsafat Islam. Hakikat Wujud dikenal sebagai sumber kebaikan. Sesuatu yang semakin jauh akan semakin kurang baik. Maka tidak ada yang namanya 'buruk'. Buruk itu hanya sebagai sandangan bagi sesuatu yang jauh dari yang Baik. Toh, segalanya nanti akan kembali kepada yang Baik. Saya kira sebab itulah dikenal adanya neraka dalam pandangan agama.Neraka adalah jalan kembali bagi yang kurang baik kepada yang Baik.
     Sesuatu yang sangat jauh dengan Baik maka akan mengalami kehampaan. Kehampaan ini meniscarakan penyandang kurang baik secara alami mencari jalan kembali, jalan kembalinya adalah penyesalan diri yang disebut neraka.
     Pendiri mazhab Neoplatonis adalah Plotinus (204-270 M). Pada masa hidupnya, tentara Yunani membunuh raja demi bayaran dari seseorang lalu menjadikannya raja dan kembali membunuhnya bila ada pesanan lagi. Di perbatasan prajurut harus bersiaga guna mengantisipasi serbuan bangsa Arya, Jerman dari Utara dan Persia dari Timur. Kebobrokan negara yang korup dengan pajak yang luar biasa tinggi menyebabkan rakyat sengsara.Wabah penyakit yang membunuh kira-kira sepertiga warga makin memperparah keadaan. Setelah Plotinus mangkat, barulah keadaan mulai membaik.'
    Plotinus tidak pernah membicarakan kebobrokan bangsa yang dialaminya itu. Dia ingin berkonsenterasi pada sebuah dunia yang dia ciptakan dalam imajinasinya yang bertolak belakang dengan keadaan dunia yang ia hadapi. Dia menyatakan sudah tidak ada harapan akan kesejahteraan di dunia ini, maka kita perlu menemukan Dunia Lain yang indah, damai sesuai impian kita. Idenya ini sangat membahagiakan pengikut Plato kala itu, di mana Plato menjanjikan sebuah dunia yang luar biasa indah dan damai, yang menurut saya itu juga adalah imajinasinya semata yaitu Atlantis. Doktrin Negeri Damai Plato yang fiktif itu benar-benar kuat merasuki pikiran masyarakat sehingga mereka meyakininya sebagai nyata.
     Doktrin Plotinus sangat diterima pemeluk Kristen. Mereka menemukan kesamaan pemikiran itu dengan doktrin Kitab Suci tentang dunia lain bernama Kerajaan Surga. Pesismisme akan keadaan di masanya membuat ummat Kristen mengutuk dunia dan memfokuskan diri mencapai kebahagiaan kerajaan surga kelak.
     Doktrin Plotinus benar benar telah membentuk dasar teologi Kristen. Antara teologi Kristen dengan ajaran Plotinus tidak dapat dipisahkan. Hal ini terjadi karena kesamaan pahan antar masyarakat yaitu penganut pagan yang masih berpegang teguh pada ajaran Plato, masyarakat Kristen dan pengikut Plotinus atau Neoplatonis. Ketiga golongan ini sejalan secara prinsip sehingga membuat ajaran Neoplatonis sangat familiar.
     Suatu sumber mengatakan Plotinus lahirr di Mesir. Ia belajar di Alexandria hingga berusia 39. Dia berencara ikut pasukan ekspedisi melawan Persia dengan tujuan mempelajati agama-agama Timur yang esoteris. Rencananya itu batal, lalu dia hijrah ke Roma dan mengajar di sana. Di Roma dia diterima dengan baik oleh Kaisar. Dia mengemukakan idenya mendirikan sebuah kota sesuai imajinasi Plato. Kaisar yang awalnya menyetujui rencana itu merubah keputusannya.
     Hingga usia 49 Plotinus tidak menulis apapu. Setelah itu dia banyak menulis.Karya karyanya disususn dan disunting oleh seorang pengukut Phytagorean sehingga jiwa pemikiran Plotinus yang esoteris bercorak eksoteris.
    Meski hampir tidak pernah mengutip pendapat Aristoteles, namun pemikiran Plotinus tampak jelas dipengaruhi Aristoteles. Kepada Plato, Plotinus sangat menaruh hormat. Dia selalu memujinya dalam setiap kesempatan.
            Corak pemikiran Plotinus sangat idealis. Dia menyatakan Yang Esa sebagai sosok yang tidak membutuhkan apapun dari ciptaannya.Yang Esa tidak dapat dikatakan 'indah' karena aneka keindahan yang lebih tinggi dari 'indah' itu sendiri Dia lampaui. Dia tidak di mana-mana karena Dia meliputi segalanya. Dia hadir tanpa perlu tiba.
      'Nous' adalah istilah yang dipakai Plato untuk mengungkapkan suatu wujud (dalam) diri manusia yang menupakan gradasi  daripada Yang Maha Esa. 'Ruh' sebagai istilah yang paling tepat yang ditrima Russel membuat saya sangat sepakat sebab dalam pemahanan saya, sebagaimana Naquib Al-Attas menjelaskan, ruh adalah aktor tunggal untuk jiwa, hati dan akal.  Kehadirannya dapat dirasakan. Hanya melalui tindakanlah dirinya dapat terpahami. Melalui tindakan segala ungkapan tentang dirinya telah terdefenisikan. Karena itu saya kira shalat dan ibadah lainnya harus dilakukan manusia, untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Sebab, setiap yang mencintai cintanya itu tidak boleh dipendam, kalau dipemdam, sesak dada, merana badan. Bila diekspresikan melalui bahasa, maka akan absurd. Ekspresi itu adalah tindakan, shalat dan macam ibadah.
     Bila seseorang memfokuskan diri pada kedalaman dirinya, maka dia akan memperoleh kekuatan yang dapat dia rasakan namun tak mampu dia ungkapkan. Salvation membuat sesuatu di salam diri merasa dekat dengan Wujud Hakiki.
      Alam ini adalah karya daripada nous. Pandangan ini serupa dengan konsep Harun Yahya bahwa alam semesta adalah produk akal atau kesadaran.Kesadaran muncul karena kehadiran ruh. Namun begitu alam ini tidak boleh dianggap hina. Plotinus nengatakan nous itu indah dan mulia.Jadi alam adalah cermin dari keindahan nous.  Jebih dari itu, dimana kaum Gnosis sering keliru, ingatan nous akan Yang Ilahilah penyebabnya menciptakan alam, bukan karena kejatuhannya. Hal ini senada dengan sebuah hadits qudsi dimana Allah menyatakan bahwa alam adalah sarana bagi manusia mengenal Allah.
    Kaum Stoa menyatakan Alam sebagai Ilahi. Pandangan ini tidak keliru apalagi bila kita sepakat bahwa 'hukum alam' itu sebenarnya adalah 'hukum Allah'. Plotinus mengatakan segala fenomena alam akan mengingatkan kita pada Keagungan dan Keindahan Abadi. Al-Qur'an sangat sering menyatakan bahwa pada fenomena alam adalah ayat bagi pengamat yang mengamatinya dengan benar (ulil albab).  Bila melalui malaikat Allah melakukan banyak ''kerja'', maka melalui manusia Dia melakukan banyak karya. Itulah sebab manusia disebut Khalifah atau ''pengganti'' Allah. Setiap keunggulan karya manusia adalah bukti darpada kekuasaan Allah. 
     Gnosis menganggap alam ini adalah jelmaan dari sosok jahat yang sekaligus mencengkeramnya.Ini membawa keyakinan bahwa alam adalah musuh manusi.Tampaknya paham ini adalah warisan paganisme yang menyembah benda-benda alam karena ketakutan dan menghindari murkanya.
     Dilihat dari tingginya spiritualias ajaran, tampaknya ajaran Plotinus layak digolongkan kepada ajaran teosentris. Tetapi ajaran Plotinus ini tidak berbasis kitab suci atau doktrin agama, tetapi berbasis daya manusia. Orientasi filsafat ini juga bukan doktrin agama seperti penyerahan diri pada Tuhan atau sebaliknya tetapi pembebasan manusia itu sendiri. Karene alas an ini, maka ajaran Neoplatonis dimasukkan bersama ajaran Antroposentrisme.